POJOKSATU.ID- Dualisme muncul pada transisi Orde Lama dan Orde Baru (1965-1967), ketika kondisi politik bergejolak, peristiwa G30S PKI dan perekonomian yang memburuk.
Puncaknya, pada 11 Maret 1966. Demonstrasi mahasiswa secara besar-besaran yang didukung tentara terjadi di depan Istana Negara.
Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) meminta Presiden Soekarno membuat Surat Perintah mengatasi situasi, yang dikenal sebagai Supersemar.
Baca Juga: KABAR FULL HEPI! Simak Alur Penetapan Nomor Induk PPPK, Pembayaran Gaji PPPK 2023 dan Tunjangan, Tanggal Ini Terima Gaji ke-13
Setelah menerima Supersemar, Soeharto yang mendapat kekuasaan membubaran PKI.
Soekarno yang diasingkan tak bisa berbuat banyak apalagi mencabut supersemar.
Alhasil muncul dualisme kepemimpinan di masyarakat, dengan sebagian setuju terhadap tindakan Soeharto dan sebagian lagi tetap setia kepada Soekarno.
Baca Juga: Sosok Ustaz yang Pingsan Saat Doakan Prabowo Jadi Presiden 2024, Ternyata Ulama Kharismatik di Banyuwangi
Pada pertengahan 1966, pertanggung jawaban Soekarno ditolak MPRS dan pada 22 Februari 1967, Soekarno menyerahkan pemerintahan kepada Soeharto, yang kemudian diresmikan oleh MPRS sebagai presiden.
Dualisme kepemimpinan nasional antara Soekarno dan Soeharto mencerminkan transisi politik yang signifikan dalam sejarah Indonesia.
Periode ini ditandai oleh pergolakan politik dan perubahan dalam kepemimpinan negara.
Baca Juga: Beredar Foto Selvi Ananda ke Supermarket Pakai Tas Hermes, Kaos Oblongnya Jadi Sorotan
Perbedaan Gaya Kepemimpinan: Soekarno dan Soeharto memiliki gaya kepemimpinan yang sangat berbeda.
Soekarno dikenal sebagai orator dan nasionalis, sementara Soeharto cenderung lebih otoriter dan fokus pada stabilitas dan pembangunan ekonomi.
Perubahan Politik dan Sosial: Transisi dari Soekarno ke Soeharto mencerminkan perubahan besar dalam dinamika politik dan sosial Indonesia, dari era revolusioner menuju periode yang lebih stabil dan pembangunan ekonomi.
Baca Juga: Mengenal Sosok Bintang Pelajar Siti Fatimah di SMAN 7 Bogor yang Miliki Prestasi Luar Biasa!
Dualisme kepemimpinan antara Soekarno dan Soeharto mencerminkan dinamika yang kompleks dan sering kali kontroversial dalam sejarah modern Indonesia, termasuk tantangan dan perubahan yang dialami oleh negara tersebut selama puluhan tahun. ***
