POJOKSATU.id, NAMA Raymond Pierre Paul Westerling dikenal sebagai tentara Belanda yang memimpin pembantaian di Sulawesi tahun 1946-1947. Namun, kekejamannya juga terjadi di Kota Medan setahun sebelumnya.

Westerling melakukan aksi teror hingga pembunuhan di Kota Medan pada tahun 1945-1946. Tindakan kejam di Medan belum banyak diketahui publik.

Sejahrawan Sumatera Utara, Dr Phil Ichwan Azhari memaparkan kekejaman Westerling dalam Channel YouTube-nya Jelazah Ichwan Azhari dengan tajuk "Teror Westerling di Medan 1945-1946 : Sejak Proklamasi sampai Revolusi Sosial".

"Bahwa Westerling tidak hanya melakukan kekejaman di Sulawesi, sebagaimana yang dikenal dalam sejarah Indonesia. Bukan hanya melakukan kekerasan di Medan tapi dia juga melakukan teror kekejaman yang selama ini tidak diketahui publik," ujarnya.

Baca Juga: Hanya Anis Baswedan yang Bisa Wawancara Langsung Ibu Tien Soeharto, Sempat Dimarah-marahi Dulu

Westersling datang ke Kota Medan itu dimulai pada tanggal 13 September 1945. Dan, dia berada di Medan sampai tanggal 26 Juli 1946.

Tetapi rentan waktu keberadaan Westerling di Medan memperlihatan saat-saat penting sejarah Sumatera Timur yang selama ini tidak banyak diungkap.

Kedatangan Westerling ke Medan itu sebelum prokalmasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan di Kota Medan.

"Sebagaimana diketahui, walaupun 17 Agustus 1945 Kemerdekaan Indonesia sudah dikumandangkan di Jakarta, tapi di Medan proklamasi Kemerdekaan baru dibacakan 6 Oktober 1945," ungkapnya.

Baca Juga: Pasang Surut Hubungan Gus Dur dan Megawati, Lawan Jadi Kawan Serta Politik Nasi Goreng

Misi utama Westering ke Medan adalah menyiapkan pendaratan pasukan Belanda atau sekutu yang ingin mengambil alih kekuaasan pasca perang dunia kedua.

Ichwan Azhar memaparkan pasukan besar yang akan didatangkan ke Medan itu bertujuan melucuti senjata pasukan Jepang, mengembalikan orang-orang Jepang ke Jepang.

Setelah itu, misinya mengambil alih kekuasaan politik di Medan oleh Belanda dengan mendatangkan pasukan besar di Medan. Dan, Westerling diterjunkan di Polonia.

Ichwan mengatakan Belanda salah pilih figur, karena ternyata Westerling orang yang sangat kejam dan berambisi sangat besar melakukan teror dan melakukan pembunuhan yang luar biasa mengerikan.

Baca Juga: Bukti Bahasa Melayu sebagai Bahasa Diplomasi Raja Inggris dengan Sultan Aceh sejak 1915

Pada saat itu, Kota Medan berada di dalam situasi tanpa tuan, tidak ada kendali, tidak ada penguasa yang memiliki kekuatan untuk mengontrol kekuasaan politik yang ada di Medan.

Ketika itu, para pemuda yang ada sebagian dilatih Jepang, sebagian memiliki senjata Jepang, dan Pro Republik dan ingin segera kemerdekaan Indonesia dikumandangkan dan Indonesia merdeka harus benar-benar dilakukan di Medan.

Saat itu di Jepang masih di Medan, diperkirakan masih ada 50 ribu tentara Jepang di Medan, sementara di Medan memiliki kekuasaan tradsional yaitu Sultan Deli.

Sementara Belanda mau masuk dan Westerling disiapkan untuk melakukan pengendalian keadaan.

Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno pada Mien Hessels, Nekad Datangi Rumah Si Noni Belanda, Bersyukur Tak Jadi Nikah

Jadi Westerling saat itu berhadapan dengan tentara Jepang, yang mencurigai apa yang dilakukan Westerling di Medan.

Tetapi Jepang pada saat itu berada dalam keadaaan tidak kuat, sehingga Jepang diambil alih dan dikembalikan ke negerinya.

Westerling memiliki rasa percaya diri luar biasa untuk menyiapkan pasukan Belanda dan sekutu di Medan. sebagai intelejen, Westerling melakukan perekrutan orang-oang Indonesia yang ada di Medan.

"Selama di Medan dia melakukan serangkaian kekerasan, melakukan sabotase, selebaran mengacaukan keadaan, Westerling pada waktuitu melakukan kekeruhan, dan itu sengaja dia lakukan," ungkap Ichwan.

Baca Juga: Soeharto dan Kesan dari Masyarakat Timur, Dinilai Diktator Nan Sukses Juga Penindas Kejam

Salah satu kejadian mengerikan adalah ketika Westerling menginap di hotel De Boer (sekarang Grand Inna Darma Deli), dia menangkap mata-mata pasukan Republik (pejuang) yang dianggapnya berbahaya.

"Orang itu ditangkap Westerling, dibunuh dan maaf sangat kejam, kepala pejuang itu dibawanya ke hotel tempat dia menginap," ujarnya.

Ini sesuai juga dengan kesaksian seorang wartawan kala itu yang melakukan wawancara kepada Westerling. Laporan warrtawan tersebut juga telah dimuat di media internasional.

Dimana, Westerling tidak segan-segan mengatakan telah membunuh salah seorang pejuang Indoensia yang ada di Medan dan menunjukkan kepala pejuang yang dipenggalnya di Hotel Drama Deli.

Baca Juga: Mengenal Anak Soekarno Paling Misterius yang Jarang Terekspos

Tidak sampai di situ kekejian Westerling. Setelah dia menunjukkan kepala pejuang, kepala itu dia letakkan di depan atau trotoar Masjid Raya.

"Tujuannya supaya kepala pejuang setelah dipenggal dilihat banyak orang untuk memberikan rasa takut. inikan teror," tegasnya.

Ichwan mengatakan Westerting teroris pada awal perjuangan kemerdekaan di Indonesia.

Sementara di depan tempat dia menginap dibacakan ketika proklamasi kemerdekaan, Westerling terus berulah.

"Mengatur siasat pembunuhan besar-besaran kaum bangsawan di Sumatera Timur, Istana-istana Sultan Melayu dibakar, mulai dari Langkat sampai Tanjung Pinang habis dibakar," tutur Ichwan Azhari.

Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno pada Mien Hessels, Nekad Datangi Rumah Si Noni Belanda, Bersyukur Tak Jadi Nikah

Dari sumber lain, Westerling akhirnya dipindahkan dari Medan pada Pada 23 Juli 1946. Dari seksi intelijen ke satuan pasukan komando, sekaligus mengakhiri masa tugasnya di Medan.

Namun, ternyata kekejian tidak berakhir. Dia melanjutkan aksinya di Sulawesi. Westerling tiba di Makassar pada 5 Desember 1946.

Di Sulawesi Selatan disebutkan dia telah memimpin pembunuhan ribuan warga.
Westerling meninggal pada tanggal 26 November 1987, namun kejahatan tidak pernah diusut tuntas.

Pada 12 September 2013, Pemerintah Belanda sempat menyampaikan permintaan maaf hanya untuk korban di Sulawesi Selatan. Kala itu, melalui Duta Besarnya di Jakarta, Tjeerd de Zwaan. ***