POJOKSATU.id - Pada 79 tahun lalu, tepatnya pada 17 Agustus 1945, Indonesia menyatakan proklamasi kemerdekaan yang dibacakan oleh Soekarno, di rumah Laksamana Maeda.
Teks proklamasi ini ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta atas nama rakyat Indonesia dan kemudian diketik oleh Sayuti Melik.
Di balik peristiwa pembacaan proklamasi itu, ternyata banyak fakta menarik dan unik yang jarang diketahui. Mulai dari sederhana dan spontanitasnya upacara hingga naskah asli Proklamasi tulisan tangan Soekarno yang sudah terbuang di tempat sampah.
Berikut adalah beberapa fakta unik di balik momen penting pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
1. Upacara Proklamasi yang Sangat Sederhana
Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 1945, tepatnya pukul 10.00 WIB, upacara Proklamasi digelar di kediaman Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Upacara ini berlangsung dengan sangat sederhana, hanya dihadiri oleh beberapa tokoh penting, dan tidak ada persiapan yang rumit karena keterbatasan waktu.
2. Kisah Bendera Pusaka dari Kain Jahitan Fatmawati
Bendera Merah Putih yang dijahit dengan tangan oleh Ibu Fatmawati adalah kain yang didapatkan dari seorang Perwira Jepang yang bernama Shimizu pada Oktober 1944.
Kain itu diberikan awalnya untuk putra sulung Fatmawati, Guntur Soekarno Putra.
Setiap kali dikibarkan, bendera yang kemudian disebut sebagai Bendera Pusaka itu merupakan bendera yang terbesar di Jakarta saat itu.
Bendera Pusaka sempat dibawa dalam koper pribadi Soekarno saat Soekarno-Hatta meninggalkan Jakarta dan Ibu Kota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta.
3. Proklamasi Berlangsung di Bulan Ramadan
Proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi pada hari Jumat, tanggal 9 Ramadan 1364 Hijriah, yang dianggap sebagai hari yang penuh berkah oleh umat Muslim.
Momen ini dianggap sebagai waktu yang sangat baik untuk memulai perjalanan baru sebagai bangsa yang merdeka.
4. Soekarno dalam Kondisi Sakit Saat Proklamasi
Fakta mengejutkan lainnya adalah bahwa Soekarno sedang tidak dalam kondisi sehat pada hari Proklamasi. Ia tengah menderita gejala Malaria Tertiana, dengan suhu tubuh yang tinggi.
Bahkan, sekitar dua jam sebelum upacara, Soekarno masih tertidur lelap dan mendapatkan perawatan dokter. Ia bangun tepat pada waktunya untuk membacakan proklamasi dan memimpin upacara pengibaran bendera merah putih.
5. Naskah Asli Proklamasi Sempat Terbuang
Naskah asli Proklamasi yang ditulis tangan oleh Soekarno hampir saja hilang setelah dibuang ke tempat sampah.
Setelah diketik ulang oleh Sayuti Melik, naskah tersebut tanpa sengaja dibuang, namun kemudian ditemukan oleh seorang wartawan bernama BM Diah.
Naskah tersebut disimpan selama 46 tahun sebelum akhirnya diserahkan kepada negara.
Baca Juga: Diadopsi Para Nasionalis, Begini Terjadinya Nama Indonesia, Bukan Nusantara Atau Indische
6. Tiang Bendera dari Bambu
Kesederhanaan upacara Proklamasi juga terlihat dari tiang bendera yang digunakan, yaitu terbuat dari bambu. Hal ini disebabkan mendesaknya persiapan pada saat itu.
7. Dokumentasi Proklamasi Hampir Disita Jepang
Fotografer Alexius ‘Impurung’ Mendur dan Frans Mendur, yang berhasil mendokumentasikan momen Proklamasi, hampir kehilangan hasil jepretan mereka.
Sebagai wartawan Java Bode, mereka sebenarnya tidak mendapatkan tugas untuk mengambil foto proklamasi kemerdekaan. Namun naluri jurnalis mereka mendorong untuk mengabadikan kejadian proklamasi itu.
Setelah upacara, mereka ditangkap oleh tentara Jepang yang kemudian merampas kamera mereka dan membakar foto-foto tersebut.
Untungnya, hasil rekaman proklamasi Frans Mendur ditanam tepat di bawah pohon yang berada di kantor Harian Asia Raja supaya tidak ditemukan oleh Jepang.
8. Rekaman Suara Proklamasi yang Merupakan Hasil Ulang
Rekaman suara Soekarno saat membacakan teks Proklamasi yang kita kenal sekarang ternyata bukanlah rekaman asli dari tahun 1945.
Karena keterbatasan teknologi pada masa itu, rekaman suara tersebut baru dilakukan enam tahun kemudian di studio RRI, di mana Soekarno kembali membacakan teks Proklamasi untuk direkam. ***

