POJOKSATU.id — Tiap 23 April diperingati sebagai Hari Buku Sedunia.
Membaca bukan hanya jendela dunia, melainkan juga jembatan menuju pemikiran kritis dan wawasan luas.
Sejarah bangsa Indonesia mencatat, banyak tokoh pergerakan nasional yang menjadikan buku sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup mereka.
Dari lembaran-lembaran buku itulah ide kemerdekaan, semangat kebangsaan, hingga gagasan revolusi lahir dan berkembang.
Generasi muda Indonesia yang kala itu dikenal sebagai kaum terpelajar, bukan hanya mendapat julukan tersebut lantaran duduk di bangku sekolah kolonial.
Lebih dari itu, mereka memperluas cakrawala berpikir lewat buku-buku yang mereka baca, baik tentang politik, budaya, sosial hingga sastra.
Para pendiri bangsa kita, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara hingga Raden Ajeng Kartini, telah membuktikan bahwa cinta pada buku bisa menyalakan bara perjuangan.
Berikut kisah tentang mereka yang tumbuh bersama bacaan dan menjadikan literasi sebagai bahan bakar pemikiran.
Soekarno: Dari Buku Menjadi Bapak Bangsa
Sejak belia, Ir. Soekarno telah akrab dengan buku, terutama koleksi sang ayah yang berprofesi sebagai guru. Kegemarannya membaca semakin tumbuh saat ia bersekolah di Hogere Burger School (HBS) di Surabaya.
Di sana, perkenalannya dengan Tjokroaminoto — tokoh Sarekat Islam — memperluas cakrawala berpikirnya.
Tak hanya membaca buku, Soekarno juga aktif menyerap ilmu lewat diskusi di rumah Tjokroaminoto, di mana ide-ide tentang kebangsaan, sosialisme, dan kemerdekaan bertumbuh subur.
Dari biografi tokoh-tokoh dunia hingga pemikiran filsafat modern, semua ia lahap sebagai bekal menghadapi masa depan bangsanya.
Kecintaannya pada buku bahkan menyisakan cerita lucu yang diceritakan sang putri, Megawati Soekarnoputri.
Soekarno pernah menyetrap Mega lantaran lupa mengembalikan buku dan tak ingat halaman terakhir yang ia baca. Kisah ini ditulis dalam buku Seri Buku Saku Tempo: Bapak Bangsa-Sukarno (2017).
Sebagai penulis dan pemikir, Soekarno juga melahirkan sejumlah karya monumental seperti Di Bawah Bendera Revolusi dan pidato legendaris yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila.
Bagi Soekarno, membaca dan menulis adalah dua sisi mata uang dalam perjuangan.
Mohammad Hatta: Buku, Teman Sejati
Nama Mohammad Hatta tak bisa dilepaskan dari dunia literasi.
Dalam sebuah surat yang ia tulis dari balik tembok Penjara Glodok pada 20 April 1934 kepada T.A. Murad, Hatta menegaskan: "Aku bisa hidup di manapun, asal dengan buku."
Kalimat ini menjadi bukti betapa buku adalah bagian penting dalam hidupnya.
Bahkan menurut sejarawan J.J. Rizal, hubungan Hatta dengan buku ibarat gigi dengan gusi — dekat dan tak terpisahkan.
"Buat banyak orang penjara itu tempat yang buruk, tempat yang tidak ada enak-enaknya, tidak ada yang baik. Tapi buat Bung Hatta, penjara adalah ruang semedi, ruang pertapaan di mana orang bisa memperkuat watak, memperkuat iman, terutama jalannya adalah dengan membaca," kata Rizal.
Baca Juga: Bukan di Makam Pahlawan, Sang Proklamator Bung Hatta Minta Dimakamkan di Tempat Rakyat Biasa
Sejak remaja, Bung Hatta telah jatuh hati pada buku.
Perkenalan pertamanya terjadi berkat pamannya, Mak Etek Ayub, yang kerap membawakannya buku.
Toko Antiquariaat menjadi saksi awal kegemarannya berburu bacaan. Bahkan ketika menimba ilmu di Amsterdam, kamar Hatta nyaris penuh sesak oleh buku yang ia beli dengan uang tabungannya.
Dalam kehidupan rumah tangganya pun, cinta Hatta pada buku tak luntur.
Ia memberi maskawin kepada istrinya berupa buku tulisannya sendiri, Alam Pikiran Yunani, sebuah karya tentang filsafat. Ketika diasingkan ke Banda Neira dan Boven Digoel, Hatta tetap membawa 16 peti berisi buku sebagai bekal pemikiran.
Baca Juga: Momen Bersejarah Pertemuan Pertama Kali Bung Hatta dan Bung Karno di Bandung
Total, hingga tahun 1972, Hatta telah menerbitkan 42 judul buku, di luar ratusan artikel di berbagai media.
Gagasannya tentang koperasi pun lahir dari keprihatinannya pada kondisi ekonomi rakyat, hingga ia dihormati sebagai Bapak Koperasi Indonesia.
Ki Hadjar Dewantara: Kemerdekaan Berpikir
Ki Hadjar Dewantara dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional bukan tanpa alasan. Sejak muda, ia sudah aktif menulis kritik atas sistem pendidikan kolonial melalui media seperti De Express, Utusan Hindia, dan Kaum Muda.
Di masa itu, pendidikan hanya bisa diakses anak-anak Belanda dan priyayi.
Tulisan-tulisannya seperti Een voor Allen maar Ook Allen voor Een dan Als ik een Nederlander was membuat pemerintah kolonial gerah hingga akhirnya mengasingkannya ke Belanda bersama dua rekannya: Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, yang kemudian dikenal sebagai 'Tiga Serangkai'.
Selama di Belanda, Ki Hadjar tak berhenti belajar dan aktif dalam Perhimpunan Hindia (Indische Vereeniging).
Ia juga berhasil meraih ijazah Europeesche Akte, sebuah sertifikat pengajaran Eropa. Sepulang ke Indonesia, ia mendirikan Tamansiswa pada 13 Juli 1922 di Yogyakarta, lembaga pendidikan yang mengusung filosofi “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Ki Hadjar Dewantara juga merumuskan konsep kemerdekaan berpikir dalam pendidikan, sebuah pemikiran yang hingga kini menjadi fondasi penting dalam sistem pembelajaran di Indonesia.
R.A. Kartini: Menebus Pingitan dengan Buku
Raden Ajeng Kartini dikenal sebagai pelopor emansipasi perempuan Nusantara. Kecintaannya pada buku tumbuh sejak ia diperkenalkan oleh sang kakak, Raden Mas Panji Sosrokartono.
Di masa kecilnya, Kartini mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) dan menguasai bahasa Belanda dengan fasih.
Ketika memasuki usia remaja, tradisi pingitan yang membelenggunya justru menjadi ruang bebas bagi Kartini untuk memperdalam literasi.
Ia menghabiskan waktu dengan membaca berbagai bacaan penting mulai dari surat kabar De Locomotief, majalah De Hollandche Lelie, hingga karya sastra seperti De Stille Kracht karya Louis Couperus dan Max Havelaar karya Multatuli.
Lewat surat-suratnya kepada sahabatnya di Belanda, Abendanon, Kartini menuangkan keresahan dan gagasannya tentang hak perempuan pribumi.
Tulisan-tulisan Kartini juga banyak menghiasi jurnal dan surat kabar pada masa itu.
Salah satu karyanya yang terkenal adalah artikel Het Huwelijk de Kodja’s yang ia tulis di usia 16 tahun dan artikel tentang seni ukir Jepara yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Bijdrage Voor Taal, Land en Volkenkunde.
Kumpulan surat Kartini kemudian diterbitkan dalam buku Door Duisternis tot Licht, yang menjadi warisan pemikiran dan semangat bagi perempuan Indonesia hingga hari ini.
Kisah para pahlawan nasional ini menunjukkan bahwa membaca adalah kebiasaan yang membentuk karakter sekaligus menyalakan api perjuangan. ***

