POJOKSATU.id – Hari ini orang mengenalnya sebagai flexing. Media sosial dipenuhi foto mobil mewah, tas bermerek, jam tangan mahal, hingga liburan ke berbagai belahan dunia.

Tidak sedikit pula pejabat atau keluarganya yang akhirnya menjadi sorotan publik setelah kemewahan yang mereka tampilkan memunculkan pertanyaan sederhana: dari mana semua kekayaan itu berasal?

Sekilas, fenomena tersebut terasa sangat modern. Padahal, jika menengok hampir tiga abad ke belakang, Batavia pernah mengalami persoalan yang hampir serupa.

Baca Juga: Geger Cilegon, Pemberontakan Petani Banten 1888, Saat Golok dan Tombak Menantang Kekuasaan Kolonial

Kala itu belum ada Instagram, TikTok, maupun X. Namun, hasrat manusia untuk menunjukkan status sosial ternyata sudah sama besarnya.

Jalan-jalan utama Batavia menjadi panggung pertunjukan kemewahan.

Ketika Batavia Menjadi Kota Orang-Orang Kaya Baru
Pada pertengahan abad ke-18, Batavia merupakan jantung pemerintahan dan perdagangan VOC di Asia.

Kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia singgah membawa rempah-rempah, sutra, porselen, hingga berbagai komoditas bernilai tinggi. Uang berputar dalam jumlah besar.

Baca Juga: Sosok Saepullah Pelaku dan Korban Mutilasi di Pancoran Mas Depok Diduga Penyuka Sesama Jenis

Di tengah arus perdagangan itu, lahirlah kelompok elite baru.

Sebagian adalah pejabat VOC, sebagian lagi pedagang yang memperoleh keuntungan besar dari jaringan perdagangan kolonial.

Tidak sedikit pula yang memperkaya diri melalui praktik-praktik yang melanggar aturan, mulai dari penyelundupan hingga penyalahgunaan jabatan.

Kekayaan yang terkumpul kemudian tidak hanya disimpan.

Ia dipertontonkan.

Kereta kuda dihias semewah mungkin. Pakaian berbahan sutra Eropa dikenakan meski cuaca Batavia sangat panas.

Perhiasan bertabur berlian menjadi simbol kedudukan. Di belakang kereta, para budak berjalan membawa payung dan perlengkapan majikan mereka.

Baca Juga: Cegah Beban APBD 2027, Fraksi PKS Jember Beri Syarat Halus Tolak Rencana Utang Pemkab Jember Rp786,5 Miliar: Maksimal Rp200 M Saja

Semakin mencolok penampilan seseorang, semakin tinggi pula gengsi yang ingin diperlihatkan kepada masyarakat.

Batavia pun berubah menjadi kota tempat kemewahan dipamerkan di ruang-ruang publik.

Gubernur Jenderal yang Merasa Keadaan Sudah Kelewatan
Kemewahan yang terus dipertontonkan ternyata membuat pemerintah VOC mulai gelisah. Masalahnya bukan semata karena orang hidup mewah.

Bagi para petinggi VOC, gaya hidup tersebut dianggap mengaburkan batas-batas status sosial yang selama ini dijaga sangat ketat.

Baca Juga: Ada Ulat dalam Menu MBG di Cibeber Cianjur, SPPG Cikondang 2 Beri Tanggapan Begini

Ada pejabat berpangkat lebih rendah yang tampil jauh lebih mewah dibanding atasannya. Kemewahan juga dinilai mendorong perilaku konsumtif dan melemahkan disiplin birokrasi.

Ketika Jacob Mossel menjabat sebagai Gubernur Jenderal VOC, ia memutuskan mengambil langkah yang tidak biasa.

Pada 30 Desember 1754 diterbitkanlah Reglement op de Weelde, atau Peraturan tentang Kemewahan.

Aturan ini sering disebut sebagai salah satu sumptuary law, yakni peraturan yang membatasi penggunaan barang-barang mewah berdasarkan kedudukan sosial.

Baca Juga: Bocah Perempuan Kelas 1 SD Tewas di Sumur di Angkola Muara Tais, Hasil Autopsi Ada Kekerasan

Dengan kata lain, pemerintah kolonial mencoba mengatur siapa yang boleh mengenakan apa, menaiki kendaraan seperti apa, bahkan seberapa mewah seseorang boleh tampil di depan umum.

