POJOKSATU.id — Suatu hari, Imam Abu Hanifah berjalan melewati sebuah rumah dengan jendela yang terbuka.

Tiba-tiba, telinganya menangkap suara rintihan penuh kesedihan.

Dari dalam rumah itu, terdengar keluhan seseorang yang menangis tersedu-sedu, “Aduhai, betapa malangnya nasibku ini. Sejak pagi, tak ada sesuap nasi yang menyentuh tenggorokanku.

Badanku lemas, dan tiada seorang pun yang peduli kepadaku. Oh, di manakah hati yang penuh belas kasih yang sudi memberiku seteguk air?”

Mendengar keluhan pilu itu, hati Abu Hanifah tersentuh.

Baca Juga: Kisah Sya'ban dan TIGA PENYESALAN di Akhir Hayatnya, Selalu Salat Subuh Berjamaah, Ingin Terbaik dalam Amal Kebaikan

Dengan niat menolong, ia pun kembali ke rumahnya, mengambil sekantong uang, lalu segera menuju rumah si pengeluh.

Tanpa berkata-kata, ia melemparkan bungkusan itu ke dalam rumah dan melanjutkan perjalanannya.

Orang di dalam rumah terkejut melihat sekantong uang yang entah dari mana datangnya.

Dengan penuh penasaran, ia membuka bungkusan itu dan menemukan secarik kertas bertuliskan: "Hai manusia, tidaklah pantas engkau meratapi nasib sedemikian rupa.

Janganlah engkau hanya mengeluh dan berputus asa. Ingatlah akan kemurahan Allah, dan berdoalah kepada-Nya dengan sungguh-sungguh. Jangan biarkan keputusasaan menguasai hatimu, tetapi berusahalah terus."

Baca Juga: Kisah Abdurrahman bin Auf Sahabat Nabi yang Berusaha MENJADI MISKIN, Takut Kekayaan Menjadi Penghalang ke Surga

Keesokan harinya, Imam Abu Hanifah kembali melewati rumah itu.

Lagi-lagi, ia mendengar keluhan yang sama, tetapi kali ini dengan nada yang lebih berharap, “Ya Allah Yang Maha Pengasih dan Pemurah, berilah aku bungkusan seperti kemarin, agar aku dapat bertahan hidup.”

Mendengar permohonan itu, Abu Hanifah tersenyum kecil, lalu kembali melemparkan bungkusan yang sama ke dalam rumah.

Baca Juga: Kisah Sedekah Seorang Hamba, Keajaiban Hujan di Tengah Padang Pasir, Kebunnya Tumbuh Subur dan Panen Selalu Melimpah

Dengan girang, orang itu segera membuka bungkusan tersebut dan menemukan uang serta sepucuk surat.

Kali ini, surat itu berisi pesan yang lebih tegas: "Hai kawan, bukan begini caranya meminta dan berusaha. Malas bukanlah jalan keluar, dan berputus asa bukanlah sikap seorang hamba yang bertakwa.

Tuhan tidak menyukai orang yang malas bekerja dan enggan berusaha. Ingatlah, kebahagiaan tidak datang sendiri, ia harus dicari dan diusahakan.

Hidup bukan sekadar duduk diam, melainkan berjuang dengan penuh keyakinan. Bangkitlah, carilah pekerjaan yang halal, dan jangan hanya berharap bantuan tanpa usaha."

Baca Juga: Kisah Uzair, Tidur Selama 100 Tahun, Hikmah Bukti Kebesaran Allah Menghidupkan yang Mati

Membaca pesan itu, orang tersebut termenung lama. Hatinya tersentak oleh teguran itu, dan ia mulai menyadari kesalahannya.

Selama ini, ia hanya bergantung pada belas kasihan orang lain tanpa berusaha memperbaiki hidupnya sendiri.

Keesokan harinya, dengan semangat baru, ia keluar dari rumahnya untuk mencari pekerjaan.

Sejak hari itu, ia tidak lagi mengeluh, melainkan berusaha dengan sungguh-sungguh, mengikuti sunnatullah dalam kehidupan.

Ia tak lagi melupakan nasihat bijak yang telah mengubah jalan hidupnya.

Baca Juga: Kisah Pemuda Menjadi RAJA SEHARI, Kesempatan yang Disia-siakan, Petik Hikmah Jangan Sampai Menyesal di Akhirat

Dalam Islam, tidak ada istilah pengangguran yang pasrah tanpa usaha.

Islam mengajarkan umatnya untuk terus maju, bukan hanya menunggu keajaiban tanpa ikhtiar.

Sebab, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang berusaha mengubahnya. ***