POJOKSATU.id - Wilayah Jambi merupakan salah satu daerah di Nusantara yang paling sebentar dijajah Belanda.
Belanda masuk ke tanah Jambi dengan misi perdagangan yang dilakukan oleh VOC pada tahun 1615.
Masa Kesultanan Jambi berakhir usai Sultan Thaha Syaifuddin gugur pada April 1904. Belanda pun berhasil menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi.
Lalu, gerakan-gerakan sosial pun terjadi di Jambi sejak tahun 1910 sampai tahun 1916 mempunyai ciri antara lain, bersifat lokal, tidak terorganisir, dan berumur singkat.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Ide Outfit Lari Wanita, Super Duper Nyaman!
Perlawanan rakyat Jambi yang cukup dominan terjadi ketika ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintahan Belanda, mendapat sambutan dari Sarekat Islam.
Seperti di daerah lain di Indonesia, anggota Sarekat Islam yang mula-mula adalah mereka dari golongan menengah yang terdiri dari pegawai dan pedagang.
Dalam waktu kurang dari 3 bulan Sarekat Islam di Jambi telah berhasil menarik anggota lebih dari 2.000 orang.
Baca Juga: 5 Manfaat Body Scrub yang Ampuh untuk Kecantikan Kulit!
Akan tetapi pada bulan Juli 1914 Residen Jambi memerintahkan supaya penerimaan anggota dibekukan sementara karena menurut pemerintah telah berakibat buruk, antara lain peristiwa kedemang Ali di Bangko.
Pada waktu perintah pembekuan dikeluarkan masih banyak calon anggota dari pedalaman yang masih menunggu untuk diambil sumpahnya.
Mereka ini kemudian berusaha menjadi anggota Sarekat Islam di Rawas sekarang bernama Palembang yang didirikan pada bulan Juni 1914 oleh Raden Gunawan.
Baca Juga: Perjuangan Berat Iwan Fals Bermain Musik di Masa Orde Baru : Dicekal, Ditahan Hingga Diinterogasi
Usaha mereka menemui kesulitan karena pada waktu itu perjalanan ke luar distrik memerlukan izin dari pemerintah kolonial Belanda.
Walau pun demikian penduduk Sarolangun dan Muara Tembesi secara diam-diam pergi ke Rawas untuk mendaftarkan diri, sehingga pada bulan Agustus 1915 dikabarkan bahwa hampir seluruh penduduk Lubuk Resam dan Tiga Dusun telah menjadi anggota Sarekat Islam.
Sarekat Islam di Rawas ini berlainan dengan Sarekat Islam yang berdiri di Jambi yang merupakan organisasi kelas menengah yang bergerak dalam usaha memperbaiki kondisi sosial ekonomi golongan bumiputera.
Baca Juga: Pegawai PDAM Indramayu Dipecat Gegara Edit Foto Megawati Pakai Bikini
Sebaliknya Sarekat Islam di Rawas yang berada di pedalaman merupakan organisasi rakyat yang radikal dan lebih dikenal sebagai Sarekat Abang.
Pemberontakan rakyat Jambi dimulai dengan beredarnya kabar pada tanggal 26 Agustus 1916, bahwa rakyat Jambi akan melakukan penyerangan.
Massa membakar tangsi, membuka paksa penjara dan membebaskan tahanan, merusak kantor pos, dan menjarah rumah-rumah orang China dan para pejabat.
Mereka juga melakukan pembunuhan terhadap seorang agen pemerintah, opsir kesehatan orang Jawa, dan pengurus rumah tangga seorang demang.
Baca Juga: Pegawai PDAM Indramayu Dipecat Gegara Edit Foto Megawati Pakai Bikini
Penduduk Muara Tembesi dipaksa menjadi anggota Sarekat Islam Pada saat serangan terjadi kontrolir dan Demang Arbain tidak berada di Muara Tembesi.
Selain di Muara Tembesi kerusuhan terjadi di hampir semua Ibu Kota Afdeeling, kecuali Muara Bungo, Kota Jambi, dan Kerinci.
Di Muara Bungo perlawanan rakyat sama sekali tidak sempat berkembang oleh karena tindakan keras kontrolir yang memerintahkan supaya tiga orang pemimpin yang tertangkap dijatuhi hukuman mati pada waktu itu juga.
Nasib orang Eropa yang berada di Sarolangun mencemaskan dan orang Eropa yang berada di Muara Tebo dikabarkan melarikan diri.
Baca Juga: Pakar Politik UMY Sebut Kubu Prabowo-Gibran sedang Ketakutan, Jokowi Keterlaluan
Di daerah Muara Tebo serangan pasukan Saerekat Islam terhadap pemerintah kolonial Belanda dilakukan pada tanggal 1 dan 2 September 1916.
Dalam serangan ini pasar Muara Tebo terbakar habis. Di daerah Bangko penyerangan dipimpin oleh Manna bin Andun yang berasal dari Semurung, Air Hitam.
Serangan dilakukan pada tanggal 11 September 1916 dengan kekuatan 1500 orang. Dalam serangan ini terjadi pembakaran rumah kontrolir, pasar dan beberapa rumah lain.
Baca Juga: Antisipasi Kecurangan Pemilu 2024, OSO Kumpulkan Pengurus dan Anggota BSN Partai Hanura
Keberanian massa melakukan penyerangan karena adanya keyakinan mereka tentang kekuatan yang tidak terlihat akan membantu mereka. Mereka melakukan serangan hanya bersenjatakan pisau.
Sasaran serangan adalah para pejabat lokal yang dianggap bekerja sama dengan ‘orang kafir’ dan kantor-kantor pemerintah.
Perlawanan rakyat di Muara Tembesi baru dapat diatasi pada tanggal 2 September 1916 dengan bantuan pasukan dari Palembang, dan Muara Tembesi dapat diduduki pemerintah kembali.
Korban dari pihak rakyat dalam penyerangan ini adalah 50 orang meninggal dunia. ***

