POJOKSATU.id - Di era Presiden Soeharto, ada cerita tentang jam tangan kanan para prajurit yang kerap jadi perbincangan dan diidentikkan sebagai sebuah pesan atau sikap tertentu.
Cerita kebiasaan mengenakan jam tangan kanan atau hal terkait arloji para prajurit, terus berlanjut di masa berikutnya dan tidak hanya sebatas harga jam tangan atau merk arloji.
Ada tradisi bagi-bagi arloji yang berlanjut hingga era selanjutnya. Seperti yang dilakukan Jenderal Moeldoko di tahun 2015 saat menjadi Panglima TNI dan membagikan 55 ribu unit jam tangan pada prajurit.
Lagi-lagi, jam tangan kerap dikaitkan sebagai simbol atau pesan tertentu bagi prajurit. "Itu ada pesannya, jangan dijual ya," kata Moeldoko saat itu.
Hal serupa juga terjadi pada Jenderal TNI Gatot Nurmantyo yang hadir di momen Aksi 212 pada 2016, jam tangan yang digunakannya di lengan kiri, tak lepas dari buah bibir.
Tak hanya soal harga jam tangan Gatot, tapi juga dikaitkan dengan gerak cepat istana negara yang melantik Marsekal Hadi Tjahjanto menggantikan Gatot sebagai Panglima TNI pada 2015. Hadi menggunakan jam tangan kanan.
Entah hanya dikait-kaitkan, cocokologi atau mungkin hanya spekulasi omon-omon saja, cerita soal jam tangan di lingkungan prajurit selalu menjadi buah bibir. Aneh memang.
Cerita soal jam tangan dan prajurit yang paling heboh di jagat militer adalah masa-masa di zaman Presiden Soeharto, saat Letnan Jenderal Wismoyo Arismunandar tidak terpilih sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Cerita bermula dari Jenderal Edi Sudrajat yang pada pertengahan 1993 memasuki hari-hari pensiunnya sebagai Panglima ABRI.
Saat itu, banyak orang mulai menebak-nebak siapa yang akan menggantikannya.
Nama yang mencuat saat itu adalah Kepala Staf Umum (Kasum ABRI) Letnan Jenderal Feisal Tanjung yang berusia 54 tahun dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Letnan Jenderal Wismoyo Arismunandar yang pada waktu itu berusia usia 53 tahun.
Banyak orang menilai, nama Wismoyo memiliki peluang lebih besar.
Selain karena Wismoyo lebih muda, juga ada tradisi bahwa Panglima ABRI selalu djabat oleh jenderal yang sebelumnya berasal dari jabatan KSAD.
Tebak-tebakan masyarakat itu menjadi lebih kuat karena Wismoyo adalah adik ipar Presiden Soeharto. Perhitungan itu dianggap lengkap.
Tapi nyatanya, Presiden Soeharto punya pertimbangan lain. Pada 21 Mei 1993, Soeharto justru memilih Feisal Tanjung sebagai Panglima ABRI.
Feisal Tanjung menjadi satu dari tiga orang yang memegang jabatan tertinggi ABRI tanpa melalui jenjang KSAD.
Sebelum Feisal, ada Jenderal LB Moerdani dan Jenderal M Yusuf yang pernah menjadi Panglima ABRI tanpa melalui jabatan KSAD.
Banyak kalangan menyebut Wismoyo Arismunandar kecewa atas keputusan Presiden Soeharto, alih-alih dirinya yakin menjadi Panglima ABRI.
Baca Juga: Kisah Cinta Romantis Jendral Sudirman, Rayuan Maut dan Kesetiaan Hingga Akhir Hayat
Buah bibir mulai berkembang. Konon karena rasa kecewanya terhadap Soeharto, Wismoyo mengumpulkan kekuatan secara halus di tubuh Angkatan Darat.
Caranya, lewat simbol. Sebagai KSAD ia memerintahkan seluruh jajarannya sampai ke bawah untuk selalu memakai arloji di tangan kanan.
Secara kebetulan, Presiden Soeharto memiliki kebiasaan memakai arloji di tangan kiri.
Di sinilah kemudian muncul persepsi pemilahan. Ada prajurit yang memakai ‘jam tangan kiri’. Ada pula kubu Wismoyo yang memakai ‘jam tangan kanan’ yang disebut-sebut sebagai sikap politik anti-Soeharto.
Tetapi, benarkah pemakaian ‘jam tangan kanan’ di kalangan prajurit adalah simbol atas sikap penentangan terhadap Soeharto?
Sejarawan Pusjarah TNI, Dr. Kusuma Espe menyebut, memang pemakaian jam di tangan kanan cukup santer semasa Jenderal Wismoyo menjadi KSAD.
“Tapi itu lebih soal kebiasaan saja, bukan sikap politik,” ungkap Kusuma Espe.
Kusuma juga mengungkapkan, kebiasaan itu datang dari sifat Jenderal Wismoyo yang selalu memperhatikan waktu.
“Jenderal Wismoyo orang yang efisien. Ia sering terlihat menelepon ataupun menerima telepon sambil melihat arloji. Jadi tangan kiri memegang telepon, tangan kanan melihat ke arloji,” tambah Kusuma.
Kebiasaan sebagai pimpinan itu ditiru oleh prajurit lainnya. Bahkan konon tidak hanya sekali Wismoyo mengajarkan langsung kepada prajuritnya bahwa memakai jam tangan adalah kebiasaan baik untuk menghargai waktu.
Wismoyo pernah memotivasi perwira yuniornya agar mengenakan arloji di lengan kanan sebagai tanda loyalitas kepada pimpinan dan keseragaman yang menjadi ciri kemiliteran.
Popularitas pemakaian arloji tangan kanan di zaman Jenderal Wismoyo juga didorong kebiasaan lainnya, yakni sering bagi-bagi arloji.
“Saya juga pernah melihat sendiri Jenderal Wismoyo memberikan arloji yang ia pakai kepada prajuritnya,” tambah Kusuma.
Berkembang juga informasi, di masa Jenderal Wismoyo Arismunandar menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat jam tangan dipergunakan sebagai simbol kesatuan komando.
Semua jajaran prajurit TNI AD dari komandan yang berpangkat paling tinggi sampai prajurit dengan pangkat paling rendah harus memakai jam tangan di tangan kanan.
Jam tangan bagi pada masa itu dipergunakan sebagai pengikat soliditas, kesatuan komando, dan membedakan prajurit TNI Angkatan Darat dengan masyarakat sipil.
Sehingga kita dapat mengenali bahwa orang yang memakai jam tangan di tangan kanan, meskipun tidak memakai seragam tentara, hampir dapat dipastikan bahwa orang tersebut adalah prajurit TNI AD.
Namun Kusuma berpendapat, soal banyaknya TNI yang memakai jam di tangan kanan hingga sekarang, tidak serta-merta mencerminkan tentang perbedaan sikap politik di tubuh militer.
“Tidak ada versi sejarah resmi yang mengatakan seperti itu,” tegas Dr. Kusuma Espe.
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) AM Hendropriyono punya kenangan khusus terhadap almarhum Jenderal (Purn) Wismoyo Arismunandar.
Dia menyebut mantan KSAD itu sebagai kesatria yang teguh memegang prinsip, kerap berpikir out the box dan sederhana. Salah satu contohnya terkait penggunaan arloji.
Hendropriyono menjelaskan arloji di masa itu lebih banyak menggunakan semacam pegas/per yang perlu sering digerakkan agar jarum tetap bergerak konstan.
Karena yang sering bergerak itu tangan kanan, jadilah Wismoyo mengenakan jam tangan di tangan kanannya.
"Itu pertimbangan sederhana dan logis dari seorang Wismoyo," tutur Hendropriyono.
Sejalan dengan berbagai penjelasan tersebut, nampaknya desas-desus bahwa jam tangan yang digunakan Jenderal Wismoyo sebagai simbol melawan Presiden Soeharto, juga cocokologi di zaman selanjutnya, tidak bisa dinilai kebenarannya.
Hingga kini, Wismoyo Arismunandar tetap dikenal sebagai prajurit yang loyal kepada bangsa dan negara.
Prajurit bangsa yang lahir di Bondowoso, Jawa Timur pada 10 Februari 1940 itu, mengembuskan nafas terakhirnya di RS Pondok Indah Jakarta pukul 04.29 WIB.
Hari ini, genap 3 tahun sudah Wismoyo Arismunandar menjadi bunga bangsa. Ia wafat pada Kamis 28 Januari 2021.
Bahkan Wismoyo dimakamkan di Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah. Makam itu merupakan makam khusus untuk Keluarga Cendana, sebutan bagi keluarga Soeharto. ***

