POJOKSATU.id - Great Mosque of Xi’an menjadi salah satu masjid pramodern terbesar di China sekaligus bukti kuat jejak panjang Islam di Negeri Tirai Bambu. 

Masjid ini pertama kali dibangun pada 742 M di masa Dinasti Tang, ketika ibu kota saat itu, Chang’an—kini dikenal sebagai Xi’an—menjadi kota kosmopolitan dengan komunitas pedagang dan perajin non-Han yang cukup besar.

Pendirian masjid ini disebut sebagai titah Kaisar Xuanzong sekitar tahun 742 M untuk menyediakan tempat ibadah bagi komunitas Muslim yang bermigrasi dari wilayah Asia Barat. 

Pada periode yang hampir sama, masjid juga dibangun di kota pelabuhan seperti Quanzhou dan Guangzhou. 

Bukti penggunaan masjid pada masa Dinasti Song terlihat dari adanya plakat kekaisaran yang ditempatkan pemerintah Song di dalam kompleks masjid.

Seiring runtuhnya Dinasti Tang dan Song, sebagian besar bangunan awal tidak bertahan. 

Masjid ini mengalami sedikitnya empat kali rekonstruksi sebelum mencapai bentuknya saat ini. 

Pada 1260-an, pemerintah Dinasti Yuan membangun kembali masjid yang saat itu dikenal sebagai Huihui Wanshansi. 

Bentuk modernnya kemudian banyak ditentukan pada 1384 M di masa pemerintahan Kaisar Hongwu dari Dinasti Ming, yang mendukung rekonstruksi besar-besaran kompleks ini.

Tambahan penting lainnya dilakukan pada masa Dinasti Qing, termasuk gerbang depan, paifang, dan sebil. 

Sejumlah plakat bersejarah masih tersimpan di dalamnya, seperti "Declaration of the Reconstruction of the Musjid" tahun 1606 dari era Ming dan "Declaration to Fix the Musjid" tahun 1768 dari era Qing. 

Semua itu menjadi bukti nyata dukungan resmi pemerintah terhadap keberadaan masjid ini.

Pada 1956, pemerintah Republik Rakyat China menetapkan masjid ini sebagai Situs Sejarah dan Budaya yang Dilindungi di tingkat Provinsi Shaanxi. 

Namun, selama Revolusi Kebudayaan, masjid sempat ditutup dan dialihfungsikan menjadi pabrik baja. 

Setelah wafatnya Mao Zedong pada 1976, aktivitas keagamaan kembali diizinkan. 

Pada 1988, statusnya ditingkatkan menjadi Situs Sejarah dan Budaya Tingkat Nasional, dan pada 1997 masuk daftar 10 destinasi wisata terbaik di Xi’an.

Kini, masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah komunitas Muslim China, terutama etnis Hui. 

Great Mosque of Xi’an merepresentasikan tradisi Gedimu dalam Islam Sunni dengan mazhab Hanafi yang mayoritas dianut masyarakat Hui. 

Ruang salat utamanya mampu menampung hingga 1.000 jamaah, meski rata-rata sekitar 100 orang menghadiri salat Jumat. 

Wisatawan diperbolehkan masuk ke taman dan kompleksnya dengan membayar tiket, tetapi non-Muslim tidak diizinkan memasuki ruang salat utama.

Keunikan masjid ini bukan hanya pada usianya yang lebih dari 1.200 tahun, tetapi juga pada arsitekturnya yang menggabungkan gaya tradisional Tiongkok dengan fungsi masjid Islam. 

Tanpa kubah besar khas Timur Tengah, bangunannya justru menyerupai kompleks kuil Tiongkok dengan halaman bertingkat dan atap melengkung.

Great Mosque of Xi’an berdiri sebagai simbol harmoni lintas budaya dan agama. 

Ia bukan hanya rumah ibadah bagi umat Muslim, tetapi juga warisan sejarah bagi seluruh warga kota. 

Di tengah modernitas China, masjid ini seolah berbisik bahwa keberagaman pernah dan tetap menjadi bagian penting dari perjalanan sebuah peradaban.***