Kemewahan Pun Diatur Negara
Peraturan itu sangat rinci. Jenis kereta yang boleh digunakan disesuaikan dengan pangkat pemiliknya. Jumlah kuda penarik kereta pun ikut diatur.

Penggunaan emas sebagai hiasan kendaraan dibatasi hanya untuk kalangan tertentu.

Perhiasan, pakaian, renda, kain impor, hingga aksesori perempuan juga diatur menurut kelas sosial masing-masing.

Bahkan penggunaan payung kebesaran—simbol kehormatan pada masa itu—tidak boleh dilakukan sembarangan.

Baca Juga: SuRCI Dorong Kesejahteraan Pemulung Bantargebang Lewat Program BPJS hingga Voucher Sembako

Bagi masyarakat Batavia abad ke-18, aturan tersebut mungkin terasa seperti negara ikut mengurus urusan berpakaian dan bergaya hidup.

Namun, bagi pemerintah VOC, pengaturan simbol-simbol kemewahan dianggap penting untuk mempertahankan wibawa pemerintahan kolonial.

Mengapa Aturan Itu Tidak Bertahan Lama?
Meski aturan dibuat cukup rinci, kenyataannya budaya hidup mewah tidak serta-merta menghilang. Kemewahan hanya berubah bentuk.

Selama masih ada orang yang mampu memperoleh kekayaan dalam jumlah besar, selalu ada cara baru untuk menunjukkan status sosialnya.

Baca Juga: Apakah Membaca Utas di X dan Threads Bisa Menyebabkan Short Attention Span? Ini Penjelasannya

Masalah yang lebih besar juga tidak pernah benar-benar diselesaikan. Korupsi tetap berlangsung di berbagai tingkatan birokrasi VOC.

Di saat yang sama, perusahaan dagang terbesar di dunia itu menghadapi biaya perang yang terus membengkak, utang yang semakin besar, birokrasi yang tidak efisien, serta menurunnya keuntungan perdagangan rempah.

Semua persoalan itu saling bertumpuk hingga akhirnya VOC dibubarkan pada 1799.

Belakangan, muncul sebuah plesetan yang sangat terkenal, yakni Vergaan Onder Corruptie, yang berarti "runtuh karena korupsi".

Baca Juga: Inspirasi Kebaya Wisuda Simpel dan Modern, Dijamin Anggun di Hari Kelulusan

Ungkapan tersebut bukan nama resmi VOC pada zamannya, melainkan sindiran yang lahir jauh setelah VOC berakhir untuk menggambarkan betapa besarnya pengaruh korupsi dalam kemunduran perusahaan itu.

Sejarah yang Terus Berulang
Membaca kisah Batavia abad ke-18 sering kali menghadirkan kesan bahwa sejarah memang memiliki cara unik untuk berulang.

Hari ini, panggungnya bukan lagi jalan-jalan berbatu di depan Kastel Batavia, melainkan layar telepon genggam.

Jika dahulu orang memamerkan kereta emas, kini yang tampil adalah mobil sport.

Jika dahulu kebesaran ditunjukkan lewat barisan budak dan payung kebesaran, sekarang status sosial dipertontonkan melalui unggahan media sosial.

Baca Juga: Magang Kemenkeu 2026 Batch 2 Dibuka, Simak Syarat, Formasi, Cara Daftar, dan Jadwal Lengkap

Bentuknya berubah, tetapi dorongan untuk memperoleh pengakuan sering kali tetap sama.

Yang menarik, pelajaran terbesar dari Reglement op de Weelde bukanlah soal larangan hidup mewah.

Sejarah justru menunjukkan bahwa kemewahan sulit diatur hanya melalui peraturan mengenai penampilan.

Selama tata kelola pemerintahan masih menyisakan ruang bagi penyalahgunaan kekuasaan, simbol-simbol kemewahan akan terus menemukan panggungnya sendiri.

Mungkin karena itulah, kisah Batavia hampir tiga abad lalu masih terasa begitu dekat dengan kehidupan kita hari ini.

Bukan karena kereta emasnya masih ada, melainkan karena sejarah terus mengingatkan bahwa ketika kekayaan dipamerkan tanpa diiringi integritas, pertanyaan masyarakat selalu sama: dari mana semua itu berasal? ***