POJOKSATU.id — Abdullah bin Zubair, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Zubair, merupakan salah satu dari as-Sabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang pertama kali memeluk Islam.
Ia lahir dari pasangan Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar, keluarga yang dikenal dengan keteguhan iman dan keberanian mereka.
Ketika Rasulullah SAW hijrah ke Madinah untuk menghindari kekejaman kaum Quraisy, Asma binti Abu Bakar tengah mengandung.
Mereka turut berhijrah bersama rombongan kaum muslimin.
Tidak lama setelah tiba di Madinah, pada tahun 624 M, Ibnu Zubair lahir, menjadikannya bayi muslim pertama yang dilahirkan di kota suci tersebut.
Kehadirannya membawa kegembiraan bagi kaum muslimin, yang saat itu tengah berjuang membangun komunitas Islam yang baru.
Baca Juga: KIsah Luqman dan Putranya, Bergantian Naik Keledai Menuju Pasar, Begini Hikmah yang Bisa Dipetik
Keberanian Sejak Kecil
Sejak kecil, Ibnu Zubair dikenal sebagai anak yang pemberani dan cerdas.
Dikisahkan bahwa ketika ia sedang bermain di jalanan Madinah bersama teman-temannya, mereka dikejutkan oleh kehadiran Khalifah Umar bin Khattab.
Takut akan kewibawaan Umar, anak-anak lain berlarian dan bersembunyi. Namun, Ibnu Zubair tetap berdiri tegak tanpa gentar.
Umar pun bertanya, "Mengapa engkau tidak ikut bersembunyi seperti teman-temanmu?"
Dengan tenang, Ibnu Zubair menjawab, "Mengapa aku harus bersembunyi, wahai Amirul Mukminin? Aku tidak bersalah kepadamu."
Jawaban itu membuat Umar bin Khattab kagum, hingga beliau berkata, "Sungguh, kelak engkau akan menjadi orang besar."
Memang, Ibnu Zubair tumbuh sebagai seorang pejuang tangguh.
Baca Juga: Kisah Pemuda Beriman, Antara Ajaran Rahib atau Tukang Sihir
Dalam Perang Uhud, meskipun masih sangat muda, ia turut serta dalam melindungi Rasulullah SAW di saat genting.
Keberaniannya setara dengan para sahabat senior yang telah lama berjuang di medan perang.
Sang Syuhada
Di masa pemerintahan Dinasti Umayyah yang dipimpin oleh Abdul Malik bin Marwan, Ibnu Zubair menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang dianggapnya tidak adil.
Abdul Malik mengutus Hajjaj bin Yusuf untuk mengepung Mekah dengan tujuan menundukkan perlawanan Ibnu Zubair.
Pengepungan berlangsung selama delapan bulan tujuh belas hari. Kota suci itu dihujani bola api dari ketapel perang yang menghancurkan kayu-kayu di sekitar Ka’bah.
Baca Juga: Kisah Ikrimah Al Qurasyi, Mantan Budak yang Menjadi Ahli Tafsir Terkemuka
Setelah pertahanan Mekah runtuh, Ibnu Zubair tertangkap dan akhirnya dieksekusi.
Hajjaj bin Yusuf memenggal kepalanya dan mengirimkannya kepada Abdul Malik di Damaskus, sementara tubuhnya disalib.
Asma binti Abu Bakar, yang saat itu telah berusia 100 tahun, menyaksikan kematian putranya dengan hati yang teguh.
Ia dengan penuh ketegaran membawa jasad Ibnu Zubair seorang diri ke Madinah untuk dimakamkan, sebuah gambaran kasih sayang ibu yang tak tergantikan. ***

