POJOKSATU.id — Delapan puluh tahun silam, suasana pagi Jumat, 17 Agustus 1945, bukan sekadar hari bersejarah bagi bangsa Indonesia.

Hari itu juga bertepatan dengan 9 Ramadan 1364 Hijriah, saat umat Muslim tengah berpuasa.

Di halaman rumahnya di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat (kini Jalan Proklamasi), Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Namun, ada momen yang jarang terdengar dalam sejarah.

Sesaat setelah pembacaan teks proklamasi, Bung Karno memejamkan mata, mengangkat tangan, dan berdoa dengan khusyuk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Baca Juga: Belum Banyak yang Tahu, Perang Dayak Desa, Kisah Perlawanan Gagah Berani Suku Dayak Melawan Jepang di Tanah Borneo

Doa itu ia panjatkan sebagai ungkapan syukur dan permohonan kekuatan bagi rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diraih setelah lebih dari tiga abad penjajahan.

Di belakang Bung Karno, tampak dr Muwardi—Kepala Barisan Pelopor—yang memimpin barisan termasuk satuan PETA (Pembela Tanah Air). Terlihat pula Sudiro, Wali Kota Jakarta Raya kala itu, berdiri sambil mengenakan kacamata.

Sejarawan mencatat, banyak foto Proklamasi 17 Agustus 1945 yang jarang dipublikasikan. Foto Soekarno berdoa usai proklamasi adalah salah satunya.

Selain itu, ada beberapa bidikan kamera yang merekam Bung Karno usai memimpin doa, hingga momen kedatangan sekitar 100 pemuda bersenjata bambu runcing yang tiba setelah teks proklamasi dibacakan.

Baca Juga: Perang Padri, Dari Pergulatan Adat dan Agama Hingga Jejak Kolonial

Saat itu, para pemuda itu mendesak Bung Karno untuk mengulang pembacaan teks.

Namun, permintaan itu ditolak. Sebagai gantinya, Bung Karno, Bung Hatta, dan Wakil Wali Kota Jakarta saat itu menyampaikan pidato singkat.

Setelah acara resmi di Jalan Pegangsaan 56 selesai, para tokoh itu berjalan bergabung bersama ratusan pemuda dan masyarakat yang memadati kawasan tersebut.

Baca Juga: Dipilih Bung Karno sebagai Penggantinya, Disebut sebagai Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka Ditembak Mati di Tengah Gejolak Revolusi, Mengapa?

Dalam suasana itu, hadir pula tokoh-tokoh nasional seperti Dr. Radjiman Wedyodiningrat, Tengku Moh. Hasan, Sam Ratulangi, dan lainnya—banyak di antaranya terekam dalam foto.

Umumnya foto proklamasi yang kita temukan adalah foto karya Frans Mendoer yang berhasil diselamatkan.

Namun, salah satu foto Bung Karno usai berdoa itu menjadi salah satu momen yang mengungkap bagaimana presiden pertama itu meyakini doa dan syukur kepada Allah SWT.

Bahkan ia juga sangat yakin dalam perhitungan hari dan tanggal yang selalu dikaitkannya dengan momen Islam, termasuk hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Spirit Angka 17 di Mata Bung Karno

Dalam biografinya An Autobiography: As Told to Cindy Adams (1965), Bung Karno mengungkapkan bahwa pemilihan tanggal 17 Agustus telah ia rencanakan jauh sebelum proklamasi.

Saat masih berada di Saigon pada 12 Agustus 1945, setelah diundang oleh Marshal Hisaichi Terauchi, ia sudah mantap memilih 17 tanggal untuk melakukan proklamasi kemerdekaan.

Baca Juga: Sejarah Sastra Indonesia, Periodesasi dari Zaman Melayu Hingga Era Digital, Jejak Panjang Sarat Makna

“Saya seorang yang percaya pada mistik... Hari Jumat ini Jumat Legi. Jumat yang berbahagia. Jumat suci. Dan hari Jumat adalah tanggal 17. Al Quran diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat sehari. Kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia,” ujarnya.

Perjalanan Spiritual Bung Karno

Pemahaman agama Bung Karno yang sangat mendalam memang tidak datang sejak kecil.

Ayahnya seorang Muslim yang cenderung pada teosofi, sementara ibunya menganut Hindu.

Ia mulai mengenal Islam saat tinggal di rumah H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya, sering mengikuti ceramah Muhammadiyah, dan berkenalan dengan Ahmad Dahlan.

Namun, titik baliknya terjadi saat ia dipenjara di Sukamiskin oleh Belanda.

Tidak diizinkan membaca buku politik, ia justru mendalami Al Quran setiap pagi.

“Orang takkan meragukan adanya Tuhan kalau dia pernah berada dalam kegelapan selama bertahun-tahun,” katanya dalam Soekarno Penyambung Lidah Rakyat.

Baca Juga: Jejak Bung Karno di Rangkasbitung dan Banten, Kata Suku Baduy Satu-satunya Presiden Hanyalah Soekarno

Sukarno mengatakan, dengan membaca pemikiran dan sabda Nabi Muhammad ia tidak lagi mencari-cari buku sosiologi di penjara Sukamiskin.

Dahaga intelektualnya terpuaskan dengan memperdalam ilmu agama Islam selama di penjara.

Sejak dari Surabaya, pengaruh Islam sudah terlihat kuat dalam diri Sukarno.

Sejarawan Ongkhoam dalam artikelnya Sukarno: Mitos dan Realitas menulis, pada tahun 1911 Sukarno mulai menerbitkan tulisan-tulisan pertamanya di penerbitan nasionalis Oetosan Hindia.

Dalam salah satu tulisannya, ia menegaskan: “Hancurkan segera kapitalisme yang dibantu oleh budaknya imperialisme. Dengan kekuatan Islam, InsyaAllah itu segera dilaksanakan.”

Sejarawan Peter Kasenda menilai periode Sukamiskin menjadi masa penting perkembangan pemikiran Islam Bung Karno, meski ia mempelajarinya lewat bahasa Belanda dan Inggris.

Semangat ini berlanjut ketika ia diasingkan ke Ende, Flores, di mana ia berkorespondensi dengan T.B. Hasan, pendiri Persatuan Islam, untuk meminta buku-buku agama seperti Pengajaran Shalat, Utusan Wahabi, Debet Talqien, Al-Muchtar, Al-Burhan hingga kitab Al-Jawahir.

Baca Juga: Jejak Partai Islam di Indonesia, Dari Presiden Soekarno Hingga Reformasi, Dinilai Gagal Meraih Suara, Ada yang Memudar Hingga Bubar

Dari Surabaya hingga Ende, dari penjara hingga podium proklamasi, jejak spiritual Bung Karno tak pernah lepas dari keyakinan akan kekuatan doa—termasuk doa khusyuk yang ia panjatkan pada pagi Ramadan di tahun kemerdekaan itu.

Bagaimana menurut bapak ibu?

Tulis di kolom komentar ya.

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: