POJOKSATU.id - Masjid Kufah merupakan salah satu masjid paling bersejarah dalam peradaban Islam.

Berdasarkan sejumlah riwayat, pembangunan awalnya bahkan dikaitkan dengan Nabi Adam AS, lalu dibangun kembali oleh Nabi Nuh AS setelah peristiwa banjir besar. 

Sejak saat itu, kawasan Kufah menjadi tanah yang sarat nilai spiritual dan sejarah.

Pada tahun 17 Hijriah atau 638 Masehi, wilayah ini mulai berkembang pesat ketika pasukan Islam berada di al-Mada’in. 

Kondisi cuaca yang tidak bersahabat membuat para prajurit dari Hijaz mengalami penurunan kondisi fisik. 

Khalifah Umar bin Khattab kemudian memerintahkan Sa’d bin Abi Waqqas mengirim Salman al-Farisi dan Hudhayfah bin al-Yaman untuk mencari lokasi yang lebih layak.

Salman menyusuri tepi barat Sungai Efrat, sementara Hudhayfah menyusuri sisi timur. 

Keduanya sepakat bahwa Kufah adalah tempat yang tepat sebagai pusat pemukiman pasukan. 

Mereka menunaikan dua rakaat salat dan berdoa agar wilayah tersebut menjadi tempat yang damai dan stabil. 

Setibanya di Kufah, Sa’d bin Abi Waqqas memerintahkan pembangunan masjid terlebih dahulu sebelum bangunan lainnya. 

Area masjid ditentukan dengan metode sederhana, yakni dengan melempar anak panah ke empat arah sebagai batas wilayahnya.

Sejak awal berdirinya, Masjid Kufah bukan sekadar tempat ibadah. Ia menjadi pusat pendidikan dan peradaban. 

Ketika Imam Ali AS tiba di Kufah pada tahun 36 Hijriah, beliau langsung menuju masjid dan menyampaikan pidato kepada masyarakat. 

Setelah menetap, Imam Ali mengajarkan tafsir Al-Qur’an dan berbagai ilmu lainnya di sana. 

Tokoh-tokoh seperti Kumayl bin Ziyad dan Abdullah bin Abbas tercatat sebagai murid yang menghadiri majelis beliau.

Masjid Kufah juga dikenal memiliki keutamaan luar biasa. Dalam sejumlah riwayat, ia disebut sebagai salah satu dari empat masjid pilihan Allah bagi hamba-Nya. 

Disebut pula sebagai “benteng surga” dan tempat para malaikat beribadah sebelum penciptaan Nabi Adam AS. 

Hadis lain menyebutkan bahwa seribu nabi dan seribu wali pernah menunaikan salat di masjid ini.

Keistimewaan lainnya, salat wajib di Masjid Kufah disebut setara dengan ibadah haji, sementara salat sunnahnya setara dengan umrah. 

Bahkan dalam perjalanan jauh, seseorang diperbolehkan menyempurnakan salatnya di masjid ini, berbeda dengan ketentuan umum yang mewajibkan qashar.

Masjid Kufah juga memiliki berbagai maqam atau posisi bersejarah yang dikaitkan dengan para nabi dan tokoh suci. 

Di antaranya Maqam Nabi Adam AS, Maqam Nabi Ibrahim AS, Maqam Jibril, hingga Mihrab tempat Imam Ali AS diserang oleh Ibnu Muljam. 

Terdapat pula Rahba Amir al-Mu’minin, tempat Imam Ali menjawab pertanyaan masyarakat, serta Dakka al-Qada’, lokasi beliau memutuskan perkara hukum.

Di kompleks sekitar masjid juga terdapat makam Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah, serta makam al-Mukhtar al-Tsaqafi. 

Seiring waktu, bangunan masjid mengalami berbagai renovasi dan pengembangan agar mampu menampung lebih banyak jamaah.

Dalam perspektif eskatologi Islam, Kufah diyakini akan menjadi pusat pemerintahan global Imam Mahdi AS. 

Riwayat menyebutkan bahwa Masjid Kufah akan menjadi pusat pemerintahan dan peradilan beliau, bahkan akan dikembangkan dengan seribu pintu untuk menampung kaum beriman dari berbagai penjuru dunia.

Keberadaan Masjid Kufah bukan hanya simbol sejarah, melainkan representasi perjalanan panjang spiritualitas umat Islam. 

Dari kisah para nabi, pusat ilmu Imam Ali, hingga harapan masa depan bersama Imam Mahdi, masjid ini menjadi saksi bahwa peradaban Islam tumbuh dari ilmu, ibadah, dan keteguhan iman. 

Di tengah perubahan zaman, Masjid Kufah mengajarkan bahwa tempat sujud bukan sekadar ruang fisik, melainkan pusat kebangkitan ruhani dan peradaban umat.***