POJOKSATU.id - Banyak kisah cinta Soekarno yang menarik. Bukan hanya cerita populer saat ditolak oleh gadis cantik pribumi Gusti Noeroel.
Soekarno juga pernah punya kisah cinta dengan Mien Hessels, seorang noni Belanda.
Kisah cinta Soekarno dengan Mien Hessels terjadi saat melanjutkan sekolah Hogere Burger School (HBS) di Surabaya.
Saat itu Soekarno berusia 18 tahun. Biasa dipanggil Koesno. Kisah cinta dengan Mien Hessels adalah impian terbesar Koesno sebagai pemuda pribumi.
“Aku mendambakannya dengan penuh gairah dan aku sampai pada kesimpulan, aku harus mengawininya,” kata Soekarno seperti ditulis dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia.
Soekarno muda, yang sudah berstatus pelajar HBS, tergila-gila pada gadis Belanda yang cantik-cantik.
Disanalah ia bertemu si noni cantik bernama Mientje Hessels alias Maria Gesina Wilhelmina, lahir pada tahun 1902, anak dari Thomas Wiggert Hessels dari Amsterdam.
Pada tahun 1899 Thomas bergabung dengan angkatan laut di Surabaya sebagai masinis.
Karenanya, Mien Hessels bersekolah di HBS Surabaya.
Kebiasaannya, sepulang sekolah ia bekerja di Javaansche Hypotheekbank dan di toko buku Ingen.
Sebelum mengenal Mien Hessels, Koesno mudah sekali jatuh cinta pada noni-noni Belanda.
Selama menempuh pendidikan HBS di Surabaya, Koesno kerapkali menjalin hubungan asmara dengan gadis-gadis asal negeri penjajah itu.
“Hanya inilah satu-satunya cara yang kuketahui untuk menunjukkan keunggulanku terhadap bangsa kulit putih dan membinkin mereka tunduk pada keinginanku,” begitu alasan Soekarno.
Dalam buku itu, Soekarno juga menyebutkan nama-nama gadis yang pernah menjalin kisah cinta dengannya.
Baca Juga: Kisah Soekarno Larang Grup Musik The Beatles di Indonesia, Sampai Gelar Razia Rambut Gondrong
Ada Pauline Gobee, anak salah seorang gurunya. Juga ada Laura, yang dalam keterangan lain namanya adalah Laura Fikenscher.
Soekarno juga menjalin kisah cinta dengan putri-putri cantik kakak beradik dari keluarga Raat. Mereka semua adalah idaman Koesno.
”Menaklukan seorang gadis kulit putih dan membuatnya tergila-gila padaku adalah soal kebanggaan,” ungkap Soekarno.
Namun, sejak Soekarno bertemu dengan Mien Hessels, noni-noni Belanda lainnya terhapus dari kehidupannya.
Ia begitu mabuk cinta kepada gadis yang disebut Soekarno sebagai 'bunga tulip berambut kuning dan berpipi merah muda'.
Mien Hessels selalu dicegat Soekarno dengan mencuri-curi perhatian saat mau naik atau turun dari trem. “Aku rela mati untuknya, jika dia menginginkannya,” katanya.
Soekarno sangat tergila-gila kepada Mien. Ke mana pun Soekarno pergi, Mien selalu diajak dan dibonceng dengan sepeda.
Karena cinta yang begitu mendalam, Soekarno muda dengan nekad melamar noni Belanda tersebut.
Hati Koesno bergemuruh. Tekad untuk mendapatkan Mien Hessels ia bulatkan dengan rencana mendatangi ayahnya.
Benar saja, dengan berpakaian rapi dan memilih yang paling bagus, Koesno datang ke rumah keluarga Mien Hessels, sambil tegang karena ketakutan.
Koesno yang kerap kali bertamu, tak pernah mengalami gelisah seperti saat itu. Tapi keinginannya yang kuat membawa ia berani mendatangi rumah Belanda dengan pekarangan penuh pohon hijau itu.
