POJOKSATU.id — Sejarah perjuangan bangsa Indonesia diwarnai dengan banyak kisah heroik dari berbagai penjuru Nusantara.

Salah satunya adalah Perang Dayak Desa, sebuah perlawanan besar yang meletus di Kalimantan Barat pada tahun 1945, dipimpin oleh Pang Suma dan tokoh-tokoh adat Dayak lainnya.

Pertempuran ini bukan sekadar bentrokan fisik, melainkan luapan kemarahan atas penindasan Jepang yang menginjak martabat, budaya, dan kebebasan rakyat Dayak.

Perang ini lahir dari luka yang dalam.

Pendudukan Jepang di Kalimantan Barat sejak 1942 memaksa penduduk Dayak hidup di bawah rezim militer yang keras.

Sistem kerja paksa romusa diberlakukan tanpa ampun—ribuan warga diangkut untuk bekerja di pertambangan dan perkayuan milik perusahaan Jepang seperti Nomura dan Sumitomo.

Baca Juga: Perang Padri, Dari Pergulatan Adat dan Agama Hingga Jejak Kolonial

Upah tidak diberikan, makanan minim, dan banyak yang meregang nyawa akibat kelaparan, penyakit, dan kelelahan.

Api yang Menyulut Perlawanan

Kekejaman Jepang bukan satu-satunya penyebab. Pada awal 1945, seorang mandor Jepang bernama Kabid Osaki menambah bara api di hati masyarakat Dayak.

Osaki berniat menikahi putri Pang Linggan, tokoh adat terkemuka di Desa Sejiram, tanpa memedulikan adat istiadat setempat.

Lamaran itu ditolak mentah-mentah oleh Pang Linggan.

Penolakan tersebut justru dibalas Osaki dengan ancaman memenggal kepala Pang Linggan.

Bagi masyarakat Dayak, ancaman seperti itu bukan hanya penghinaan terhadap individu, tetapi juga pelecehan terhadap kehormatan seluruh suku.

Sejak saat itu, tekad untuk melawan Jepang semakin menguat di hati para pemimpin adat.

Baca Juga: Dipilih Bung Karno sebagai Penggantinya, Disebut sebagai Bapak Republik Indonesia, Tan Malaka Ditembak Mati di Tengah Gejolak Revolusi, Mengapa?

Mangkuk Merah, Sinyal Perang dari Pedalaman

Pada 13 Mei 1945, masyarakat Dayak Desa melakukan ritual mangkuk merah—tradisi turun-temurun yang menjadi tanda mobilisasi perang.

Mangkuk berisi darah ayam dan sirih pinang dibawa dari kampung ke kampung, menandakan bahwa seluruh suku harus bersiap angkat senjata.

Ritual ini bukan sekadar simbol, tetapi seruan persatuan.

Dari hulu Kapuas hingga pedalaman Meliau, kabar perang menyebar cepat. Senjata yang mereka miliki sebagian besar adalah tombak, mandau, dan senapan tua.

Meski kalah persenjataan, semangat dan pengetahuan medan membuat pasukan Dayak percaya diri menghadapi Jepang.

Pertempuran di Meliau

Puncak perlawanan terjadi pada 24 Juni 1945. Pasukan Dayak Desa yang dipimpin Pang Suma dan Pang Linggan menyerbu markas Jepang di Meliau.

Pertempuran sengit tak terhindarkan. Dalam pertempuran itu, Letnan Nagatani, salah satu perwira Jepang, tewas di tangan pasukan Dayak.

Baca Juga: Sejarah Sastra Indonesia, Periodesasi dari Zaman Melayu Hingga Era Digital, Jejak Panjang Sarat Makna

Kemenangan ini mengguncang moral pasukan Jepang. Selama beberapa minggu, wilayah Meliau berhasil dikuasai rakyat Dayak.

Mereka mendirikan pos-pos penjagaan dan mengatur logistik secara mandiri. Namun, Jepang tak tinggal diam. Pasukan tambahan dikerahkan untuk merebut kembali wilayah tersebut.

Gugurnya Sang Pemimpin

Pada 17 Juli 1945, Jepang melancarkan serangan besar-besaran. Melalui pertempuran yang berat, Meliau kembali jatuh ke tangan Jepang. 

Pang Suma gugur sebagai pahlawan di medan perang, sementara Pang Linggan mengalami luka parah dan akhirnya wafat.

Kematian mereka menjadi duka mendalam bagi masyarakat Dayak, namun semangat perjuangan tetap menyala.

Jepang Menyerah, Perjuangan Belum Usai

Hanya berselang sebulan kemudian, pada 15 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki.

Baca Juga: Kaum Tani Bangkit Melawan! BTI dan Warisan-Warisannya

Tentara Jepang di Kalimantan Barat meninggalkan pos mereka, tetapi perjuangan rakyat Dayak belum berakhir.

Pasukan Dayak Desa membentuk Angkatan Perang Majang Desa untuk melawan kembalinya tentara Belanda yang mencoba merebut kekuasaan pasca-kemerdekaan.

Perjuangan ini berlangsung hingga sekitar tahun 1948, membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tidak bisa dipadamkan oleh siapa pun.

Warisan dan Penghormatan

Nama Pang Suma diabadikan sebagai nama bandara dan monumen di Kalimantan Barat.

Pada 30 Juli 1981, keluarga pejuang Dayak menyerahkan kembali lima tengkorak prajurit Jepang—termasuk Letnan Nagatani—kepada Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, sebagai simbol rekonsiliasi dan penutup lembaran kelam masa lalu.

Perang Dayak Desa bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga bukti bahwa harga diri dan kebebasan adalah sesuatu yang pantas diperjuangkan sampai titik darah penghabisan.***

Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami: