POJOKSATU.id - Usul penggabungan Jawa Barat dan Jakarta sebenarnya berawal dari sindiran Solihin GP kepada Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta saat itu.

Jauh setelah Solihin GP menyindir Ali Sadikin, wacana penggabungan Jawa Barat dan Jakarta malah seolah-olah serius.

Meski bukan karena alasan sindiran Mang Ihin - panggilan akrab Solihin GP - kepada Ali Sadikin, wacana penggabungan Jawa Barat dan Jakarta pernah kembali dimunculkan diantaranya oleh Dedi Mulyadi, saat menjabat sebagai anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat daerah pemilihan Jawa Barat VII.

Dedi Mulyadi mengusulkan penggabungan Jawa Barat dan Jakarta untuk membentuk provinsi baru bernama Jabar Raya, namun alasannya berbeda dengan sindiran yang pernah dilakukan Mang Ihin kepada Bang Ali, sebutan untuk Ali Sadikin.

Baca Juga: Batulayang, Sejarah Panjang Kabupaten yang Menghilang di Jawa Barat

Pada saat itu Dedi Mulyadi menyebutkan alasan penggabungan Jawa Barat dan Jakarta karena pusat perdagangan Kerajaan Pajajaran itu berada di Sunda Kelapa yang kini menjadi Jakarta.

Ide penggabungan Jawa Barat dan Jakarta bahkan meluas dengan menyatukan Banten yang pernah menjadi bagian dari Jawa Barat.

Wilayah tersebut sempat diusung bersatu menjadi Provinsi Sunda Raya, mengacu pada Maklumat Sunda tahun 2022 dari Gerakan Pilihan Sunda dan Lembaga Adat Kratwan Galuh Pakuan yang mengatasnamakan keinginan masyarakat Sunda membangun sebuah konsep otonomi khusus Sunda Raya.

La Nyalla Mattalitti yang saat itu menjabar sebagai Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, diketahui mendukung pernyataan masyarakat Sunda tersebut untuk mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda.

Namun Gubernur Jawa Barat saat itu, Ridwan Kamil serta sejumlah tokoh lainnya, menganggap rencana ini hanyalah sebatas kabar angin.

Baca Juga: Sejarah Kebun Raya Bogor dari Kerajaan Sunda ke Tangan Belanda

Ridwan menegaskan proses penggabungan bukanlah perkara mudah, melainkan harus melewati serangkaian tahapan yang panjang dan mendapatkan persetujuan dari pemerintah pusat.

Gagasan 'nakal' yang dilemparkan Mang Ihin kepada Bang Ali, berbeda ceritanya. Bukan seriusan begitu.

Ceritanya bermula ketika Solihin GP terpilih menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat pada tahun 1970 hingga 1974, bertemu dengan Ali Sadikin di Jakarta.

Sebagai Gubernur Jawa Barat yang baru, Solihin merasa penting untuk berkonsultasi dengan Ali Sadikin mengenai strategi pembangunan di wilayahnya.

Baca Juga: BERAS MAKIN MAHAL, Padahal Dulu Indonesia Bisa Kirim Bantuan 700 Ribu Ton Beras ke India, Ini Kisah Diplomasi Beras Gaya Sutan Sjahrir

Mang Ihin waktu itu baru menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat pada tahun 1970, sedangkan Bang Ali telah memimpin Jakarta selama empat periode.

Prestasi-prestasi Ali Sadikin dalam pembangunan Jakarta itulah yang membuat Solihin merasa perlunya belajar pada gubernur ibu kota tersebut.

Dalam buku 'Cendramata 80 Tahun Solihin GP', dijelaskan bahwa Solihin sempat tersinggung karena Ali Sadikin terkesan ingin 'mengambil alih' wilayah perbatasan yang menurutnya tidak mampu diurus oleh Jawa Barat.

"Jawa Barat tidak bisa melakukan pembangunan, sedangkan saya didesak oleh masyarakat agar memperluas daerah perbatasan antara DKI Jakarta dan Jawa Barat," ujar Bang Ali saat itu.

Ali Sadikin lalu melanjutkan, "Untuk itu, agar diikhlaskan saja saya membangun daerah perbatasan itu. Apalagi kan kita sama-sama dilahirkan di Jawa Barat," kata Bang Ali sambil menunjuk peta Kabupaten Bekasi, Tangerang dan sebagian wilayah Kabupaten Bogor.

"Wah ini kurang ajar banget," celetuk Mang Ihin dalam hati. Meskipun merasa disepelekan oleh Ali Sadikin, Solihin tetap tersenyum.

Baca Juga: Riwayat Jembatan Otista Bogor yang Diresmikan Jokowi, Thomas Karsten Habiskan 80.000 Gulden Demi Pengembangan Kawasan

Alih-alih naik pitam, dia justru menyindir balik Bang Ali kenapa dia tidak sekalian saja menyatukan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.

"Kalau Bang Ali ahli strategi yang ulung dan hebat, jadikan saja Jawa Barat dan DKI Jakarta satu provinsi," sindir Mang Ihin kepada Bang Ali.

Begitu cerita pertemuan Mang Ihin dan Bang Ali saat muncul gagasan iseng penggabungan Jawa Barat dan Jakarta.

Konon, karena peristiwa itu Solihin GP dan Ali Sadikin lalu saling berlomba-lomba membangun wilayah masing-masing.

Sampai-sampai muncul istilah 'perang daerah' atau 'perang wilayah' di perbatasan antara Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Namun, persaingan ini justru sejalan dengan pembangunan yang positif bagi kedua provinsi, yang pada akhirnya memberikan manfaat besar bagi kemajuan di Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Usai perbincangan itu, wilayah Jawa Barat mengalami kemajuan yang pesat di tangan Solihin GP.

Baca Juga: Mantan Gubernur Jawa Barat Solihin GP Berpulang, Dimakamkan Siang Ini di TMP Cikutra, Pernah Jadi Komandan TKR di Bogor

Berbagai industri seperti industri semen Kaisar di Cibinong. Kaisar Cement adalah pabrik asal Amerika Serikat yang bisa memproduksi semen 1,2 juta ton per tahun dan saat itu memasok pembangunan jalan tol Jagorawi yang menghubungkan jalan raya Jakarta dengan Bogor.

Lalu Pabrik Semen Tiga Roda didirikan di Bekasi, serta pabrik tekstil di Tangerang.

Selain itu, menyadari potensi cuaca sejuk di Puncak, Solihin juga membangun tempat rekreasi Taman Safari.

Mang Ihin juga sukses menangani persoalan pangan di Indramayu dengan cara memasyarakatkan padi gogo rancah.

Setelah berhasil membangun wilayah perbatasan, Solihin mengundang Ali Sadikin untuk mengunjungi Puncak.

Dia pun memperlihatkan bahwa arus lalu lintas dari Jakarta ke Jawa Barat sama ramainya dengan arah sebaliknya.

Hal ini menunjukkan bahwa setiap provinsi telah memiliki daya tariknya sendiri sebagai hasil dari pembangunan. ***