POJOKSATU.id — Di Kufah, hiduplah seorang pemuda tampan yang dikenal akan ketakwaan dan kegigihannya dalam beribadah.

Suatu hari, dalam sebuah perjalanan ke perkampungan Bani An-Nakha’, ia melihat seorang wanita yang begitu cantik jelita.

Seketika, hatinya jatuh cinta. Tak disangka, perasaan itu berbalas. Keduanya saling mencintai dengan begitu dalam.

Didorong oleh rasa cinta yang membara, pemuda itu memberanikan diri untuk melamar sang wanita melalui perantara.

Namun, ayah sang gadis menolak lamarannya, karena putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Meski kenyataan pahit ini harus diterima, perasaan cinta mereka tetap berkobar.

Baca Juga: Kisah Abu Hanifah dan Pengemis Malas, Tiap Hari Melemparkan Sekantong Uang dan Berikan Nasihat, Ini yang Terjadi Selanjutnya

Tak mampu menahan gejolak hatinya, sang wanita mengirimkan pesan kepada pemuda itu melalui seorang perantara.

Pesannya berbunyi, “Aku tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan aku pun diuji dengan perasaan yang sama terhadapmu. Jika kau setuju, aku akan datang menemuimu, atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk menemuiku di rumahku.”

Namun, pemuda itu menjawab dengan teguh, “Aku tidak setuju dengan kedua pilihan itu. Sungguh, aku takut berbuat maksiat kepada Rabbku, karena aku khawatir akan azab yang menimpaku di hari yang besar.”

Ia pun mengutip firman Allah dalam Surah Yunus ayat 15, ‘Aku takut pada api yang nyala-nyalanya tidak pernah padam.’

Mendengar jawaban itu, sang wanita tersentak. Ia tersadar bahwa pemuda itu benar-benar takut kepada Allah.

Dalam hatinya, ia berkata, “Jika dia takut kepada Allah, mengapa aku tidak? Bukankah semua hamba berhak untuk bertakwa kepada-Nya?”

Sejak saat itu, ia meninggalkan segala urusan duniawinya dan mulai mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah dengan sungguh-sungguh.

Baca Juga: Kisah PERDEBATAN KEREN Abu Hanifah dan Ilmuwan Kafir di Atas Mimbar, Mempertahankan Keislaman dengan Jawaban Bijak dan Logika yang Tajam

Namun, di dalam hatinya, rasa cinta dan rindu terhadap pemuda itu tak kunjung padam.

Hari demi hari berlalu, rindu yang terus terpendam melemahkan tubuhnya.

Ia semakin kurus hingga akhirnya meninggal dunia dalam keadaan tetap menjaga kesucian cintanya. Mendengar kabar duka itu, sang pemuda begitu terpukul.

Ia sering mengunjungi makamnya, menangis, dan mendoakannya dengan penuh ketulusan.

Suatu malam, ia tertidur di atas makam sang wanita dan bermimpi bertemu dengannya dalam keadaan yang begitu indah.

Dalam mimpi itu, ia bertanya, “Bagaimana keadaanmu sekarang? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Sang wanita tersenyum dan menjawab, “Cinta yang paling baik, wahai orang yang bertanya, adalah cinta yang menuntun menuju kebaikan.”

Baca Juga: Kisah Orang Badui Masuk Surga TANPA HISAB, Zikirnya Diikuti, Merasa Diolok-olok, Ia Lalu Bertanya, Betapa TERKEJUTNYA Ternyata yang DIhadapinya ...

Pemuda itu bertanya lagi, “Jika demikian, ke mana kau akan pergi?” Wanita itu menjawab, “Aku menuju kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir, di surga yang abadi dan tak akan pernah rusak.”

Dengan penuh harap, pemuda itu berkata, “Aku berharap kau tidak melupakan aku di sana, karena di sini pun aku tak pernah melupakanmu.”

Wanita itu menjawab, “Demi Allah, aku pun tak melupakanmu. Aku telah memohon kepada Tuhanku agar kita dapat dipertemukan kembali di akhirat. Maka, bantulah aku dengan kesungguhanmu dalam beribadah.”

Tujuh hari setelah mimpi itu, pemuda tersebut meninggal dunia, memenuhi janjinya kepada Allah dan menyusul cinta sejatinya ke surga.