POJOKSATU.id - Bagi Bung Karno, Banten bukanlah suatu daerah yang asing, hanya berjarak sepelemparan batu dari ibukota Jakarta. Terlebih dengan kota Rangkasbitung, yang sempat menjaga Fatmawati istrinya dan suku Baduy yang menganggap presiden satu-satunya.
Saat itu, kunjungannya ke Rangkasbitung bukan sebagai tahanan politik atau kolaborator pada masa perang, melainkan sebagai seorang presiden dari sebuah negara yang baru merdeka.
Dari agenda yang telah diumumkan tahun 1951, Bung Karno dijadwalkan memberikan pidato di beberapa lokasi di Banten, termasuk Merak, Serang, Pandeglang, Rangkasbitung, Leuwidamar, dan Tangerang antara tanggal 3 hingga 5 September.
Rombongan Bung Karno yang akan datang ke Banten berangkat pada pagi hari Senin dari Istana Merdeka menuju Tanjung Priok, di mana mereka akan melanjutkan perjalanan menggunakan kapal menuju Merak.
Banten menjadi panggung yang strategis bagi Bung Karno untuk membangkitkan semangat rakyat, terutama karena jaraknya yang relatif dekat.
Selain itu, konsolidasi massa di wilayah ini memiliki signifikansi penting, mengingat bahwa selama periode revolusi yaitu tahun 1945-194), Banten berada dalam pengaruh kekuasaan Belanda.
Oleh karena itu, untuk memastikan dukungan yang kuat terhadap Republik, Bung Karno datang membangkitkan semangat di wilayah Banten.
Di Merak, Bung Karno mengisahkan pengalamannya di Teluk Merak tiga belas tahun yang lalu, ketika ia menjadi tahanan yang dipindahkan dari Flores ke tempat pengasingannya yang baru di Bengkulu.
Di hadapan ribuan massa di Merak saat itu, Bung Karno menggaungkan persatuan dan mendorong pentingnya menghindari percekcokan di antara sesama.
Baca Juga: Sosok Pramugari yang Berani Tolak Cinta Soekarno dan Memilih Nikahi Duda
Dari Merak, Banten rombongan Bung Karno melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil, melalui Tasikardi dan Banten Lama.
Rombongan lalu menuju Serang di mana Bung Karno dijadwalkan memberikan pidato pada rapat massa pada sore hari seperti juga ditulis museummultatuli.id dalam pengantar pameran arsip foto Bung Karno di Banten.
Hebatnya, di Serang, Bung Karno berpidato dalam bahasa Sunda. Ia mengatakan bahwa Indonesia harus menyelamatkan negara dari pertentangan internasional.
Pada malam harinya, Bung Karno menghabiskan waktu di rumah Tubagus Bakri. Di sana, tokoh-tokoh Serang diperkenalkan kepada presiden.
Hari pertama kunjungan berakhir dengan prosesi pawai obor yang diikuti oleh anak-anak sekolah dan pemuda-pemuda.
Kaum etnis Tionghoa ikut meramaikannya dengan sajian liong dan barongsai.
Menariknya, ada sekelompok orang menyerupai orang-orang Irian (kini Papua). Mereka membacakan pernyataan yang menyerukan perjuangan untuk menyatukan Irian ke dalam wilayah Indonesia.
Pada Selasa pagi, Bung Karno dijadwalkan akan melanjutkan perjalanan menuju Pandeglang, Rangkasbitung, dan Leuwidamar.
Namun disebutkan juga sumber lainnya, Presiden Soekarno melakukan kunjungan kerja dengan menaiki kereta lokomotif ke Stasiun Rangkasbitung, Kabupaten Lebak.
Di Rangkasbitung, dalam pidato yang berlangsung sekitar 1,5 jam di alun-alun, Bung Karno mengajak para pemuda Rangkasbitung untuk menghargai dan mewujudkan cita-citanya.
Pada waktu itu, ia mengucapkan kalimatnya yang terkenal: Gantungkan cita-citamu setinggi langit pada bintang-bintang.
Di Rangkasbitung, Bung Karno juga menguraikan cita-cita politik dan sosial Indonesia, termasuk pembahasan mengenai struktur negara yang diarahkan untuk kesejahteraan rakyat.
