POJOKSATU.ID - Presiden pertama Indonesia, Soekarno enggan kisah hidupnya ditulis dalam sebuah buku, sebelum Cindy Adams, jurnalis cantik asal New York meluluhkan hatinya.
Duta Besar AS untuk Indonesia kala itu, Howard Jones berteman dengan Soekarno. Ia sering datang mengunjungi sang presiden.
Tujuan Jones berteman adalah untuk membujuk Soekarno agar mau menuliskan biografinya.
Soekarno selalu menolak karena menurutnya kisah hidupnya masih panjang, belum layak ditulis dalam sebuah buku.
Jones berupaya membujuk Soekarno dengan cara diwawancara dan mendatangkan petugas pers Istana Presiden Siel Rohmulyati. Namun, Soekarno tetap menolak.
Keengganan Soekarno akhirnya luluh ketika pada tahun 1961 ia bertemu dengan jurnalis cantik asal New York Amerika Serikat, Cindy Adams yang sedang ke Jakarta menemani suaminya.
Baca Juga: Hanya Anis Baswedan yang Bisa Wawancara Langsung Ibu Tien Soeharto, Sempat Dimarah-marahi Dulu
Paras cantik Cindy, penampilan rapi, memiliki rasa humor tinggi dan menawan membuat keteguhan hati Soekarno goyah.
Seokarno pun akhirnya bersedia untuk diwawancara dan Cindy dibolehkan menulis biografi Presiden pertama Republik Indonesia itu.
Sikap Soekarno itu pun cukup membingungkan, mengingat Cindy Adams adalah jurnalis Amerika Serikat, sementara pers Amerika kala itu dikenal ganas kepada Bung Karno.
Di sisi lain Bung Karno tengah galak-galaknya mengumandangkan anti-imperialisme.
Tetapi kepada bekas cheerleader ini Soekarno seolah-olah tak menyembunyikan segala sesuatu, mulai dari masa kecil sampai istri-istrinya.
“Sebuah buku yang kemudian terbukti sangat populer. Membentuk citra Soekarno sampai hari ini. Soekarno yang pecinta wanita, Soekarno yang Marhaen, Soekarno yang penuh selera tinggi pada kesenian. Seorang Soekarno yang penuh warna,” tulis Tempo.
Cindy Adams datang ke Indonesia untuk menyelesaikan wawancara untuk biografi Soekarno, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat antara 1961 dan 1964. Dirinya menginap di Hotel Indonesia, lalu pagi harinya datang ke Istana Negara.
Baca Juga: Hafidin Royan, Pahlawan Reformasi 1998, Tewas Ditembak Saat Kerusuhan di Kampus Trisakti
“Saya dijemput mobil, saya lupa mereknya, Maxwell atau apa, tapi pokoknya berwarna hijau,” ingat Cindy.
Proses wawancara Cindy Adams dan Soekarno ini sendiri dikisahkan Sukmawati Soekarno.
Putri Soekarno itu ingat betul Cindy Adams sering mengenakan baju merah saat mewawancarai ayahnya.
Menurut Sukma, Cindy adalah jurnali cantik dan elegan dengan bolpoinnya yang bergambar bunga merah.
Adapun tempat berlangsungnya wawancara itu sesungguhnya teras istana yang biasa dipakai Soekarno sarapan. Sukma pun paham mengapa Bung Karno memilih Cindy sebagai penulis riwayat hidupnya.
“Bayangin, setiap hari Bapak harus ngobrol curhat sama seseorang. Kalau laki-laki, ya, wegah lah. Kalau wanita cantik internasional kan semangat, ya,” ucapnya.
Baca Juga: Kisah Cinta Romantis Jendral Sudirman, Rayuan Maut dan Kesetiaan Hingga Akhir Hayat
Sebetulnya Bung Karno pernah menginginkan Willem Oltmans, sahabatnya, sejarawan dari Belanda untuk menuliskan biografinya, tetapi Oltmans tak menanggapi.
Makanya, Duta Besar Amerika menyakinkan Cindy Adams agar mau mewawancarai Bung Karno.
Konon, sepanjang wawancara, tidak ada hal yang dilarang dipublikasikan oleh Bung Karno. Hingga hari ini, buku Cindy menjadi rujukan bagi orang-orang yang ingin membahas Soekarno.
“Buku itu mampu menyajikan bagaimana Soekarno melihat dirinya sendiri. Dalam buku itu Soekarno seperti mengatakan inilah saya,” jelas sejarawan Taufik Abdullah.
Buku itu terbit pada 1965, sebulan setelah peristiwa 30 September. Setelah penerbitan itu, Cindy pernah dua kali datang ke Indonesia, yaitu pada 1974 dan 1983. Dia mengaku masih takut datang ke Indonesia saat itu.
“Saya masih agak takut karena saya dianggap Soekarnois,” kata Cindy.
Setelah buku Bung Karno, dia tak menulis buku biografi lainnya. Dia dikenal dekat dengan Imelda Marcos, dan pernah mewawancarai Shah Iran, tapi tak pernah membuat buku kedua tokoh tersebut.
Cindy kemudian menjadi kolumnis gosip di New York Post, sejak 1979. Dia menulis skandal-skandal dan hal-hal picisan artis. Hingga dijuluki Ratu Gosip New York.***

