POJOKSATU.id —Dari akar rumput hingga ke Istana Negara, Barisan Tani Indonesia (BTI) pernah menjadi kekuatan utama kaum tani yang berani bersuara lantang demi tanah dan kehidupan yang layak.
Tapi sejarah mencatatnya sebagai hantu. Siapa mereka sesungguhnya?
Dan apa saja warisan yang mereka tinggalkan, meski telah disapu bersih oleh kekuasaan Orde Baru?
Petani sebagai Pelaku Sejarah: Lahirnya BTI
5–7 November 1945, di Surakarta, sebuah rapat akbar menyatukan berbagai organisasi petani dan buruh dalam semangat kemerdekaan.
Dari pertemuan inilah muncul tekad membentuk organisasi yang bukan hanya menyalurkan aspirasi petani, tapi juga membela kepentingan mereka secara revolusioner.
Baca Juga: Bukan Cuma Demo, Inilah Jejak Panjang Gerakan Mahasiswa Indonesia Sejak 1908 hingga Reformasi
Kongres Petani I di Yogyakarta pada 22–25 November 1945 secara resmi melahirkan Barisan Tani Indonesia (BTI).
Tokoh-tokoh seperti M. Tauchid, Wijono Surjokusumo, dan S. Sardjono menjadi penggerak awal gerakan ini. Visi mereka tegas: menghapus feodalisme agraria dan memperjuangkan tanah bagi mereka yang benar-benar menggarapnya.
BTI bukan organisasi biasa.
Ia lahir dari denyut nadi perjuangan kelas bawah, terutama petani gurem yang selama berabad-abad menjadi korban sistem tuan tanah kolonial dan bangsawan lokal.
Dalam waktu singkat, BTI menjelma menjadi organisasi tani terbesar di Indonesia.
Menyatukan Kekuatan: Fusi dan Konsolidasi
Tahun 1953 menjadi titik penting ketika BTI melakukan fusi dengan Rukun Tani Indonesia (RTI) dan Sarekat Tani Indonesia (Sakti).
Ini bukan sekadar penggabungan struktural, melainkan konsolidasi ideologi dan program kerja. BTI menyatakan dirinya sebagai “organisasi massa petani revolusioner” dan menegaskan keberpihakan terhadap kelas tani miskin dan buruh tani.
Di titik ini, BTI kian dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Kedekatan ini strategis—bukan hanya politik elektoral, tetapi untuk mempercepat cita-cita reforma agraria.
Suara Petani Menggema: Pendidikan, Publikasi, dan Aksi
BTI aktif membentuk kesadaran politik petani melalui pendidikan dan media. Mereka menerbitkan majalah Suara Tani, mendirikan sekolah-sekolah kader tani, dan menyelenggarakan pelatihan teknis serta politik.
Organisasi ini tidak hanya fokus pada wacana—mereka juga menyusun program konkret:
-
Pemberantasan buta huruf di pedesaan
-
Pendidikan koperasi
-
Modernisasi alat pertanian
-
Diversifikasi pangan
BTI juga mendorong penyebaran teknologi pertanian inovatif.
Salah satu yang terkenal adalah pengembangan singkong Mukibat, hasil okulasi tunggal oleh petani Mukibat dari Kediri.
Produksi singkong ini mencapai 70 ton per hektare—terobosan luar biasa bagi petani kecil.
Angka Keanggotaan: Separuh Desa Indonesia
Pada puncaknya tahun 1965, BTI mengklaim memiliki lebih dari 8,5 juta anggota. Angka ini mencakup sekitar 25% dari seluruh petani dewasa Indonesia.
Dengan jaringan kuat dari pusat hingga dusun-dusun kecil, BTI menjadi kekuatan raksasa politik dan sosial.
Saking besarnya pengaruh BTI, Konferensi Nasional mereka pada 7 September 1964 dibuka langsung oleh Presiden Soekarno di Istana Negara. Petani yang dulu tak dianggap apa-apa, kini duduk berdampingan dengan penguasa negeri.
