POJOKSATU.id — Mereka bukan sekadar penggembira dalam sejarah bangsa. Sejak awal abad ke-20, mahasiswa Indonesia telah berdiri di garis depan perubahan.
Tak hanya turun ke jalan, mereka mencetuskan ide, membangun organisasi, dan mengguncang rezim.
Inilah cerita panjang perjuangan mahasiswa Indonesia dari masa kolonial hingga era reformasi.
1908–1928: Benih Kesadaran Nasional Ditanam oleh Kaum Terpelajar
Sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia tak bisa dilepaskan dari berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908.
Organisasi ini didirikan oleh para pelajar STOVIA, sekolah kedokteran untuk pribumi di Batavia.
Meski lebih elitis dan fokus pada isu pendidikan serta budaya Jawa, inilah tonggak awal tumbuhnya kesadaran kolektif kaum muda terdidik bahwa Indonesia bisa berdiri di atas kakinya sendiri.
Tak lama berselang, gerakan mahasiswa juga berkembang di luar negeri.
Di Belanda, para pelajar Hindia Belanda yang sedang menempuh pendidikan tinggi membentuk Indische Vereeniging yang kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia.
Tokoh-tokoh seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Ali Sastroamidjojo menjadi motor penggeraknya. Di sinilah pemikiran tentang kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah bangsa mulai dirumuskan secara sistematis.
Tonggak selanjutnya adalah Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Meski tidak secara eksklusif digerakkan oleh mahasiswa, sebagian besar peserta kongres adalah kaum muda terdidik.
Di titik ini, identitas nasional Indonesia mulai mengambil bentuk utuh: satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa.
1945–1965: Mahasiswa dalam Perjuangan Kemerdekaan dan Konsolidasi Negara
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, mahasiswa tak tinggal diam.
Mereka ikut aktif dalam revolusi fisik mempertahankan kemerdekaan, membentuk Laskar Mahasiswa, terlibat dalam pertempuran di berbagai kota, dan menjadi penyambung aspirasi rakyat.
Pada masa awal kemerdekaan, mahasiswa mulai berorganisasi secara lebih luas. Lahir organisasi seperti Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) tahun 1947, yang bertujuan menjalin solidaritas antar kampus dan menyatukan visi kebangsaan di kalangan mahasiswa.
Namun, suasana politik Indonesia yang masih labil di masa Demokrasi Parlementer menjadikan peran mahasiswa belum terlalu dominan di ruang politik nasional.
Mereka lebih banyak menjadi penonton daripada aktor utama.
1966: Mahasiswa Mengguncang Rezim Soekarno dan Melahirkan Orde Baru
Titik balik besar datang pada pertengahan 1960-an. Situasi negara kacau: inflasi meroket, korupsi merajalela, ketegangan politik makin memuncak pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965.
Dalam kekosongan legitimasi inilah mahasiswa tampil menjadi kekuatan moral bangsa.
Pada 25 Oktober 1965, mahasiswa mendirikan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Bersama elemen masyarakat lain, mereka menyuarakan tuntutan Tritura: turunkan harga, bubarkan PKI, dan rombak kabinet.
Aksi-aksi besar dilakukan di jalan-jalan Jakarta dan kota-kota besar lain.
Mereka melawan militer, menghadapi intimidasi, dan bahkan kehilangan nyawa. Namun hasilnya nyata: Presiden Soekarno lengser, dan Orde Baru lahir dengan Soeharto sebagai penguasa baru.
Mahasiswa yang tergabung dalam Angkatan 66 dikenang sebagai pahlawan moral. Mereka tidak hanya berhasil menumbangkan rezim, tapi juga membuka jalan bagi stabilitas politik baru.
1970–1980-an: Perlawanan terhadap Orde Baru yang Mulai Otoriter
Meski awalnya didukung, rezim Orde Baru perlahan menunjukkan wajah otoriternya. Kritik dibungkam, oposisi dibatasi, dan kekuasaan Soeharto makin mengakar. Mahasiswa kembali menjadi kekuatan yang kritis.
Pada 1970-an, mahasiswa mulai aktif menyoroti isu korupsi dan penyimpangan kekuasaan.
Aksi besar-besaran digelar, salah satunya adalah demonstrasi mengiringi pemakaman tokoh nasional Dr. Soebandrio, yang menjadi simbol perlawanan terhadap korupsi.
Baca Juga: Cerita Legenda Timun Mas dan Raksasa dari Jawa, Memahami Nilai-Nilai yang Terkandung di Dalamnya
Namun tragedi berdarah terjadi pada 15 Januari 1974, dikenal sebagai Peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari).
Aksi mahasiswa yang semula damai berubah menjadi kerusuhan besar. Puluhan tewas, ratusan luka, dan ribuan ditahan.
Sejak saat itu, Orde Baru memperketat pengawasan terhadap kampus. Organisasi ekstra kampus dibekukan, dan gerakan mahasiswa direpresi secara sistematis.
1990-an: Gelombang Reformasi Menghantam Rezim
Memasuki era 1990-an, tekanan terhadap Soeharto terus meningkat.
Mahasiswa menjadi motor utama perlawanan, menyuarakan reformasi, penghapusan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme), serta demokratisasi.
Puncaknya terjadi pada 12 Mei 1998, ketika empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas ditembak aparat dalam aksi damai. Nama mereka—Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie—menjadi simbol perjuangan generasi reformasi.
Kemarahan rakyat tak terbendung. Ribuan mahasiswa dan warga menduduki Gedung DPR/MPR. Tekanan datang dari berbagai arah.
Pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto akhirnya mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.
Reformasi pun dimulai. Mahasiswa berhasil memaksa lahirnya era baru yang lebih demokratis, meski perjuangan belum usai.
Pasca-Reformasi: Mahasiswa, Media Sosial, dan Era Baru Perjuangan
Di era setelah reformasi, mahasiswa tidak lagi menjadi kekuatan tunggal. Banyak kelompok masyarakat lain yang juga bersuara.
Namun mahasiswa tetap menjadi elemen penting dalam setiap gelombang protes besar.
Kini, teknologi menjadi senjata baru. Melalui media sosial, mahasiswa mampu membangun kesadaran kolektif secara masif.
Tagar seperti #ReformasiDikorupsi dan #TolakOmnibusLaw menjadi alat mobilisasi digital yang efektif.
Organisasi seperti BEM SI dan BEM UI kerap menjadi ujung tombak kritik terhadap pemerintah.
Meski kerap mendapat tekanan, suara mereka tetap menggema, membuktikan bahwa idealisme mahasiswa belum padam.
Mahasiswa, Ombak yang Tak Pernah Tenang
Gerakan mahasiswa Indonesia adalah ombak yang tak pernah sepenuhnya tenang. Kadang mengalun lembut, kadang menggulung dan menghantam keras.
Tapi satu hal yang pasti: mereka selalu hadir di tiap babak penting perjalanan bangsa.
Mereka adalah saksi sekaligus pelaku sejarah. Dari Boedi Oetomo hingga Trisakti, dari Tritura hingga #ReformasiDikorupsi, suara mereka tetap menggema—meski cara dan mediumnya berubah.
Di masa depan, apakah mereka akan kembali menjadi api perubahan atau sekadar bara yang perlahan padam?
Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi satu hal pasti: sejarah tak pernah melupakan jejak kaki para mahasiswa.***
Silahkan akses artikel lainnya melalui apps kami:
