POJOKSATU.id— Buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer bukanlah karya sastra biasa.

Ia adalah catatan luka kolektif bangsa, narasi yang lahir dari investigasi dan pelacakan terhadap para korban Jugun Ianfu—remaja putri yang dipaksa menjadi budak seks militer Jepang.

“Belum sepatutnya pada kalian diajukan suatu berita yang mengguncangkan, memilukan, menakutkan, dan menyuramkan.” —Pramoedya Ananta Toer, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer

Kalimat itu bukan pembuka kisah fiksi. Ia adalah jeritan sunyi yang dituliskan Pramoedya dari balik jeruji Pulau Buru—tempat para tahanan politik dan saksi sejarah hidup dalam pengasingan. 

Dalam sunyi itulah ia mencatat kisah kelam para perempuan remaja yang tubuhnya diperlakukan sebagai wilayah perang.

Bukan oleh musuh yang kasat mata, melainkan oleh sistem kekuasaan yang menjadikan mereka sebagai alat pelampiasan birahi dan simbol dominasi.

Sejarah tak selalu ditulis oleh pemenang.

Baca Juga: Monumen Tua di Peulanggahan, Saksi Bisu Invasi Belanda yang Terlupakan

Kadang ia dikubur dalam diam, atau dijadikan mitos untuk menghindari pertanggungjawaban.

Itulah yang terjadi pada para perempuan yang dijadikan Jugun Ianfu, istilah Jepang yang secara halus berarti "wanita penghibur militer".

Namun, di balik eufemisme itu, tersembunyi praktik perbudakan seksual sistematis terhadap perempuan muda dari negara jajahan.

Di Indonesia, para gadis remaja ini dijaring melalui janji-janji palsu, sekolah di Tokyo, kerja di rumah sakit, jadi perawat, atau tugas administratif.

Tapi kenyataannya mereka dikirim ke ianjo—barak-barak bordil yang dikelola tentara Jepang. Tubuh mereka diperlakukan bukan sebagai manusia, tapi komoditas perang.

Kronologi Sejarah Jugun Ianfu di Indonesia

Baca Juga: Warisan Tak Kasat Mata: Pengaruh Cakraningrat di Madura, Dari Keraton ke Kotak Suara

1937–1941: Awal Pendudukan dan Perang Asia Timur Raya

  • Jepang mulai menginvasi wilayah-wilayah Asia, termasuk Cina dan Korea.

  • Konsep ianjo atau comfort station mulai diterapkan: rumah bordil militer untuk “menjaga moral tentara”.

Maret 1942: Jepang Menduduki Hindia Belanda (Indonesia)

  • Pendudukan militer Jepang dimulai dari Jawa dan menyebar ke wilayah lain.

  • Sendenbu (dinas propaganda) mulai menyebarkan informasi soal “kesempatan belajar dan bekerja di luar negeri”, khususnya untuk remaja putri.

  • Aparat lokal dilibatkan dalam pendataan perempuan remaja.

1943–1944: Puncak Perekrutan Jugun Ianfu

  • Remaja putri usia 14–20 tahun direkrut melalui iming-iming pekerjaan, sekolah, atau bahkan penculikan langsung.

  • Di beberapa daerah, perempuan dijemput paksa dan dibawa ke barak militer (ianjo).

  • Di stasiun, pelabuhan, dan markas militer, mereka diperlakukan sebagai “barang milik negara militer Jepang”.

1945: Jepang Menyerah, Korban Terlupakan

  • Setelah kekalahan Jepang, banyak perempuan Jugun Ianfu ditinggalkan begitu saja.

  • Sebagian kembali ke kampung dalam stigma dan trauma, sebagian lain menghilang atau menetap di luar negeri.

  • Tidak ada pengakuan resmi dari Jepang maupun pemerintah Indonesia.

Baca Juga: Sejarah Sekolah Rakyat di Indonesia: Dari Era Kolonial hingga Kebijakan Modern

1965–1970-an: Bungkam Total

  • Korban Jugun Ianfu yang masih hidup mengalami represi ganda setelah peristiwa 1965—banyak dari mereka dikaitkan dengan organisasi perempuan kiri dan ditahan kembali (beberapa bahkan di Pulau Buru).

  • Tidak ada ruang berbicara, trauma tetap terkunci.

1990–2000-an: Suara Korban Mulai Muncul

  • Korban di Korea dan Filipina mulai mengajukan tuntutan kepada pemerintah Jepang.

  • Korban Indonesia baru mulai muncul ke publik secara terbatas—dalam riset akademis dan karya seperti Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.

Baca Juga: Ketika BURUH Bergemuruh, MARSINAH Bukanlah Sebuah KISAH, Bukan Juga tentang Pengorbanan, Tapi Ini Perihal SEORANG KORBAN

Pramoedya menuliskan:

“Janji pendidikan itu datang dari Sendenbu, dinas propaganda militer Jepang. Mereka menciptakan tipu daya massal lewat struktur pemerintahan lokal: dari kepala desa hingga wedana. Para gadis itu tak tahu mereka sedang digiring menuju perbudakan.”

Korban tidak diberi pilihan. Bahkan dalam ketidakadilan, mereka tak pernah mendapat pengakuan. Dalam catatannya, Pramoedya menulis:

“Apakah mereka mendapat upah dari Jepang? Tidak! Hanya kadang menerima uang rekreasi pada hari-hari tertentu…”

Kalimat ini mengiris. Bukan hanya karena menggambarkan penderitaan fisik, tapi juga karena menunjukkan betapa sistematis dan brutalnya eksploitasi yang dialami.

Pulau Buru bukan hanya tempat eksil politik. Di sana, Pramoedya bertemu dengan sejumlah perempuan yang selamat dari praktik Jugun Ianfu—tapi kembali dikurung, kali ini bukan oleh Jepang, melainkan oleh sejarah bangsa sendiri yang enggan mengakui keberadaan mereka.

Sebagian dari mereka tidak kembali ke kampung halaman. Stigma terlalu kuat.

Baca Juga: INI Para Pahlawan BERSENJATA BUKU, Mulai dari Menyalakan API PERJUANGAN, Menebus Kamar PINGITAN, Hingga Memberi MASKAWIN Berupa Buku kepada Istrinya

Keluarga menganggap mereka “tidak suci”, masyarakat mencibir, negara diam. Mereka terlupakan, seperti luka yang sengaja dikambus oleh tumpukan narasi heroisme semu.

Sejarah mencatat:

  • Sekitar 200.000 hingga 400.000 perempuan dari Korea, Filipina, Cina, Indonesia, dan wilayah Asia Tenggara lainnya dijadikan Jugun Ianfu.

  • Di Indonesia, rekrutmen dilakukan secara sistematis, aparat desa, kepala kampung, hingga guru sekolah dilibatkan untuk memanipulasi informasi.

  • Banyak korban berusia 14–20 tahun, dan sebagian besar tak pernah pulang.

Buku ini menjadi jembatan penting antara kesaksian individu dan trauma kolektif bangsa. Bukan fiksi, bukan dongeng perang, tapi potret kasar dari realitas yang ingin kita lupakan.

Beberapa hal yang membuatnya sahih secara historis dan relevan:

  1. Berbasis wawancara korban langsung di Pulau Buru, bukan rekaan naratif.

  2. Diterbitkan secara terbatas oleh Hasta Mitra, tanpa glamorisasi penderitaan.

  3. Bersifat dokumenter-sastra, menggabungkan investigasi dan empati.

Baca Juga: MELAWAN dengan PENA, Ini Perjalanan Ki Hadjar Dewantara, Keluarga Bangsawan yang MENGUBAH BANGSA, Pendidikannya Tidak Selesai, Padahal Dapat BEASISWA

Pramoedya menulis bukan untuk membangkitkan dendam, tapi kesadaran. Ia ingin bangsa ini tak hanya mengingat pahlawan, tapi juga korban—mereka yang tubuhnya jadi medan perang, tapi namanya tak pernah tercantum di tugu atau buku sejarah sekolah.

Ia seolah berkata, bahwa diamnya negara adalah bentuk kekerasan kedua. Dan hanya dengan pengakuan, penyembuhan bisa dimulai.***

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: