POJOKSATU.id — Suatu hari, Rasulullah SAW memimpin shalat berjamaah. Para sahabat yang menjadi makmum di belakang beliau mendengar suara halus yang menyerupai gesekan sendi yang bergeser.

Suara itu terdengar setiap kali Rasulullah menggerakkan tubuhnya.

Sayidina Umar yang tidak tahan melihat kondisi Rasulullah pun memberanikan diri bertanya setelah shalat selesai, "Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah engkau menanggung beban yang sangat berat. Apakah engkau sedang sakit?"

Namun, Rasulullah tersenyum dan menjawab dengan lembut, "Tidak, Alhamdulillah, aku dalam keadaan sehat dan segar."

Jawaban itu belum memuaskan hati Sayidina Umar.

Baca Juga: Kisah Abdurrahman bin Auf Sahabat Nabi yang Berusaha MENJADI MISKIN, Takut Kekayaan Menjadi Penghalang ke Surga

Dengan penuh rasa ingin tahu, ia melanjutkan pertanyaannya, "Tetapi mengapa setiap kali engkau bergerak, terdengar suara seperti sendi yang bergesekan? Kami yakin engkau sedang sakit…"

Melihat kecemasan di wajah para sahabatnya, Rasulullah SAW perlahan mengangkat jubahnya.

Seketika, para sahabat terkejut dan terharu. Ternyata, perut Rasulullah yang tampak kempis itu dililit sehelai kain berisi batu-batu kecil.

Batu-batu itu digunakan Rasulullah untuk menahan rasa lapar yang mendera.

Baca Juga: Kisah Sya'ban dan TIGA PENYESALAN di Akhir Hayatnya, Selalu Salat Subuh Berjamaah, Ingin Terbaik dalam Amal Kebaikan

Dengan mata berkaca-kaca, Sayidina Umar pun berkata, "Ya Rasulullah! Jika engkau kelaparan dan tidak memiliki makanan, mengapa engkau tidak memberi tahu kami? Kami pasti akan melakukan apa pun untukmu."

Rasulullah kembali tersenyum dan menjawab dengan penuh kelembutan, "Tidak, sahabatku. Aku tahu, kalian akan rela mengorbankan apa pun demi aku.

Tetapi apa yang akan aku jawab di hadapan Allah kelak, jika sebagai pemimpin aku justru menjadi beban bagi umatku?"

Baca Juga: Kisah Uwais Al Qarni Latihan Menggendong SAPI Naik Turun Bukit, Demi Mampu Menggendong SANG IBU, Namanya Disebut Rasulullah, Doanya SELALU DIKABULKAN

Para sahabat terdiam, tersentuh oleh ketulusan Rasulullah. Beliau lalu melanjutkan, "Biarlah rasa lapar ini menjadi hadiah dari Allah untukku, agar kelak tidak ada umatku yang kelaparan, baik di dunia maupun di akhirat."

Begitulah keteladanan Rasulullah SAW. Sebagai pemimpin, beliau lebih memilih menanggung lapar sendiri daripada menyusahkan umatnya.

Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua tentang makna kepemimpinan sejati yang penuh kasih, pengorbanan, dan tanggung jawab. ***