POJOKSATU.id — Jakarta menyimpan beragam peninggalan sejarah yang kini sudah tak lagi tampak secara langsung.

Salah satunya adalah kanal Molenvliet, saluran air buatan yang dahulu menjadi pusat kehidupan Batavia.

Namun, sekarang telah beralih fungsi menjadi jalan raya yang dipadati kendaraan.

Kanal Molenvliet mulai dibangun pada tahun 1648 saat Batavia berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda.

Baca Juga: Kesepakatan Rahasia RI-AS? Izin Pesawat Tempur Bisa Seret Indonesia ke Konflik

Pembangunannya dipimpin oleh tokoh Tionghoa bernama Phoa Beng Gan yang dipercaya menangani persoalan lingkungan di kawasan tersebut.

Pada mulanya, kanal ini dibuat untuk mengeringkan wilayah rawa yang menjadi sarang penyakit seperti malaria, sekaligus mengurangi risiko banjir yang sering terjadi di Batavia.

Selain itu, kanal juga dimanfaatkan sebagai jalur aliran air menuju laut.

Baca Juga: Nekat Berhenti di Tikungan Ekstrem Sitinjau Lauik Demi Swafoto, Rombongan Mobil Diduga Pejabat Bikin Heboh

Dalam perkembangannya, kanal ini kemudian berfungsi sebagai jalur transportasi air yang sangat penting.

Berbagai jenis barang seperti kayu, batu bata, hingga hasil pertanian didistribusikan melalui kanal ini.

Wilayah di sepanjang Molenvliet pun berkembang menjadi kawasan strategis yang menghubungkan Kota Tua dengan pusat pemerintahan baru di Weltevreden.

Baca Juga: Makin Panas, Militer AS akan Blokade Selat Hormuz dan Semua Pelabuhan Iran Mulai Jam 9 Nanti Malam

Memasuki abad ke-18 hingga ke-19, Molenvliet berubah menjadi kawasan bergengsi.

Banyak pejabat kolonial serta kalangan berada mendirikan hunian besar di sepanjang kanal.

Kehadiran industri seperti penggilingan gula yang memanfaatkan aliran air turut meningkatkan nilai ekonomi kawasan tersebut.

Selain berperan dalam kegiatan ekonomi, kanal Molenvliet juga menjadi bagian dari kehidupan sosial warga.

Baca Juga: Tak Sekadar Hitungan! Ini Cara Menaklukkan Soal Penalaran Matematika SNBT dengan Metode RELATE

Bahkan hingga sekitar tahun 1950-an, air kanal masih digunakan masyarakat untuk keperluan mandi dan mencuci.

Perubahan signifikan terjadi pada akhir 1960-an hingga 1970-an.

Pencemaran air yang semakin parah serta beralihnya sistem transportasi dari jalur air ke darat membuat fungsi kanal mulai ditinggalkan.

Pemerintah kemudian mengambil kebijakan dengan menutup dan menimbun kanal tersebut.

Baca Juga: Terungkap Dugaan Motor Listrik MBG Rebranding Produk China, Harga Asli Rp10 Jutaan tapi Dibeli Rp42 Juta

Bekas alirannya diaspal dan dialihfungsikan menjadi jalan raya guna mendukung mobilitas kendaraan yang terus meningkat.

Saat ini, bekas kanal Molenvliet dikenal sebagai Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk di Jakarta Barat, dua ruas jalan utama yang selalu dipadati aktivitas di pusat ibu kota.

Meski kanalnya sudah tidak lagi terlihat di permukaan, jejak sejarahnya masih dapat dikenali dari bentuk jalan yang memanjang lurus serta keberadaan bangunan-bangunan tua di sekitarnya.

Baca Juga: Sekutu Dekat Netanyahu dan Trump Kalah Telak di Pemilu Hongaria, Padahal 16 Tahun Berkuasa

Molenvliet menjadi bukti nyata bagaimana Jakarta terus berkembang, bahkan hingga mengubur sebagian sejarahnya sendiri.***