POJOKSATU.ID- Usai kekuasaan Orde baru jatuh, beredar kabar yang menyebut bahwa Soekarno berada dalam tekanan saat menyerahkan Supersemar.
Hal tersebut diungkap oleh Soekardjo Wilardjito, ajudan Soekarno.
Ia mengatakan bahwa 4 dari 2 jenderal suruhan Soeharto yakni Basuki Rachmat dan M Panggabean menodongkan pistol FN 46 ke arah Soekarno, sambil meminta Presiden Soekarno segera menandatangani surat tersebut.
Baca Juga: Review Lengkap Spesifikasi Vivo Y100 5G Super Canggih di Kelasnya, Terbaru Tahun 2024
Akhirnya karena di bawah todongan pistol dan risiko terjadinya pertumpahan darah, Soekarno mengalah dan bersedia meneken Supersemar.
Namun tudingan Soekardjo dibantah oleh Maraden. Ia mengaku tidak ikut menghadap Soekarno.
Bantahan juga disampaikan oleh M Yusuf dan Soebandrio yang ada di lokasi saat Supersemar diteken.
Insiden Soekarno ditodong senjata saat penandatanganan Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) adalah peristiwa kontroversial yang terjadi pada 11 Maret 1966.
Dimana Supersemar adalah sebuah surat perintah dari Presiden Indonesia pertama, Soekarno, yang memberikan wewenang ekstra konstitusional kepada Jenderal Besar Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu dalam menangani situasi yang dianggap darurat nasional saat itu.
Beberapa teori menyatakan bahwa itu adalah bentuk tekanan militer terhadap Soekarno, sementara yang lain menganggapnya sebagai bagian dari manuver politik di tengah ketegangan politik yang tinggi di Indonesia pada saat itu.
Baca Juga: Sahabat Ganjar Pranowo Gelar Rakor dan Konsolidasi untuk Pemenangan Ganjar-Mahfud di Pilpres 2024
Tidak ada keterangan resmi yang secara tegas menjelaskan detail peristiwa tersebut dan hubungannya dengan Supersemar.
Sebagian besar informasi yang ada didasarkan pada laporan-laporan saksi mata dan analisis sejarawan.
Peristiwa ini terjadi di tengah pergolakan politik dan ketidakstabilan di Indonesia pada masa itu, yang mengarah pada pergantian kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto.
Baca Juga: Respon Tim Kampanye DKI Prabowo-Gibran Soal Pernyataan Mahfud 'Receh' : Ketahuan Gak Bisa Jawab
Sejak saat itu, isu ini tetap menjadi titik perdebatan dan kontroversi dalam sejarah politik Indonesia. ***