Baca Juga: Kisah Cinta Romantis Jendral Sudirman, Rayuan Maut dan Kesetiaan Hingga Akhir Hayat
Bung Karno mengatakan bahwa Indonesia, dengan populasi sekitar 75 juta jiwa dan letaknya di antara dua benua serta dua lautan, harus diperintah oleh keadilan.
Cita-citanya hanya dapat tercapai jika semua warga bekerja keras untuk mencapai tujuan bersama.
"Namun, Indonesia yang makmur, di mana keadilan berkuasa, hanya dapat dicapai jika semua orang bekerja keras untuk itu," kata Bung Karno.
Oleh karena itu, dengan semangat penuh, Bung Karno mendorong massa di Rangkasbitung yang mendengarkannya, untuk bekerja keras.
"Terletak di antara dua benua dan dua lautan. Namun Indonesia yang makmur, di mana keadilan berkuasa, hanya dapat dicapai jika semua orang bekerja keras untuk itu," katanya.
Baca Juga: Napak Tilas ke Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Ganjar Hayati Kelahiran Pancasila
Ia mengatakan bahwa usaha keras dari orang biasa setara dengan usaha keras dari mereka yang berpangkat tinggi.
Sedangkan Kunjungan Bung Karno ke Leuwidamar adalah untuk menemui masyarakat Baduy. Pertemuan Bung Karno itu, kemungkinan terjadi di pusat kecamatan Leuwidamar.
Bung Karno disambut dengan tarian yang diiringi musik angklung buhun dan diterima oleh Jaro Kasan.
Kasan adalah Jaro Pamarentah, yaitu pemimpin suku Baduy yang bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah.
Bung Karno punya tempat tersendiri bagi orang-orang Baduy. Malam itu Bung Karno menginap di Leuwidamar, dan pada esok harinya, ia dijadwalkan untuk melakukan perjalanan pulang ke Jakarta.
Sebagai catatan, sebelum kunjungannya ke Banten, setahun sebelumnya yaitu pada 1950, Bung Karno juga pernah menerima dua orang warga Baduy di Istana Negara.
Karena itu, bagi suku Baduy, Presiden itu hanyalah Soekarno. Dan yang lainnya hanya penerus.
Baca Juga: Kisah Lahirnya Pancasila, Buah Perenungan Bung Karno Saat Dibuang ke Ende Flores
Setelah memberikan pidato pada pertemuan pemuda di Rangkasbitung pada Rabu pagi, rombongan dijadwalkan kembali ke Jakarta melalui Petir, Balaraja, dan Tangerang, yang menjadi lokasi pertemuan massa terakhir.
5 September 1951, ia singgah dahulu di Bendungan Pamarayan dan agenda terakhir menemui massa di Tangerang di lapangan olahraga.
Dalam pidatonya, ia memberikan gambaran tentang perjuangan kemerdekaan yang melahirkan Proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, serta mengenang tahun-tahun awal revolusi.
Dalam banyak catatan, tahun 1944 Bung Karno pernah mengunjungi Bayah, Kabupaten Lebak. Saat itu, ia berperan sebagai kolaborator Jepang dalam pengorganisasian romusha di Banten Selatan.
Romusha saat itu membangunan rel kereta api sepanjang 89 kilometer dari Saketi, Pandeglang, hingga tambang batu bara di Bayah Banten. Disanalah Bung Karno berpidato memberikan semangat kepada para romusha.
Ibu negara Fatmawati, juga pernah singgah di Rangkasbitung saat hendak menemui Bung Karno dari Bengkulu ke Jakarta.
Baca Juga: Kisah Cinta Soekarno dengan Hartini, Janda 5 Anak yang Setia Dampingi Bung Karno Hingga Tiada
Dari Pelabuhan Merak, Fatmawati dan keluarganya dijemput menggunakan mobil menuju Rangkasbitung.
Di sana, mereka menginap di rumah salah satu camat yang dikenal oleh Soekarno. Saat itu Sukarno sedang terlibat dalam kegiatan politik di Jawa Timur.
Keesokan harinya, keluarga camat tersebut mengantarkan rombongan Fatmawati ke stasiun Rangkasbitung.
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan kereta yang berangkat pukul 11.00, mengikuti rute Rangkasbitung-Tanah Abang.
Jalur ini menjadi saksi dari perjalanan Fatmawati untuk bertemu dengan suaminya, Bung Karno.***

