POJOKSATU.id — Hari Sabat merupakan hari suci bagi para pengikut ajaran Nabi Musa AS, di mana mereka dilarang melakukan aktivitas duniawi dan dianjurkan untuk beribadah serta mempelajari kitab Taurat.

Di sebuah wilayah Syam, seorang lelaki Yahudi mengisi hari Sabatnya dengan mengkaji kitab tersebut.

Namun, sesuatu yang mengejutkan ditemukannya dalam Taurat—ayat-ayat yang menggambarkan sifat dan keadaan Nabi Muhammad SAW sebanyak empat halaman.

Tanpa berpikir panjang, ia merobek halaman-halaman itu dan membakarnya, sebagaimana yang diajarkan oleh para pendeta Yahudi yang menganggap ayat-ayat tersebut sebagai tambahan yang tidak benar.

Baca Juga: KIsah Luqman dan Putranya, Bergantian Naik Keledai Menuju Pasar, Begini Hikmah yang Bisa Dipetik

Seminggu kemudian, dalam kajian Sabat berikutnya, ia kembali menemukan delapan halaman yang berisi hal serupa. Lagi-lagi, ia memotong dan membakarnya.

Pada Sabat berikutnya, ia menemukan dua belas halaman yang tidak hanya menggambarkan Nabi Muhammad SAW tetapi juga sahabat-sahabatnya.

Kali ini, ia terdiam. Ia berpikir, jika setiap kali membaca Taurat ia menemukan hal yang sama, mungkinkah kitab ini seluruhnya berisi tentang Muhammad SAW?

Atau mungkinkah ini adalah petunjuk dari Allah SWT yang menggiringnya kepada kebenaran?

Rasa ingin tahunya semakin membuncah.

Baca Juga: Kisah Pemuda Beriman, Antara Ajaran Rahib atau Tukang Sihir

Ia pun bertanya kepada teman-temannya, "Siapakah Muhammad ini?" Mereka menjawab dengan penuh kebencian, "Dia adalah seorang pembohong besar! Jangan temui dia, dan jangan biarkan dia melihatmu!"

Namun, lelaki Yahudi itu justru semakin penasaran.

Kerinduan yang belum pernah dirasakannya sebelumnya mulai tumbuh dalam hatinya.

Baca Juga: Kisah Ikrimah Al Qurasyi, Mantan Budak yang Menjadi Ahli Tafsir Terkemuka

Dengan penuh tekad, ia berkata, "Demi kebenaran Taurat Musa, janganlah kalian menghalangiku untuk menemui Muhammad!"

Tanpa ragu, ia mempersiapkan perbekalan dan segera berangkat menuju Madinah, menempuh perjalanan berhari-hari melewati padang pasir.

Setibanya di Madinah, orang pertama yang ditemuinya adalah Sahabat Salman al-Farisi.

Melihat wajah Salman yang tampan dan penuh cahaya, ia bertanya, "Apakah engkau Muhammad?"

Salman tak mampu menahan air matanya. Dengan suara lirih ia menjawab, "Aku adalah pesuruhnya."

Ternyata, Nabi Muhammad SAW telah wafat tiga hari sebelumnya.

Mendengar hal itu, lelaki Yahudi tersebut merasakan kepedihan yang luar biasa. Ia menangis sejadi-jadinya, menyesali perjalanannya yang terasa sia-sia.

Baca Juga: Kisah Uzair, Tidur Selama 100 Tahun, Hikmah Bukti Kebesaran Allah Menghidupkan yang Mati

"Andai saja aku bertemu dengannya lebih awal," ratapnya.

Dalam tangisnya, ia bertanya, "Di manakah Ali bin Abi Thalib?"

Saat Ali mendekat, ia berkata, "Aku menemukan namamu dalam Taurat bersama Muhammad. Tolong ceritakan kepadaku tentang beliau!"

Ali pun menggambarkan sosok Nabi SAW dengan detail.

Mendengar deskripsi itu, lelaki Yahudi tersebut mengakui, "Benar! Begitulah yang tertulis dalam Taurat! Adakah sesuatu yang pernah dikenakan beliau? Aku ingin menciumnya!"

Ali pun meminta Salman untuk mengambil jubah Rasulullah SAW dari rumah Fathimah az-Zahra.

Baca Juga: Kisah Gubernur yang DOYAN NYAWER dan FLEXING, Bertemu Seorang WANITA BIASA, Kalimatnya MENOHOK dan Bikin Pejabat Ini TERSADAR

Ketika jubah itu sampai di tangannya, lelaki Yahudi itu mendekapnya erat dan menghirup aromanya dengan penuh kerinduan.

Lalu, ia berjalan menuju makam Nabi SAW, menengadahkan tangan, dan berkata, "Ya Allah, aku bersaksi bahwa Engkau adalah Dzat Yang Maha Esa. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Mu. Jika Engkau menerima keislamanku, cabutlah nyawaku saat ini juga!"

Tak lama kemudian, ia terkulai dan wafat di tempat itu.

Para sahabat terharu, mereka mengurus jenazahnya dan memakamkannya di Baqi’, di samping para sahabat Nabi SAW.

Meskipun ia tidak pernah bertemu Nabi SAW dan belum sempat menjalankan kewajiban dalam Islam, namun cintanya kepada Rasulullah telah membawanya kepada iman yang sejati. ***