Reforma Agraria dan Aksi Sepihak
Salah satu program paling kontroversial BTI adalah aksi sepihak.
Baca Juga: Cerita Legenda Timun Mas dan Raksasa dari Jawa, Memahami Nilai-Nilai yang Terkandung di Dalamnya
Ketika pemerintah lamban menjalankan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) 1960, BTI memobilisasi massa petani untuk mengambil alih lahan tidur, tanah kelebihan, dan perkebunan yang tidak dikelola.
Aksi ini membuat gerah para tuan tanah, aparat desa, dan elite lokal. Tapi bagi petani miskin, inilah jalan satu-satunya menuju kehidupan yang layak. Mereka tidak lagi meminta, mereka merebut.
Revolusi Dimulai dari Sawah
BTI mengusung keyakinan bahwa revolusi tidak akan berhasil tanpa petani. Mereka menyebut petani sebagai “soko guru revolusi”. Dalam pernyataan resmi organisasi, disebutkan:
“Tanpa peran aktif petani, revolusi Indonesia hanya akan menjadi perubahan elite.”
Bersama PKI dan organisasi sayap lainnya, BTI menjadi tulang punggung program-program Soekarnois: Berdikari, Nasakom, dan poros anti-imperialis.
Namun kemesraan ini tidak berlangsung lama.
Musim Pembantaian: BTI Dihapus dari Sejarah
Setelah meletusnya peristiwa 30 September 1965, BTI menjadi salah satu sasaran utama pembantaian massal.
Dicap sebagai organisasi underbow PKI, anggota-anggota BTI diburu, ditangkap, dibunuh, atau dibuang ke penjara tanpa pengadilan.
Pada 12 Maret 1966, MPRS mengeluarkan Tap MPRS No. XXV/MPRS/1966 yang secara resmi membubarkan PKI dan seluruh organisasi afiliasinya, termasuk BTI.
Nama BTI pun tenggelam.
Jaringan, sekolah tani, koperasi, hingga hasil inovasi mereka seperti singkong Mukibat dilupakan, bahkan dihapus dari buku sejarah. Yang tertinggal hanyalah stigma dan trauma.
Warisan BTI yang Masih Hidup
Meski BTI dihancurkan secara brutal, warisan mereka tetap hidup di tengah rakyat:
-
Kesadaran Agraria
BTI berhasil menanamkan benih kesadaran bahwa tanah bukan milik segelintir elite, tapi hak hidup petani. -
Ide ini kini dihidupkan ulang oleh gerakan tani modern seperti SPI (Serikat Petani Indonesia) dan AGRA.
-
Inovasi Pertanian Mandiri
Mukibat dan para petani BTI lainnya membuktikan bahwa petani bukan objek pembangunan, melainkan subjek riset dan inovasi.Gagasan ini kini kembali diangkat dalam konsep pertanian agroekologi.
-
Pendidikan dan Literasi Tani
Model pendidikan akar rumput yang dikembangkan BTI menjadi inspirasi bagi berbagai sekolah rakyat dan sekolah tani alternatif di masa kini. -
Politik Kelas Bawah
BTI memberi contoh bagaimana politik bisa dimaknai sebagai alat pemberdayaan rakyat kecil, bukan sekadar perebutan kekuasaan elite.
Barisan Tani Indonesia bukan sekadar catatan kaki dalam sejarah.
Mereka adalah simbol keberanian petani untuk menyuarakan hak, simbol cita-cita keadilan agraria yang belum selesai, dan simbol bagaimana sebuah organisasi rakyat bisa dihancurkan hanya karena dianggap membahayakan status quo.
Menuliskan sejarah BTI adalah bagian dari merawat ingatan.
Bahwa pernah ada 8 juta petani yang bersatu, bergerak, dan bermimpi tentang keadilan—hingga mereka dipaksa bungkam oleh peluru dan propaganda.***
Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami:
