POJOKSATU.id, JAKARTA-- Pada rukuk rakaat kedua, tiba-tiba terdengar pekik suara takbir di barisan ke empat yang berjarak kurang dari 6 meter dari posisi Presiden Soekarno.
Kemudian cepat disusul dengan beberapa kali suara letusan pistol.
Komandan Detasemen Kawal Pribadi Presiden Sukarno, Kompol Mangil Martowidjojo, dan wakilnya Sudiyo, bergegas melindungi Soekarno.
Sedangkan Soedrajat, anggota DKP yang berada belakang Soekarno, membalikkan badan dengan cepat mencabut pistol.
Namun Soedrajat lebih dulu tertembak, jatuh berlumuran darah di belakang Soekarno.
Baca Juga: Jeda Sampai 4 Hari, KPK Ternyata Sudah Berusaha Tangkap Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor, Tapi Tak Ketemu
Soesilo yang juga seorang anggota DKP, segera memutar badan ke belakang, ikut terkena peluru di pelipis kepalanya.
Satu peluru lagi mengenai bahu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) KH Zainul Arifin.
Setelah menembak dua kali, sambil membungkuk, pelaku kemudian mencoba mendekati Soekarno.
Seseorang yang bernama Sribusono kemudian menendang kaki pelaku, sehingga membuat jatuh.
Dibantu oleh Musawir, Sribusono menindih penembak. Selanjutnya, pistol dirampas dan pelaku diringkus.
Kejadian penembakan Presiden Soekarno saat Idul Adha ini terjadi pada 14 Mei 1962.
Peristiwa itu dikisahkan dalam buku Mengincar Bung Besar - Tujuh Upaya Pembunuhan Presiden Sukarno (2017), terbitan Penerbit Buku Kompas.
Dikutip dari artikel berjudul "Tembakan di Hari Raya Kurban" yang ditulis Hendri F Isnaeni, shalat Idul Adha kala itu digelar di halaman Istana Merdeka.
Ketika shalat memasuki rakaat kedua, tiba-tiba terdengar suara tembakan dan seruan takbir. Mangil Martowidjojo, anggota Detasemen Kawal Pribadi (DKP), langsung melindungi Soekarno.***