“Aku tidak punya topi untuk dipegang, karena itu sebagai gantinya aku memegang hatiku,” ungkap Soekarno mengenang peristiwa menegangkan tersebut.
Di teras rumah Hessels, seorang pria tinggi besar sudah berdiri. Dialah ayahanda Mien Hessels yang memandang Soekarno dengan ekspresi tidak senang.
Baca Juga: Kartini Manoppo, Sosok dalam Lukisan Basuki Abdullah yang Membuat Soekarno Jatuh Cinta
Meskipun demikian, Soekarno tetap nekat menghampiri. Dengan badannya bergetar dan sangat gugup, Soekarno menyampaikan permintaan untuk meminang Mien sambil terbata-bata.
“Tuan,” ucap Koesno, ketika sudah berhadapan dengan ayah Mien Hessels dengan tatapan yang tajam.
“Tuan, kalau tuan tidak berkeberatan, saya ingin minta anak tuan dalam ikatan perkawinan,” ucap Soekarno.
Sudah diduga, ayah Hessels membentak Soekarno.
“Kamu? Inlander kotor seperti kamu?” kata tuan Hessels. “Berani-beraninya kamu mendekati anakku. Keluar, kamu binatang kotor. Keluar!”
Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno dan Sakiko Kanase, Ibu Negara Asal Jepang yang Namanya Terlupakan
Kata-kata kasar Thomas, ayah Mien Hessels membuat Koesno sangat terpukul. “Perihnya terasa sedemikian hebat, sehingga saat itu aku berpikir: Ya Tuhan, aku tak akan dapat melupakan ini.”
Hingga pada suatu masa yang berubah pada tahun 1942, masa pendudukan Jepang, Sukarno dipertemukan kembali dengan Mien Hessels.
Saat itu, Bung Karno baru tiba dari pengasingan di Bengkulu dan tengah jalan-jalan di Jakarta.
Tiba-tiba, dia disapa oleh sosok wanita Belanda gemuk, tua, dan tidak rupawan. "Soekarno," ujar perempuan itu, lalu tertawa terkekeh-kekeh.
"Dapatkah kau menebak siapa aku?" tanya wanita itu pada Bung Karno.
“Tidak nyonya, tidak dapat. Siapa Anda?”
“Mien Hessels,” dia terkekeh lagi.
“Huhhh! Mien Hessels!” kata Soekarno yang diceritakan di buku otobiografinya itu.
Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno dengan Hartini, Janda 5 Anak yang Setia Dampingi Bung Karno Hingga Tiada
“Ratuku yang cantik seperti bidadari itu sudah berubah menjadi perempuan sihir," kata Soekarno spontan.
Tapi dengan cepat, Soekarno membalas salam dan terus berjalan sambil mengucap syukur.
Baginya, caci maki yang pernah dilontarkan ayah Mien Hessels dulu sesungguhnya merupakan rahmat terselubung. "Aku berterima kasih atas perlindungan Tuhan," ujar Sukarno dalam hati.
Pertemuan berikutnya pada tahun 1956 lebih ramah, yaitu setelah Soekarno memproklamasikan kemerdekaan dan menjabat sebagai Presiden RI pertama, ia sibuk mengunjungi berbagai tempat di Indonesia untuk memahami kondisi rakyatnya.
Salah satu tempat yang dikunjungi adalah Kota Surabaya, kota kelahirannya. Di tempat itu, Soekarno sengaja menemui Mien, gadis Belanda yang pernah ditaksirnya semasa remaja.
Ternyata, selama pendudukan Jepang dan masa agresi militer Belanda, Mien Hessels aktif dalam mengelola rumah perawatan anak cacat yang bernama Jajasan Pertolongan kepada Anak Tjatjat (JPAT).
Pertemuan mereka berlangsung hangat dan jauh lebih dewasa. Soekarno sempat memeluk Mien Hessels, wanita yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. ***

