POJOKSATU.id — Ronggeng Dukuh Paruk merupakan salah satu karya terkenal Ahmad Tohari yang pertama kali hadir di hadapan pembaca pada 1982 melalui penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU).

Novel yang kemudian dikenal sebagai trilogi tersebut menarik perhatian karena menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat pedesaan yang berkelindan dengan kondisi sosial dan politik pada masa Orde Baru.

Pusat cerita berada pada sosok Srintil, perempuan dari Dukuh Paruk yang kemudian menjalani kehidupan sebagai seorang ronggeng atau penari di tengah masyarakat desa yang serba kekurangan dan jauh dari kehidupan perkotaan.

Di balik penerbitannya, Ahmad Tohari ternyata memiliki cerita tersendiri mengenai proses penyuntingan novel tersebut sebelum akhirnya diterbitkan.

Baca Juga: Tak Sekadar Ajak Warga Membaca, Negara-Negara Ini Punya Kebijakan untuk Dukung Akses Buku

Ia mengungkapkan bahwa Gramedia pernah memintanya melakukan perubahan terhadap sejumlah bagian cerita agar penggunaan bahasanya dibuat lebih halus.

Menurut Ahmad Tohari, bagian yang perlu diperhalus tersebut jumlahnya mencapai sekitar 27 halaman.

“Saya memang diminta oleh Gramedia untuk menghaluskan kira-kira 27 halaman. Bukan disensor potong, tapi supaya diubah lebih halus lagi seperti itu, ya,” kata Ahmad Tohari.

Selain perubahan yang dilakukan atas permintaan penerbit, Ahmad Tohari mengakui bahwa dirinya juga pernah melakukan penyensoran terhadap bagian tertentu dalam karya tersebut.

Namun, ia memilih tidak mengungkapkan bagian yang dimaksud kepada publik dan menjadikannya sebagai rahasia pribadi.

Baca Juga: Dari Novel hingga Kisah Nyata, Film Adaptasi Ini Sukses Melampaui Popularitas Karya Aslinya

“Ada bagian yang disensor tapi saya simpan menjadi rahasia pribadi,” ujarnya.

Ahmad Tohari kemudian menegaskan bahwa Gramedia sebenarnya tidak memintanya untuk menghapus bagian-bagian tertentu dari novel tersebut.

Permintaan penerbit, menurut dia, lebih diarahkan pada upaya mengubah penyampaian bagian tertentu supaya terasa lebih halus bagi pembaca.

“Ya, seperti itu karena ya memang itu, makanya disensor. Sebetulnya Gramedia tidak meminta menyensor, tolong diubah menjadi lebih halus,” sambung penulis asal Banyumas tersebut.

Ia juga menjelaskan bahwa versi Ronggeng Dukuh Paruk yang kini beredar merupakan versi yang sudah lengkap dan menjadi bacaan masyarakat saat ini.

“Ya, yang Anda baca Ronggeng Dukuh Paruk itu versi yang sekarang,” ujar Ahmad Tohari.

Dari sisi cerita, Ronggeng Dukuh Paruk mengikuti perjalanan Srintil dalam menjalani kehidupannya sebagai ronggeng di sebuah pedukuhan yang miskin dan terpencil.

Baca Juga: Bedah Cerpen Mata yang Enak Dipandang Karya Ahmad Tohari, Ketika Formalisme Rusia Membuka Struktur Tersembunyi

Kehidupan yang dijalani Srintil tidak terlepas dari berbagai persoalan yang muncul di lingkungan sosialnya.

Mulai dari kemiskinan hingga pergulatan dengan tradisi dan kehidupan masyarakat setempat.

Kisah tersebut kemudian semakin kompleks ketika kehidupan warga Dukuh Paruk bersinggungan dengan gejolak politik nasional yang terjadi pada 1965.

Peristiwa politik tersebut memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat Dukuh Paruk dan turut mengubah perjalanan hidup Srintil.

Ia kemudian menghadapi berbagai situasi sulit, termasuk stigma sosial, tuduhan, fitnah serta penahanan yang berkaitan dengan kondisi politik pada masa itu.

Baca Juga: Kemenag Sayangkan Munculnya Buku Cerpen Memburu Muhammad, Berpotensi Buat Kegaduhan

Rangkaian peristiwa tersebut membuat kehidupan Srintil dalam novel dipenuhi persoalan dan konflik yang berlangsung hingga bagian akhir cerita.

Melalui Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari tidak hanya menceritakan kehidupan seorang ronggeng, tetapi juga menghadirkan gambaran mengenai masyarakat kecil yang berhadapan dengan kemiskinan, perubahan sosial, serta dampak pergolakan politik terhadap kehidupan mereka.***