POJOKSATU.id – Saat di meja makan, kalimat ini sering kali terucap: "Enggak usah pakai sendok, pakai tangan saja lebih sedap."

Entah saat menyantap nasi padang, ayam penyet, atau sekadar nasi bungkus di warung pinggir jalan.

Ada keyakinan diam-diam di situ, bahwa rasa makanan bisa benar-benar keluar ketika disentuh langsung oleh jari-jari kita.

Kebiasaan makan dengan tangan memang bukan hal sepele. Ia bukan sekadar cara memenuhi perut, melainkan bagian dari sejarah panjang bagaimana orang Nusantara berhubungan dengan makanan.

Baca Juga: Huawei Watch GT 6 Resmi Hadir, Tahan Baterai 21 Hari Siap Tantang Apple Watch

Sebelum sendok dan garpu, sebuah alat yang dibawa pedagang dan kolonial Eropa abad ke-16 mendarat di tanah ini, tanganlah yang sejak awal menjadi perpanjangan tubuh untuk menyuapkan nasi, lauk, dan umbi-umbian ke mulut.

Profesor Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, menyebut makan dengan tangan adalah kebiasaan asli bangsa Indonesia.

Menurutnya, kebiasaan ini erat kaitannya dengan tradisi menyantap nasi bungkus, yang sejak lama dikenal baik di Sumatera maupun Jawa.

Di dua pulau itu, orang-orang terbiasa menggunakan jari mereka, atau bahkan seluruh sepuluh jari hanya untuk meraih nasi dan lauk.

Baca Juga: Daniel Radcliffe dan Gary Oldman Kompak Tak Mau Terlibat di Serial Harry Potter Reboot

Pakar kuliner Arie Parikesit sependapat. Ia mengingatkan bahwa sendok dan garpu hanyalah “tools” yang datang belakangan.

Kata “garpu” sendiri berasal dari bahasa Portugis, garfo. Alat itu diperkenalkan di Nusantara ketika bangsa Eropa datang mencari rempah.

Tapi, meski sendok dan garpu akhirnya masuk dapur-dapur kita, tangan tetap bertahan sebagai cara makan yang otentik.

Arie mencontohkan nasi ramas atau nasi rames sebuah masakan nasi dengan lauk-pauk ala Padang, Sunda, atau Jawa.

Merupakan makanan yang sejak lama dimakan dengan tangan.

Dari situ, terlihat jelas bahwa kebiasaan ini bukan sekadar cara praktis, tetapi tradisi yang punya makna sosial.

Di Timur Indonesia, orang lebih sering makan umbi-umbian.

Di sana pun, tangan dipakai untuk menyantap makanan pokok, meski makanan berkuah biasanya dimakan dengan suru, sendok sederhana dari daun pisang.

Baca Juga: Ketua MPR Sebut Ada 2 'Hantu' di Indonesia Solusinya MBG, CKG dan Sekolah Rakyat

Seolah-olah tangan dan alam saling melengkapi, menghadirkan alat secukupnya tanpa perlu benda asing dari luar.

Di Jawa, cara makan dengan tangan bahkan punya banyak istilah. Ada “muluk”, “kenduri”, hingga “ngaliwet.”

Ketiganya menggambarkan praktik makan yang berbeda, tetapi intinya sama: kebersamaan.

Muluk, misalnya, dilakukan dengan jari-jari yang membentuk kerucut kecil. Makanan diambil secukupnya, lalu jari ditempelkan ke mulut.

Baca Juga: Cek Model Pembelajaran di Sekolah Rakyat Bikin Firdaus tak Ragu Tinggalkan SMAN Usai Lolos SPMB

Cara ini lazim terlihat dalam acara selamatan, terutama ketika menyantap tumpeng bersama-sama.

Kenduri berbeda lagi. Makanan sudah dijatah di piring atau besek bambu, lalu disantap dengan tangan.

Sedangkan ngaliwet atau biasa disebut ngeliwet lebih identik dengan tradisi Sunda.

Dimana nasi dan lauk ditata di atas daun pisang lebar, orang-orang duduk lesehan di tikar, lalu makan beramai-ramai dengan tangan.

Prof. Murdijati menyebut bahwa pola makan semacam ini adalah simbol keakraban.

Duduk di lantai, bersila, berbagi lauk, dan menyuap makanan dengan tangan menciptakan suasana egaliter.

Tidak ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Semua setara di hadapan nasi dan lauk sederhana di atas daun pisang.

Sejarah dan antropologi mencatat, praktik ini juga punya dimensi spiritual.

Dalam Islam, Nabi Muhammad menganjurkan makan dengan tangan, terutama tiga jari: ibu jari, telunjuk, dan jari tengah.

Baca Juga: Cara Mudah Pindah BPJS Kesehatan PBI ke Mandiri September 2025

Tradisi Jawa memodifikasi itu dengan melibatkan lima jari sebagai satu kesatuan gerak.

Ada filosofi tentang kesederhanaan, kerja keras, dan rasa syukur atas apa yang dimakan.

Sosiolog melihat kebiasaan ini lebih jauh: makan pakai tangan menumbuhkan rasa kebersamaan.

Di pesantren salaf, misalnya, muluk dilakukan bersama di atas daun pisang panjang.

Baca Juga: Cara Praktis Bersihkan Kulkas dengan Bahan Dapur Sederhana, Modal di Bawah Rp10 Ribu!

Tidak ada piring pribadi; semua berbagi. Selain menghemat tenaga mencuci piring, praktik ini mempererat tali persaudaraan.

Namun, zaman berubah. Di banyak meja makan modern, tangan mulai kalah pamor.

Alasan klasiknya: ribet, bikin jari bau, atau dianggap kurang higienis. Sendok dan garpu dianggap lebih praktis.

Bahkan nasi padang pun kini kerap disantap dengan alat makan, bukan tangan.

Tetapi menurut Arie, sendok dan tangan tak harus dipertentangkan. Keduanya kini berdampingan.

Orang bisa memilih sesuai konteks, pakai sendok untuk makanan berkuah, pakai tangan untuk lauk kering.

Justru harmoni itu yang membuat tradisi makan orang Indonesia unik.

Pada akhirnya, makan dengan tangan adalah cara yang bertahan sekaligus beradaptasi.

Ia tidak lenyap ditelan modernitas, tetapi berubah menjadi pilihan yang terus hidup.

Baca Juga: 63 Sekolah Rakyat Dibuka, Semua Fasilitas Gratis, Dapat Seragam dan Laptop, Makan 3x Sehari Ditanggung sampai Pemeriksaan Kesehatan Rutin

Dari nasi bungkus sederhana hingga hajatan besar, tangan selalu kembali ke meja makan sebagai pengingat siapa kita.

Bangsa yang menilai kebersamaan lebih penting daripada protokol makan.

Dan mungkin benar, bahwa nasi yang disantap dengan tangan terasa lebih nikmat.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android dan Versi iOS

Channel Whatsapp Pojoksatu.id serta Fanpage Edugov

Bukan semata karena jari-jari ikut merasakan tekstur makanan, tetapi karena kebiasaan ini membawa kita lebih dekat dengan asal-usul dan dengan sesama.***