POJOKSATU.id — Pada usia muda, ayah Bung Karno menitipkannya kepada HOS Cokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam yang dikenal sebagai guru para tokoh pergerakan.
Dari sosok Cokroaminoto inilah Bung Karno mulai akrab dengan isu-isu keislaman dan banyak menyerap inspirasi pemikiran yang luas.
Hal tersebut tercermin pada tahun 1926, ketika ia menulis sebuah artikel di Suluh Indonesia Muda berjudul Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.
Tulisan itu memaparkan pandangan bahwa tiga paham besar ini sebenarnya dapat berjalan berdampingan, saling mengisi, dan bersatu demi kemerdekaan bangsa.
Dalam gagasannya, kalangan nasionalis tidak perlu sinis kepada kelompok Islam, kalangan Islam tidak perlu alergi terhadap ajaran-ajaran Marxis, dan begitu pula sebaliknya bagi kaum Marxis.
Pandangan Bung Karno tentang Islam juga tercermin jelas saat ia berkata tegas, “Islam bukan ilmu klenik!” pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta, tahun 1963.
Berbeda dengan banyak sarjana Muslim pada umumnya, Bung Karno mendalami Islam bukan dari pendidikan formal agama semata, melainkan dari petualangan intelektual yang dijalaninya sendiri.
Puncak perjalanan itu terjadi saat ia diasingkan ke Ende, Flores. Pada 1 Desember 1934, dari tempat pengasingannya, Bung Karno menulis surat kepada A. Hassan, tokoh Persatuan Islam.
Ia meminta dihadiahi beberapa buku, di antaranya pengajaran salat dan sebuah risalah tentang “sayid”.
Dalam suratnya, ia menjelaskan bahwa permintaan ini untuk membandingkan dengan pandangan pribadinya.
Menurut keyakinannya, salah satu kecelaan Islam zaman sekarang adalah pengeramatan manusia yang menghampiri kemusyrikan.
Momen di Ende ini menjadi titik balik yang semakin meneguhkan Bung Karno untuk mendalami ajaran Islam.
Baca Juga: Perang Padri, Dari Pergulatan Adat dan Agama Hingga Jejak Kolonial
Ia membaca beragam pemikiran, hingga sampai pada kesadaran bahwa dunia Islam sedang tertinggal.
Dari kegelisahan itu lahirlah berbagai tulisan yang mengkritik kejumudan berpikir umat Islam.
Pada tahun 1940, ia menulis artikel Masyarakat Unta dan Masyarakat Kapal Udara di majalah Panji Islam.
Bung Karno menyoroti mandeknya dinamika pemikiran umat Islam dan mengajak agar semangat keislaman bersifat dinamis.
Ia menegaskan bahwa zaman telah berubah, dan umat Islam tidak bisa terus berada dalam pola pikir masa lalu.
“Bahwa kini bukan masyarakat onta, tetapi masyarakat kapal-udara. Hanya dengan begitulah kita dapat menangkap inti arti yang sebenarnya dari warta Nabi yang mauludnya kita rayakan ini hari,” tulisnya, seraya menegaskan bahwa Islam mendorong kemajuan.
Masih pada tahun yang sama, ia menulis artikel Me-“muda”-kan Pengertian Islam di media yang sama.
Dalam tulisan tersebut, ia memaparkan perlunya reorientasi pemikiran Islam.
Umat Islam, menurutnya, perlu menyegarkan pemahaman mereka dan memeriksa ulang apakah yang selama ini diyakini benar-benar sesuai dengan ajaran inti.
Bagi Bung Karno, Islam adalah kemajuan. Artinya, Islam memiliki dasar-dasar ajaran yang bisa menjadi bekal untuk menghadapi perkembangan zaman.
Islam bukanlah agama yang kolot dan membuat umatnya terbelakang.
Sebaliknya, Islam harus mampu menjawab tantangan zaman dan berani mengejar ketertinggalan.
Pandangan ini ia tuangkan dalam banyak tulisan, termasuk Masyarakat Unta dan Masyarakat Kapal Udara dan Islam Sontoloyo.
Bung Karno mengkritik kekolotan, kejahilan, kejumudan, dan kemusyrikan, termasuk keyakinan pada azimat, mitos, dan takhayul.
Ia percaya bahwa Islam, jika dipaparkan dengan cara yang logis dan up-to-date, akan membuat dunia menyadari kebenarannya.
Ia mengajak umat Islam untuk menyerap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, meski tidak lahir dari tradisi Islam sendiri.
Sebab, baginya, taklid adalah penyakit yang menghambat kemajuan — sebuah tradisi yang mengajarkan tanpa referensi logis dan mudah dipahami.
Sepanjang catatan pemikiran keislamannya pada 1934–1941, seperti disebut Dahm (1987), Bung Karno menonjolkan tiga hal penting: pertama, Islam sebagai agama persamaan yang menolak aristokrasi dan tidak mengenal keturunan istimewa; kedua, simplisitas ajaran Islam yang memusatkan pada api, bukan abunya; dan ketiga, Islam sebagai agama kemajuan yang menuntut umatnya berpikiran terbuka serta mengikuti perkembangan zaman.
Pemikiran itu tidak berhenti pada masa tersebut.
Setelah Indonesia merdeka, ia masih menyampaikan pidato keislaman yang berkesan, seperti Temukan Kembali Api Islam (1964) dan Tauhid adalah Jiwaku (1965).
Di Ende pula, Bung Karno semakin berani menentang konservatisme yang menurutnya bersumber dari hadist-hadist lemah.
Baca Juga: Kaum Tani Bangkit Melawan! BTI dan Warisan-Warisannya
Ia meminta kepada A. Hassan untuk mengirimkan “Keterangan Hadist Mi’raj” karya Essad Bey.
“Menurut keyakinan saya, tak cukuplah orang menafsirkan mi’raj itu dengan ‘percaya’ saja. Yang rasionalistik di sini ada. Siap kenal sedikit ilmu psikologi dan para-psikologi, ia bisa mengasih keterangan yang rasionalistik itu. Kenapa sesuatu hal harus di ‘gaib-gaibkan’, kalau akal sehat sedia menerangkannya?” tulisnya.
Masa pengasingan itu juga menghapus kepercayaannya pada hal-hal mistis.
Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, ia menceritakan bahwa di Bandung pernah diberi cincin dengan batu yang di dalamnya terdapat cairan hitam yang konon bertuah.
Namun, setelah di Ende, keyakinan terhadap kekuatan mistis itu sirna.
Bagaimana menurut bapak ibu? Tulis di kolom komentar ya.
Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami:
-
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Reizka Kemala Nazar

