POJOKSATU.id — Para sahabat Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai orang-orang yang mulia dan beriman teguh kepada ajaran Islam.
Mereka menerima setiap perintah Nabi tanpa keraguan, karena mereka menyadari bahwa perintah tersebut berasal dari Allah SWT.
Salah satu sahabat yang istimewa adalah Abdurrahman bin Auf, yang dikenal sebagai sahabat paling kaya dan telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah.
Namun, di balik kekayaannya yang melimpah, Abdurrahman bin 'Auf tidak pernah merasa tenang.
Ia justru sering menangis karena hartanya. Bukan karena takut kehilangan, tetapi karena khawatir harta itu akan menghalanginya untuk meraih surga.
Ia menyadari bahwa kekayaan bisa menjadi ujian berat dalam beribadah kepada Allah SWT.
Di masa Rasulullah SAW, Abdurrahman bin 'Auf terkenal sebagai dermawan yang luar biasa.
Ia pernah menyedekahkan separuh hartanya, lalu memberikan lagi 40.000 dinar untuk kepentingan umat.
Namun, justru kekayaannya yang semakin bertambah membuatnya merasa resah.
Ia bahkan berusaha menjadi miskin setelah mendengar sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam berbagai sumber, bahwa Abdurrahman bin 'Auf akan masuk surga paling akhir karena kekayaannya.
Hal ini membuatnya takut akan hisab yang panjang dan sulit.
Suatu ketika, setelah Perang Tabuk, banyak kurma di Madinah membusuk dan kehilangan nilai jual.
Dalam situasi ini, Abdurrahman bin 'Auf justru membeli kurma-kurma tersebut dengan harga normal.
Para sahabat merasa bersyukur karena barang yang mereka kira tak berharga justru dibeli olehnya.
Namun, rencananya untuk menjadi miskin tidak berjalan sesuai keinginan.
Tak lama setelah itu, utusan dari Yaman datang ke Madinah untuk mencari kurma busuk, karena di negerinya sedang terjadi wabah penyakit menular.
Diketahui bahwa kurma busuk dapat menjadi obat bagi penyakit tersebut.
Raja Yaman pun membeli kurma busuk dari Abdurrahman bin 'Auf dengan harga sepuluh kali lipat dari harga kurma biasa. Alih-alih jatuh miskin, ia justru semakin kaya.
Tindakan dermawan Abdurrahman bin 'Auf bahkan membuat Umar bin Khattab menegurnya, "Sungguh aku melihat Abdurrahman bin 'Auf telah berdosa.
Ia telah menyumbangkan seluruh hartanya tanpa menyisakannya untuk keluarganya."
Mendengar hal itu, Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya, "Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluargamu, wahai Abdurrahman?"
Dengan penuh keyakinan, Abdurrahman bin 'Auf menjawab, "Ya, aku bahkan meninggalkan untuk mereka sesuatu yang lebih banyak."
Rasulullah kembali bertanya, "Berapakah jumlahnya?"
Dengan ikhlas, ia pun menjawab, "Sebanyak janji Allah dan Rasul-Nya, yakni berupa balasan kebaikan, pahala, dan ganjaran."
Kisah hidup Abdurrahman bin 'Auf memberikan banyak pelajaran berharga bagi kita.
Harta yang berlimpah bukanlah alasan untuk bersikap sombong, karena sejatinya semua harta hanyalah titipan Allah SWT.
Kekayaan seharusnya digunakan untuk kebaikan, bukan sekadar untuk memenuhi keinginan pribadi.
Dalam setiap rezeki yang kita miliki, terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.
Sedekah yang diberikan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah kita meninggal dunia. ***

