POJOKSATU.id - Mei 1998 menjadi salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Indonesia modern.
Krisis ekonomi, demonstrasi mahasiswa, hingga kerusuhan sosial membuat situasi nasional berada dalam tekanan besar.
Pada 21 Mei 1998 pagi, Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatan Presiden Republik Indonesia setelah memimpin selama lebih dari tiga dekade.
Baca Juga: ITS Jadi Satu-satunya Kampus Indonesia di Forum Global Rusia, Perkuat Langkah Menuju Kampus Mendunia
Berdasarkan konstitusi, Wakil Presiden saat itu, B. J. Habibie, kemudian dilantik sebagai Presiden RI ketiga.
Di tengah situasi politik yang belum stabil, salah satu peristiwa penting pada awal Reformasi adalah pergantian Prabowo Subianto dari jabatan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad).
Pertemuan Awal Prabowo dan Habibie
Pada sore hari setelah pelantikan Presiden, Prabowo mendatangi Habibie untuk menyampaikan ucapan selamat.
Baca Juga: Kemenag Buka PKDP dan Sertifikasi Dosen PTKI 2026, Simak Syarat hingga Jadwal Lengkapnya
Dalam sejumlah wawancara yang dipublikasikan di kemudian hari, Prabowo menyebut hubungan mereka saat itu berlangsung baik.
Malam harinya, Prabowo kembali menemui Habibie bersama Muchdi Purwopranjono.
Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas situasi politik dan militer pasca-pengunduran diri Soeharto.
Prabowo juga menyampaikan pandangannya mengenai konfigurasi kepemimpinan militer saat itu, termasuk usulan terkait posisi Panglima ABRI dan Kepala Staf Angkatan Darat.
Baca Juga: Prabowo Sebut Gaji Guru hingga ASN Kecil Akibat Kekayaan Negara Mengalir ke Luar Negeri
Situasi politik ketika itu memang bergerak sangat cepat. Pergantian kekuasaan nasional diikuti berbagai dinamika internal di lingkungan pemerintahan maupun militer.
Habibie Pertahankan Wiranto sebagai Pangab
Pada pagi 22 Mei 1998, Habibie memutuskan mempertahankan Wiranto sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima ABRI dalam Kabinet Reformasi Pembangunan.
Masih pada hari yang sama, Wiranto meminta bertemu empat mata dengan Habibie di Istana Merdeka.
Dalam memoarnya Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi (2006), Habibie menulis bahwa Wiranto melaporkan adanya pergerakan pasukan Kostrad menuju Jakarta tanpa koordinasi dengan pimpinan ABRI.
Pasukan disebut bergerak menuju sejumlah titik di Jakarta, termasuk kawasan Kuningan dan sekitar Istana Merdeka.
Habibie kemudian menilai situasi tersebut perlu segera ditangani mengingat kondisi nasional yang masih sangat sensitif setelah pergantian kekuasaan.
Baca Juga: Satreskrim Polresta Cirebon Amankan 23 Motor Curian, dari Hasil pengungkapan 11 kasus perkara
Keputusan Pergantian Pangkostrad
Setelah menerima laporan tersebut, Habibie memerintahkan agar posisi Pangkostrad segera diganti pada hari itu juga.
“Sebelum matahari terbenam, Pangkostrad harus sudah diganti,” tulis Habibie dalam memoarnya.
Ketika Wiranto menanyakan sosok pengganti, Habibie menyerahkan keputusan itu kepada Panglima ABRI.
Dalam proses berikutnya, posisi Pangkostrad sementara dijabat Johny Lumintang sebelum kemudian diserahkan kepada Djamari Chaniago.
Baca Juga: Pesan Menteri Agama Nasaruddin Umar Saat Melantik 16.138 PNS Kementerian Agama
Pertemuan Kedua di Istana Merdeka
Pada hari yang sama, Prabowo mengetahui adanya pergantian jabatan di lingkungan Kostrad setelah menerima informasi dari Markas Besar Angkatan Darat.
Menjelang sore, ia mendatangi Istana Merdeka untuk menemui Habibie secara langsung.
Dalam sejumlah penuturan yang dipublikasikan kemudian, Prabowo menggambarkan suasana Istana saat itu berlangsung tegang.
Sebelum memasuki ruangan Presiden, ia menyerahkan senjatanya sesuai prosedur militer.
Dalam pertemuan tersebut, Habibie menyampaikan bahwa pergantian jabatan Pangkostrad memang telah diputuskan.
Prabowo kemudian meminta agar proses pergantian dilakukan dengan mempertimbangkan stabilitas pasukan di lapangan.
Baca Juga: Solusi Atasi Masalah Data Kepala Sekolah PLT Kosong pada Verval Bantuan Digitalisasi Sekolah !
Namun keputusan pergantian tetap dijalankan pada hari itu juga sesuai arahan Presiden.
Menurut catatan Habibie, sebelum pertemuan berakhir, keduanya sempat berbicara secara pribadi dan menutup percakapan dengan saling menghormati.
Reformasi dan Perubahan di Tubuh Militer
Setelah pergantian Pangkostrad, reformasi internal di tubuh militer terus berlangsung.
Sejumlah perwira mengalami rotasi jabatan dan penyesuaian struktur organisasi dalam masa transisi Reformasi.
Pada Juni 1998, Syafrie Sjamsoeddin digeser dari jabatannya sebagai Pangdam Jaya.
Sementara Muchdi dan sejumlah perwira lainnya juga mengalami pergantian jabatan setelah pembentukan Dewan Kehormatan Perwira.
Baca Juga: Developer Properti Wajib Tahu, Ternyata KYG Bisa Jadi Kunci Percepatan Proyek Perumahan
Pemerintah kemudian membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki rangkaian kerusuhan Mei 1998 di sejumlah kota besar Indonesia.
TGPF menyusun berbagai temuan dan rekomendasi terkait situasi politik, keamanan, serta rangkaian peristiwa yang terjadi pada masa transisi Reformasi.
Reformasi dan Titik Balik Sejarah Indonesia
Pergantian Prabowo dari jabatan Pangkostrad menjadi salah satu episode penting dalam masa awal Reformasi Indonesia.
Dalam waktu singkat setelah pengunduran diri Soeharto, Indonesia mengalami perubahan besar dalam struktur politik dan militer.
Banyak keputusan penting diambil dalam suasana penuh tekanan dan ketidakpastian.
Periode Reformasi 1998 kemudian menjadi titik balik sejarah nasional yang mengubah arah demokrasi, hubungan sipil-militer, dan perjalanan politik Indonesia pada era berikutnya. ***

