POJOKSATU.id - Tidak semua lagu perjuangan lahir dengan suara perang. Sebagian justru muncul dari nada-nada yang mengajak sebuah bangsa untuk bangun dan percaya bahwa hari baru akan datang.
Salah satunya adalah Di Timur Matahari, lagu ciptaan W.R. Soepratman pada 1931.
Lagu yang hanya terdiri dari empat baris syair itu menyimpan semangat yang sangat kuat: seruan kepada pemuda Indonesia untuk bangkit, berdiri, mengatur barisan dan bersatu.
Kajian sejarah tentang karya-karya Soepratman menempatkan lagu ini sebagai salah satu dari 11 karya yang diciptakannya untuk menumbuhkan wawasan kebangsaan pada 1926-1938.
Baca Juga: Tren Open Space Mulai Berubah? Ini Alasan Sekat Ruangan Kembali Dibutuhkan
Lahir setelah Indonesia Raya
Ketika Di Timur Matahari diciptakan, Soepratman bukan lagi seorang pencipta lagu yang asing bagi kaum pergerakan.
Tiga tahun sebelumnya, ia telah memperdengarkan Indonesia Raya dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928. Lagu itu kemudian menjadi simbol persatuan pemuda.
Namun, setelah momentum Sumpah Pemuda, perjuangan belum selesai.
Indonesia masih berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Semangat persatuan yang telah tumbuh perlu terus dipelihara.
Dalam sebuah kajian sejarah, peneliti menyebut Di Timur Matahari sebagai lagu yang "bersemangat membangun, menggugah dan merangsang jiwa pemuda" untuk menyongsong cahaya dari timur, yang dimaknai sebagai cahaya menuju Indonesia merdeka.
Di sinilah lagu tersebut menemukan maknanya.
Soepratman seakan tidak ingin generasi muda berhenti pada ikrar persatuan. Mereka harus bergerak.
Matahari sebagai lambang harapan
Kalimat pembuka lagu ini langsung menghadirkan sebuah gambaran:
Baca Juga: Kenapa Kelelawar Sering Masuk Rumah? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya
"Di timur matahari mulai bercahaya."
Matahari yang terbit menjadi simbol datangnya hari baru.
Dalam kajian terhadap karya-karya Soepratman, gambaran tersebut dipahami sebagai simbol cahaya dan harapan menuju kemerdekaan Indonesia.
Lagu itu kemudian dilanjutkan dengan ajakan kepada kawan-kawan untuk bangun, berdiri dan mengatur barisan.
Dengan demikian, matahari dalam lagu ini bukan sekadar fenomena alam.
Baca Juga: Jolla Phone Resmi Diperkenalkan, HP Linux dengan Tombol Privasi dan Baterai 5.500 mAh
Ia adalah metafora bagi masa depan.
Malam menggambarkan keadaan bangsa yang masih berada dalam penjajahan.
Sementara matahari yang mulai muncul membawa bayangan bahwa zaman baru dapat segera tiba.
Bukan sekadar lagu untuk didengar
Kekuatan Di Timur Matahari justru terletak pada kesederhanaannya.
Syairnya pendek, tetapi hampir setiap kalimat berisi seruan.
Baca Juga: Mulai 2029, Pendopo Kota Bandung Tak Lagi Jadi Rumah Wali Kota, Disiapkan Jadi Museum
Bangun.
Berdiri.
Mengatur barisan.
Lalu bergerak sebagai pemuda dan pemudi Indonesia.
Kajian sejarah mengenai lagu-lagu Soepratman menyimpulkan bahwa karya-karyanya memang memiliki tujuan menumbuhkan wawasan kebangsaan.
Di Timur Matahari secara khusus diarahkan untuk menggugah semangat pemuda agar memiliki kesadaran tentang persatuan dan perjuangan.
Karena itu, lagu tersebut lebih tepat dipahami sebagai lagu penggerak daripada sekadar lagu patriotik.
Baca Juga: Mulai 2029, Pendopo Kota Bandung Tak Lagi Jadi Rumah Wali Kota, Disiapkan Jadi Museum
Ia tidak hanya mengatakan bahwa Indonesia harus merdeka.
Ia mengajak generasi yang akan mewarisi Indonesia untuk bersiap menyambut kemerdekaan itu.
Empat baris tentang persatuan
Syair Di Timur Matahari yang singkat berbunyi:
Di timur matahari mulai bercahaya
Bangun dan berdiri kawan semua
Marilah mengatur barisan kita
Pemuda pemudi Indonesia
Empat baris tersebut menggambarkan gagasan yang sederhana tetapi kuat.
Baca Juga: Alun-alun Kota Bandung Dibuka Lagi, Farhan Tegaskan PKL Dilarang Masuk Taman
Matahari terbit adalah pertanda waktu untuk bangun.
Pemuda diminta berdiri, kemudian mengatur barisan. Pada akhirnya, semua diarahkan kepada satu identitas: pemuda-pemudi Indonesia.
Di tengah masyarakat yang masih berhadapan dengan politik kolonial dan perbedaan latar belakang daerah, penyebutan "Indonesia" memiliki arti penting.
Ia memperkuat identitas bersama yang sedang dibangun.
Warisan pemikiran Soepratman
Di Timur Matahari juga memperlihatkan bagaimana Soepratman konsisten menggunakan musik sebagai bagian dari perjuangan.
Baca Juga: Suara Merdu Shanna Nyanyikan Lagu Tanah Airku Sukses Teteskan Air Mata Mensesneg hingga Teddy
Sebelum lagu ini, ia telah menciptakan Indonesia Ibuku, Bendera Kita, Bangunlah Hai Kawan dan Raden Adjeng Kartini.
Setelahnya, ia masih menciptakan karya-karya lain, termasuk Mars Parindra, Mars Surya Wirawan dan Matahari Terbit.
Sebuah brosur sejarah tentang karya-karyanya bahkan menyebut ciri khas lagu-lagu Soepratman adalah tema semangat kebangsaan yang kuat.
Maka, Di Timur Matahari bukan karya yang berdiri sendiri.
Ia merupakan bagian dari perjalanan panjang seorang komponis yang menjadikan musik sebagai cara untuk menanamkan keberanian dan kesadaran kebangsaan.
Baca Juga: Anggaran Berkurang Rp1 Triliun, Dadang Supriatna Puji Gotong Royong Warga Kabupaten Bandung
Matahari yang terus terbit
W.R. Soepratman meninggal dunia pada 17 Agustus 1938, tujuh tahun sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Ia tidak pernah melihat matahari kemerdekaan yang selama hidupnya dibayangkan.
Namun, lagu-lagunya tetap tinggal.
Di Timur Matahari menjadi salah satu pengingat bahwa kemerdekaan yang kemudian diraih pada 1945 tidak muncul tiba-tiba.
Jauh sebelumnya, ada generasi yang menyiapkan kesadaran, membangun persatuan dan menanamkan keberanian melalui berbagai cara.
Soepratman memilih berjuang dengan musik. ***

