POJOKSATU.id - Bukit Shafa dan Marwah menjadi dua tempat bersejarah yang memiliki kedudukan penting dalam ibadah haji dan umrah.

Di lokasi inilah umat Islam melaksanakan sa'i, yakni berjalan bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.

Ibadah sa'i bukan sekadar ritual fisik semata.

Baca Juga: Terungkap! Besaran Gaji PPPK Paruh Waktu 2026 Tak Disamaratakan, Ini Penyebabnya

Di baliknya, terdapat kisah penuh perjuangan, kesabaran, dan tawakal dari Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, yang rela berlari mencari air demi menyelamatkan putranya, Nabi Ismail AS.

Hingga kini, jejak perjuangan tersebut terus dikenang dan diabadikan dalam rangkaian ibadah haji maupun umrah yang dijalankan jutaan umat muslim dari seluruh dunia.

Sejarah Bukit Shafa dan Marwah
Eksistensi sa'i berkaitan erat dengan sejarah perjuangan Siti Hajar di tanah Makkah yang saat itu masih berupa gurun tandus dan belum berpenghuni.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Dapat Gaji Ke-13 atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Aturan 2026

Berdasarkan catatan dalam buku Ayah, Bunda, Ayo Naik Haji karya Dewi Rieka, Nabi Ibrahim AS meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail AS di kawasan tersebut atas perintah Allah SWT.

Kala itu, mereka tidak memiliki persediaan makanan maupun air yang cukup. Setelah bekal habis, Nabi Ismail AS menangis kehausan.

Kondisi tersebut membuat Siti Hajar panik dan berusaha mencari sumber air di sekitar gurun.

Baca Juga: SKTP Mei 2026 Resmi Terbit! Ini Syarat dan Tips Agar TPG Cepat Cair ke Rekening Guru

Siti Hajar kemudian berlari menuju Bukit Shafa untuk mencari pertolongan atau sumber air.

Namun, setelah tidak menemukan apa pun, ia kembali turun dan berlari menuju Bukit Marwah.

Perjalanan itu dilakukan berulang kali hingga tujuh kali bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah.

Di tengah perjuangan tersebut, Allah SWT kemudian menurunkan mukjizat berupa mata air Zamzam yang memancar dari dekat kaki Nabi Ismail AS.

Baca Juga: Mau Jadi Developer Perumahan Subsidi? Perhatikan 4 Hal Penting Ini Sebelum Mulai Proyek

Peristiwa inilah yang kemudian menjadi dasar disyariatkannya ibadah sa'i dalam pelaksanaan haji dan umrah.

Makna Sa'i dalam Islam
Secara bahasa, sa'i berarti berusaha atau berjalan cepat.

Dalam konteks ibadah haji dan umrah, sa'i memiliki makna mendalam tentang perjuangan manusia dalam mencari pertolongan Allah SWT.

Kisah Siti Hajar mengajarkan bahwa seorang hamba harus terus berikhtiar dan tidak mudah menyerah meski berada dalam kondisi sulit.

Baca Juga: Konvoi Persib Sisakan Pecahan Botol Miras, DLH Kota Bandung: Bahaya dan Sulit Dibersihkan

Sa'i juga menjadi simbol keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Karena itu, jamaah haji dan umrah dianjurkan memperbanyak doa dan zikir selama melaksanakan sa'i.

Kondisi Bukit Shafa dan Marwah Saat Ini
Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya jumlah jamaah, area Shafa dan Marwah kini telah mengalami banyak perubahan.

Saat ini, kedua bukit tersebut berada di dalam bangunan Masjidil Haram yang tertutup dan dilengkapi pendingin ruangan agar jamaah lebih nyaman saat beribadah.

Baca Juga: 2.000 Nelayan Terancam, DPRD Jabar Desak Percepatan Pembangunan Kolam Labuh Jayanti

Bukit Shafa kini terlindungi lapisan kaca sehingga tetap terjaga bentuk aslinya. Sementara Bukit Marwah berupa hamparan batu yang dilapisi bahan pelindung khusus.

Jalur sa'i sendiri menggunakan lantai marmer berkualitas dengan lebar sekitar 20 meter dan terbagi menjadi dua lantai.

Pengelola Masjidil Haram juga menyediakan jalur khusus kursi roda bagi jamaah lansia maupun penyandang disabilitas agar tetap dapat melaksanakan ibadah dengan nyaman.

Meski sudah modern dan tertata rapi, nuansa spiritual dan nilai sejarah dari tempat ini tetap terasa kuat bagi para jamaah.

Baca Juga: Regulasi Baru Kemendikdasmen, Dana BOS Resmi Jadi Sumber Pembiayaan Guru Non ASN!

Tata Cara Pelaksanaan Sa'i
Pelaksanaan sa'i dimulai dari Bukit Shafa.

Setelah selesai thawaf, jamaah menuju Bukit Shafa lalu menghadap Ka'bah sambil membaca doa dan zikir.

Setelah itu, jamaah berjalan menuju Bukit Marwah melalui jalur yang telah disediakan.

Di area tertentu yang ditandai lampu hijau atau dikenal sebagai Bathn al-Masâ'il, jamaah laki-laki disunnahkan melakukan lari-lari kecil.

Baca Juga: Antisipasi Kekeringan, Bupati Bandung Koordinasi ke Kementan Perkuat Irigasi Pertanian

Area tersebut dahulu merupakan lembah rendah tempat Siti Hajar berlari lebih cepat ketika mencari air.

Sementara jamaah perempuan tetap berjalan biasa tanpa berlari kecil.

Perjalanan dari Shafa menuju Marwah dihitung satu kali lintasan. Setelah tiba di Marwah, jamaah kembali menuju Shafa dan seterusnya hingga genap tujuh kali lintasan.

Sa'i berakhir di Bukit Marwah pada lintasan ketujuh.

Baca Juga: Satgas Citarum Harum Ultimatum Industri Nakal di Karawang: Stop Kucing-Kucingan Buang Limbah!

Doa dan Zikir Saat Sa'i
Selama melaksanakan sa'i, jamaah dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, tasbih, tahmid, dan membaca Al-Qur'an.

Tidak ada doa khusus yang wajib dibaca saat sa'i.

Namun, jamaah dianjurkan memanfaatkan momen tersebut untuk memohon ampunan, rezeki, kesehatan, dan segala kebutuhan kepada Allah SWT.

Suasana sa'i biasanya dipenuhi lantunan zikir dari jamaah berbagai negara yang menciptakan suasana haru dan penuh kekhusyukan.

Baca Juga: Apa Itu Cash Flow? Begini Cara Kerja dan Pentingnya untuk Keuangan Bisnis Maupun Pribadi

Hikmah dari Bukit Shafa dan Marwah
Kisah Bukit Shafa dan Marwah bukan hanya tentang sejarah masa lalu, tetapi juga pelajaran hidup bagi umat Islam.

Perjuangan Siti Hajar menunjukkan bahwa pertolongan Allah sering kali datang setelah usaha maksimal dan kesabaran yang panjang.

Sa'i juga mengingatkan bahwa kehidupan manusia penuh perjuangan.

Baca Juga: SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026 Jadi Angin Segar Atasi Kekurangan Guru Non ASN di Daerah

Namun, selama seseorang tetap yakin dan berserah diri kepada Allah SWT, selalu ada jalan keluar yang akan diberikan.

Karena itu, setiap langkah jamaah saat sa'i sejatinya bukan sekadar berjalan bolak-balik, melainkan menghidupkan kembali semangat ikhtiar, tawakal, dan pengorbanan dalam kehidupan. ***