POJOKSATU.id - Soekarno merupakan salah seorang yang berjasa untuk Indonesia, namun ia menderita di akhir-akhir masa hidupnya.
Selain mengidap penyakit, sang proklamator tidak meninggalkan warisan ataupun uang pensiun.
Banyak pemberitaan yang beredar, Soekarno mempunyai harta karun yang pernah ditemukan oleh warga Baduy, Banten yang konon tersimpan dalam goa.
Namun kenyatannya anak-anak Bung Karno tidak merasakan uang pensiun ayahnya.
Baca Juga: Film Petualangan Karya SD Al - Muhajirin 3
Anak Soekarno, bahkan harus rela mandiri menyambung hidup sendiri sepeninggal sang ayah yang tidak menerima uang pensiun.
Asvi Warman dalam bukunya mengatakan Soekarno sangat depresi. Hal itu karena tentara menanyakan hal yang sama setiap hari, padahal saat diinterogasi, Soekarno juga harus rela menahan sakit.
Sebelum lengser dari masa jabatannya, Bung Karno memiliki penyakit ginjal yang cukup parah. Sayangnya, diakhir masa pensiunnya, ayah Megawati ini malah diberikan pengobatan seadanya dari dokter tanpa bantuan dari rumah sakit.
Baca Juga: Seruan Aktivis Pemuda Lampung : Persoalan Pelanggar HAM Harus Disuarakan Terus
Miris memang, namun kehidupan Soekarno di masa-masa tuanya sangat mengubah hidupnya, ia menjadi seorang yang pikun dan sering berbicara tanpa lawan.
Ketika kesehatannya mulai menurun, tuhan merenggut nyawa ayah Megawati ini pada 21 Juni 1970 dan sepeninggal sang ayah, hidup anak-anak Soekarno tertatih-tatih.
Meskipun sempat jadi orang nomor satu di Indonesia, dan terlahir jadi tokoh yang dikenal di dunia, ternyata Sang Proklamator ini tidak sekaya yang orang bayangkan.
Baca Juga: Bikin ARMY Bangga, Jimin BTS Lulus dari Pelatihan Dasar Wajib Militer dengan Nilai Tertinggi
Bahkan ia tidak meninggalkan warisan, atapun uang pensiun dari negara. Anak-anak Soekarno terpaksa harus hidup mandiri untuk menyambung hidupnya.
Hal senada juga pernah diungkap oleh salah satu putri Soekarno, Rachamati. Dimana, anak-anak Soekarno tidak pernah menerima uang pensiun ataupunmerasakan fasilitas-fasilitas ataupun perlindungan dari negara. Padahal ayahnya adalah orang yang berjasa bagi Indonesia.
Rachmawati dikenal sebagai anak ketiga dari Presiden Soekarno-Fatmawati. Ia lahir di Jakarta pada 27 September 1950.
Sejak kecil, ia tinggal di istana bersama kedua orang tua dan pengasuhnya, Bu Hadi. Hingga tiba, gejolak keluarga menghampiri saat itu awal tahun 1954, Soekarno minta izin menikahi Hartini. Fatmawati murka. Ia pergi dari istana bersama kedua anaknya: Sukmawati dan Guruh.
Baca Juga: Polres Madina Amankan 116,2 Kg Ganja Kering, Dua Pemuda Padang Ditangkap
Sementara Guntur dan Megawati saat itu kuliah di Bandung. Guntur di ITB, sementara Megawati di Unpad. Sakit hati mendalam sebab Fatmawati baru melahirkan Guruh, membuatnya bersikeras meninggalkan istana. Ia tinggal di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan.
Tapi, bagaimanapun, Soekarno tetap menempatkan Fatmawati sebagai first lady dan Ibu Agung bangsa Indonesia.
Soekarno menahan Rachmawati untuk tetap tinggal di istana. Maka, sejak berusia empat tahun, Rachma mulai jarang bertemu Fatmawati.
Soekarno menjelma menjadi seorang ibu yang menurut Rachma kerap berlinang air mata saat memangku dan memeluknya. Kedekatan secara psikologis menjelma menjadi kekaguman.
Baca Juga: Dua Langkah Prabowo Brantas Korupsi Jika Terpilih Jadi Presiden
Pada 7 Juli 1957, Soekarno menikahi Hartini. Rachma semakin jarang bertemu Fatmawati. Berkali-kali membujuk sang ibu, tapi jawabannya tetap sama, ”Ibu tidak mau ke istana. Di sana ada Hartini."
Hingga waktu beranjak remaja, Rachma akhirnya mengerti. Ibunya pantang dipoligami.
Saat itu, pelan-pelan Soekarno mengenalkan Rachma dengan Hartini. Fatmawati juga sesekali datang ke istana saat Soekarno ke Bogor menemui Hartini.
Baca Juga: Anies Dipeluk Warga Kampung Bayam Sebelum Acara Desak Anies
Hingga di tahun 1968, saat dengan terpaksa meninggalkan istana, Soekarno menyuruh Rachma untuk tinggal bersama Fatmawati.
Pada tahun 1967 kondisi kesehatan Soekarno semakin parah selama tinggal di Bogor. Saat itu, Rachma memohon kepada Presiden Soeharto agar Soekarno pindah ke Jakarta.
Dan permintaanya pun dikabulkan. Soekarno menempati Wisma Yaso yang sudah hampir empat tahun ditinggalkan Ratnasari Dewi. Tapi, Soekarno justru makin lemah.
Kekecewaan makin bertambah saat Soekarno kritis di RSPAD pada 17 Juni 1970. Rachma menemui ketua tim dokter pribadi, Prof Mahar Mardjono.
Baca Juga: Mengenal Anak Soekarno Paling Misterius yang Jarang Terekspos
Sang dokter mengatakan, Soekarno sudah komplikasi. Ginjal tak berfungsi. Urine menyebar jadi racun dan memicu penyempitan pembuluh darah. Tekanan darah naik berakibat gangguan pembuluh darah ke otak.
Soekarno juga tidak bisa cuci darah, karena saat itu alat kedokteran belum secanggih sekarang, dan sedang dipesan dari Ingggris.
Lalu, takdir berkata lain. Pada 21 Juni 1970, Soekarno tutup usia dengan membawa rahasia perawatannya. ***

