POJOKSATU.id — Sudah jadi rahasia umum kalau leluhur kita adalah bangsa pelaut.
Tapi bukan sekadar nelayan biasa, melainkan penguasa lautan, penjelajah samudra, bahkan penakluk gelombang besar dengan kapal-kapal buatan sendiri.
Tradisi kemaritiman Nusantara bukan baru kemarin sore muncul, tapi telah membentang jauh, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Mari kita tengok satu per satu warisan kapal Nusantara yang membuktikan kejayaan negeri bahari in.
Kapal Jung, Raksasa dari Tanah Jawa
Coba bayangkan, kapal sebesar 1.000 ton, dibangun tanpa satu pun paku besi.
Itulah jung Jawa — kapal dari Jawa dengan layar besar yang digunakan oleh pelaut Jawa pada masa lalu, terutama pada era Kerajaan Majapahit dan Demak.
Kapal ini menggunakan teknik sambung pasak kayu dan lapisan papan tanpa kerangka logam, dengan layar empat tiang yang siap menantang badai.
Menurut catatan Alfonso de Albuquerque, jung Jawa adalah kapal terbesar yang pernah mereka temui saat menjajah Asia.
Bahkan, kapal ini pernah digunakan Kerajaan Demak untuk menyerbu armada Portugis pada 1513.
Kora-Kora, Gagahnya Armada dari Maluku
Beralih ke timur, ada perahu kora kora dari Kepulauan Maluku.
Perahu panjang dan ramping ini punya dua fungsi: sebagai kapal dagang dan kapal perang. Panjangnya sekitar 10 meter, dengan pendayung hingga 40 orang.
Saat digunakan untuk melawan penjajah Belanda, kora-kora dipenuhi bendera adat dan suara semangat dari para kapitan adat.
Kora-kora bukan sekadar alat transportasi — ia adalah lambang perlawanan, semangat adat, dan bukti bahwa laut bukan sekadar tempat mencari ikan, tapi medan juang yang sakral.
Pinisi, Mewakili Gagahnya Pelaut Bugis
Kalau bicara kapal Indonesia yang mendunia, nama pinisi pasti di urutan teratas.
Perahu layar nan elegan ini berasal dari Bugis, Sulawesi Selatan.
Dibuat di pinggir pantai desa Ara dan Tanah Beru, kapal ini dibentuk dengan kekuatan pasak kayu dan kulit pohon — tanpa satu pun paku logam.
Uniknya, pinisi dibangun dari dinding ke rangka, bukan sebaliknya.
Kombinasi antara teknik tinggi dan ritual magis menjadikan setiap pinisi bukan sekadar perahu, tapi pusaka hidup yang membawa nama Indonesia ke lima benua.
Kole-Kole, Gaya Mendayung Gagah ala Suku Asmat
Perahu kole-kole dari Papua memiliki ciri khas yang tidak dimiliki perahu lain: cara mendayungnya.
Para pelaut Asmat mendayung dengan posisi berdiri! Bahkan saat mereka menghadapi ganasnya Laut Arafura, posisi itu tetap dipertahankan.
Perahu ini dibuat dari batang pohon utuh yang dikerok hingga berbentuk cekungan.
Saat upacara adat, kole-kole menghiasi permukaan laut dengan teriakan khas dan tarian air yang hanya bisa ditampilkan oleh para ahli air sejati: Suku Asmat.
Sandeq, Si Kecil Lincah dari Mandar
Sekilas, perahu sandeq terlihat rapuh — kecil, ramping, dan sederhana. Tapi jangan salah! Perahu ini bisa melaju hingga 20 knot dengan hanya mengandalkan angin.
Sandeq dilengkapi cadik bambu untuk keseimbangan dan layar segitiga yang siap menerjang gelombang Selat Makassar.
Nelayan Mandar menggunakan sandeq untuk mengejar ikan terbang dan mencari telur-telurnya.
Menurut Horst Liebner, peneliti asal Jerman, sandeq adalah perahu tradisional tercepat di Asia Tenggara. Kecil-kecil cabe rawit!
Lancang Kuning, Kapal Kerajaan yang Jadi Legenda
Nama lancang kuning berasal dari wilayah Melayu, khususnya Riau.
Dahulu, kapal ini jadi perahu resmi kerajaan, digunakan oleh bangsawan dan pemimpin kerajaan Siak Sri Indrapura.
Dibalut warna kuning emas dan didampingi para pengawal berpakaian serupa, lancang kuning ibarat istana terapung di masa lampau.
Kini, wujudnya tinggal legenda, namun simbol dan bentuknya tetap diabadikan sebagai ikon kebanggaan masyarakat Riau. Kita bisa melihat replikanya di Museum Bahari Indonesia.
Kolek, Perahu Nelayan Berhias Batik
Kalau main ke Teluk Jakarta atau daerah pesisir Jawa, mungkin pernah lihat perahu yang ujung depannya melengkung tinggi dan badannya dihiasi motif batik — itulah kolek.
Perahu ini punya panjang hingga 20 meter dan biasa digunakan untuk mengangkut hasil tangkapan ikan ke pasar.
Kolek memiliki layar tenda, tali-tali pengatur layar seperti tali bau dan tali singkur, dan mampu menampung hingga 10 orang nelayan dalam satu rombongan. Estetik, fungsional, dan tetap berbudaya.
Golekan Lete, Armada Niaga dari Madura
Dari Pulau Garam, ada perahu golekan lete. Ini adalah kapal niaga tradisional yang sejak dulu hingga sekarang masih eksis.
Biasanya membawa kayu dari Kalimantan ke Jawa, lalu pulang dengan membawa hasil bumi seperti beras, garam, dan kacang.
Perahu ini masih lalu-lalang di pelabuhan Kalimas Surabaya — bukti bahwa tradisi pelayaran dan perdagangan laut tidak mati ditelan zaman.
Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami:
-
Fanpage Edugov
Baca informasi menarik lainnya dari penulis: Reizka Kemala Nazar

