POJOKSATU.id — Hari Bhakti Postel diperingati setiap 27 September di Indonesia.
Peringatan ini berkaitan dengan salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Hari Bhakti Postel bermula dari peristiwa pengambilalihan Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) dari pemerintahan Jepang oleh pemuda Indonesia pada 27 September 1945.
Pengambilalihan tersebut dilakukan oleh Angkatan Muda Pos, Telegraf, dan Telepon (AMPTT) di Bandung.
Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu tonggak sejarah perkembangan sektor pos dan telekomunikasi Indonesia.
Baca Juga: Hari Bhakti Pemasyarakatan ke-59, Wakil Wali Kota Binjai Tekankan Fokus Penanganan Stunting
Lantas, bagaimana sejarah Hari Bhakti Postel yang diperingati setiap 27 September?
Sejarah Hari Bhakti Postel tidak terlepas dari perjuangan pemuda Indonesia untuk mengambil alih fasilitas strategis milik Jawatan PTT setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Pada 3 September 1945, AMPTT menggelar pertemuan yang digerakkan oleh Soetoko.
Dalam pertemuan tersebut, para pemuda menyepakati bahwa Kantor Pusat PTT harus berada di bawah kekuasaan Indonesia paling lambat pada akhir September 1945.
Rencana tersebut muncul karena setelah Proklamasi Kemerdekaan, Kantor Pusat PTT di Bandung masih berada dalam penguasaan Jepang.
Baca Juga: Puncak Hari Bhakti Imigrasi Ke - 74 Tahun di Gelar di BIJB
Para pemuda kemudian berusaha mendapatkan penyerahan kekuasaan melalui jalur perundingan.
Pada 23 September 1945, Soetoko bersama sejumlah tokoh AMPTT membahas rencana pengambilalihan Jawatan PTT.
Mas Soeharto dan R. Dijar kemudian diminta menemui pimpinan PTT Jepang untuk mendesak agar kekuasaan diserahkan kepada bangsa Indonesia secara damai.
Namun, upaya tersebut tidak langsung membuahkan hasil.
Dalam perundingan pada 24 September 1945, pihak Jepang hanya mengizinkan pengibaran bendera Merah Putih di halaman belakang gedung PTT di Jalan Cilaki, Bandung.
Setelah beberapa kali perundingan tidak menghasilkan penyerahan kekuasaan, AMPTT mempersiapkan pengambilalihan Kantor Pusat PTT.
Baca Juga: Peringati Hari Bhakti Adhyaksa ke-64 Kejaksaan Negeri Sumber Gelar Serangkaian Kegiatan Sosial
Pada 26 September 1945, Soetoko menyampaikan rencana perjuangan AMPTT kepada Mas Soeharto.
Pada malam harinya, para anggota AMPTT mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk menjalankan rencana tersebut.
Penduduk dan organisasi perjuangan di sekitar Kantor Pusat PTT juga dihubungi untuk memberikan dukungan.
Sehari kemudian, tepat pada 27 September 1945, kembali dilakukan perundingan dengan pimpinan Jepang.
Namun, perundingan tersebut kembali tidak menghasilkan kesepakatan.
AMPTT kemudian menjalankan keputusan untuk mengambil alih Jawatan PTT.
Baca Juga: Hari Bhakti Pos dan Telekomunikasi ke-79, Dua Karyawan XL Axiata Terima Satyalancana Wira Karya
Para pemuda memasuki kantor yang masih dikuasai Jepang.
Dalam proses tersebut, pihak Jepang akhirnya menyerahkan senjatanya secara sukarela dan tidak lagi dapat mempertahankan penguasaan atas kantor tersebut.
Bendera Jepang kemudian diturunkan dan digantikan dengan Bendera Merah Putih yang dikibarkan di lokasi tersebut.
Masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu juga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Sekitar pukul 11.00, Soetoko di hadapan massa mengumumkan pengangkatan Mas Soeharto sebagai Kepala Jawatan PTT dan R. Dijar sebagai Wakil Kepala Jawatan PTT seluruh Indonesia.
Sejak saat itu, Jawatan PTT berada di bawah kekuasaan Indonesia dan tidak lagi dikuasai oleh pemerintahan Jepang.
Peristiwa pengambilalihan Jawatan PTT pada 27 September 1945 kemudian dikenang sebagai Hari Bhakti Postel.
Peringatan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pemuda AMPTT yang mengambil alih salah satu fasilitas penting negara tidak lama setelah Indonesia merdeka.
Baca Juga: Sejarah Universitas Wijaya Putra, Berawal dari Tiga Fakultas hingga Terus Berkembang
Sektor pos dan telekomunikasi pada masa itu memiliki peran strategis karena menjadi sarana komunikasi dan penyebaran informasi.
Oleh karena itu, penguasaan Jawatan PTT juga berkaitan dengan upaya menjalankan pemerintahan Republik Indonesia yang baru berdiri.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital juga mencatat 27 September 1945 sebagai salah satu tonggak perkembangan pos dan telekomunikasi Indonesia.
Peringatan Hari Bhakti Postel kemudian dilakukan setiap tahun melalui berbagai kegiatan, termasuk upacara dan pemberian penghargaan kepada insan di sektor pos dan telekomunikasi.
Makna Hari Bhakti Postel
Hari Bhakti Postel tidak hanya menjadi momentum untuk mengingat peristiwa sejarah pada 27 September 1945.
Baca Juga: Catat Sejarah, Setelah Membuka, Presiden Prabowo Kini Tutup Muktamar NU ke-35 di Jombang
Peringatan ini juga menjadi pengingat mengenai peran sektor pos dan telekomunikasi dalam mendukung konektivitas masyarakat dan pembangunan nasional.
Seiring perkembangan teknologi, sektor tersebut mengalami perubahan besar dari layanan pos, telegrap, dan telepon menuju ekosistem telekomunikasi serta teknologi digital.
Karena itu, semangat perjuangan AMPTT kemudian dikaitkan dengan upaya memperluas konektivitas dan menghadirkan layanan komunikasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.
Dengan demikian, Hari Bhakti Postel yang diperingati setiap 27 September memiliki akar sejarah pada pengambilalihan Jawatan PTT dari Jepang oleh AMPTT di Bandung pada 27 September 1945.
Peristiwa tersebut menjadi bagian dari rangkaian perjuangan mempertahankan kemerdekaan sekaligus salah satu tonggak sejarah perkembangan pos dan telekomunikasi di Indonesia.***

