POJOKSATU.id - Masjid Mantingan menjadi salah satu masjid kuno di Indonesia yang menyimpan jejak akulturasi budaya begitu kuat.

Terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, masjid ini berjarak sekitar 5 kilometer ke arah selatan dari pusat Kecamatan Jepara dan dikenal pula dengan nama Masjid Astana Sultan Hadlirin.

Secara keseluruhan, kawasan ini bukan hanya bangunan masjid, melainkan kompleks yang terdiri atas masjid utama, area permakaman, serta museum sederhana yang menyimpan peninggalan sejarahnya.

Baca Juga: Tinggal Beberapa Hari! Ini Lafal Niat Qadha Puasa Ramadhan Jelang 1447 H

Keberadaannya menjadi saksi perkembangan Islam di pesisir utara Jawa pada abad ke-16.

Berdiri Sejak 1559 Masehi
Masjid Mantingan diperkirakan berdiri pada tahun 1559 Masehi.

Penanggalan tersebut merujuk pada prasasti di mihrab yang memuat candrasengkala berbunyi “rupa brahmana warna sari” yang menunjukkan angka 1481 Saka atau 1559 Masehi.

Baca Juga: Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh, Bolehkah Cukup Sekali? Ini Penjelasan Mazhab Maliki

Riwayat masjid ini tak lepas dari sosok Ratu Kalinyamat dan suaminya, Sultan Hadlirin, yang dimakamkan di kompleks tersebut.

Dalam tradisi Jawa, Ratu Kalinyamat dikenal sebagai putri Sultan Demak ketiga, Pangeran Trenggana.

Konon, pembangunan kompleks masjid dan makam ini dilakukan Ratu Kalinyamat untuk mengatasi kesedihannya setelah Sultan Hadlirin wafat akibat konflik perebutan takhta Demak.

Baca Juga: 10 Film Drama Indonesia Penuh Makna, Siap Bikin Hati Bergetar dan Banjir Air Mata

Arsitektur Perpaduan Tiga Budaya
Masjid Mantingan menampilkan akulturasi kebudayaan Hindu-Buddha, Jawa, dan Tionghoa yang menyatu dalam satu bangunan.

Tipologi masjid kuno Jawa terlihat dari konstruksi atap bersusun tiga yang disangga soko guru atau empat tiang utama, serta keberadaan serambi depan dan gapura lengkung.

Bentuk atap tumpang dan mustaka menunjukkan pengaruh arsitektur masa Majapahit yang berpadu dengan sentuhan Tionghoa.

Baca Juga: Bukan Dokter Biasa! Ini Profil dan Rekam dokter Piprim yang Dipecat Menkes dan Bikin Publik Heboh

Unsur Jawa tampak pada gapura masuk serta petilasan candi di dekat bangunan utama, meski kondisinya kini tidak lagi utuh.

Sastrawan Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya Arus Balik pernah menyebut masjid ini memiliki lantai tinggi berubin dengan undakan yang disebut berasal dari Makau.

Dinding bagian luar dan dalamnya dihiasi piring tembikar bergambar biru, memperkuat nuansa akulturasi budaya.

Baca Juga: BPJS PBI Dialihkan! Ini Fakta Sebenarnya, Peserta Tak Aktif Diganti yang Lebih Berhak Sesuai DTSEN

Relief Batu Padas yang Ikonik
Salah satu daya tarik utama Masjid Mantingan adalah panel-panel reliefnya.

Hiasan ini terpasang di dinding depan bangunan induk, juga di bagian belakang serta dinding pembatas ruangan.

Total terdapat 51 panel relief yang kini terpasang, dari jumlah awal 114 panel.

Baca Juga: Viral di X, Ini Kronologi Perang Digital KNetz vs Asia Tenggara: dari Konser DAY6 hingga Isu Rasisme

Relief tersebut terbuat dari batu padas dengan motif bercorak Tionghoa.

Bentuknya beragam, mulai dari persegi, lingkaran, heksagon, hingga menyerupai kelelawar.

Motif yang diukir berupa sulur, untaian tali, bunga, daun, hingga binatang yang telah distilir atau disamarkan.

Baca Juga: 6 Inspirasi Outfit Bukber Wanita Hijab yang Elegan, Tampil Modis Tanpa Berlebihan

Penelitian lanjutan bahkan menemukan enam panel tambahan dengan relief di kedua sisinya.

Temuan ini memperlihatkan transisi kesenian dari corak Hindu-Buddha menuju nilai-nilai Islam yang lebih simbolik dan non-figuratif.

Dipugar dan Tetap Terjaga
Pada 1977–1978, pemerintah melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah melakukan pemugaran lewat Proyek Pembinaan dan Pemeliharaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah.

Dalam proses tersebut ditemukan enam panel relief, balok batu putih, serta fondasi bangunan kuno.

Baca Juga: Kabar Gembira Pemudik! Ruas Cibadak–Sukabumi Barat Selama Arus Mudik dan Arus Balik Direncanakan Tanpa Tarif di Lebaran 2026

Masjid Mantingan bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah bukti nyata bahwa penyebaran Islam di Nusantara berlangsung secara damai melalui pendekatan budaya dan akulturasi.

Di tengah arus modernisasi, keberadaan masjid ini mengingatkan bahwa peradaban besar lahir dari pertemuan budaya yang saling menghormati.

Jejak sejarah di Mantingan bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga pelajaran tentang harmoni yang tetap relevan hingga hari ini.***