POJOKSATU.id - Industri film Indonesia kembali menghadirkan kisah yang menyentuh hati lewat film Yang Lain Boleh Hilang Asal Kau Jangan.
Film ini dijadwalkan tayang pada 13 Mei dan langsung mencuri perhatian karena mengangkat tema kehilangan yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Cerita dalam film ini sebenarnya bergerak di dua lapisan emosi yang kuat.
Di satu sisi, ada sosok Rendi yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehilangan karier, harta, dan reputasinya akibat fitnah.
Baca Juga: 433 PPPK Mahulu Wajib Ikuti Orientasi, Jadi Penentu Perpanjangan Kontrak, Ini Penjelasannya
Di titik terendahnya, ia hampir menyerah, sampai akhirnya kehadiran sang kekasih menjadi alasan untuk kembali bangkit.
Namun di sisi lain, film ini juga menghadirkan kisah yang tak kalah menguras emosi melalui karakter Kesha.
Ia adalah mahasiswi tingkat akhir sekolah film yang tengah mengejar impiannya.
Di tengah perjuangannya itu, ia harus menghadapi kondisi sang ibu, Yuke, yang perlahan kehilangan ingatan.
Awalnya hanya hal-hal kecil yang terlupakan.
Tapi lama-kelamaan, kondisi itu semakin serius dan mulai menghapus momen-momen penting dalam kehidupan keluarga.
Suasana yang sebelumnya hangat pun berubah menjadi penuh tekanan dan kesedihan.
Dari sinilah konflik utama terasa begitu kuat.
Kesha dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, antara tetap mengejar masa depannya atau pulang untuk menemani ibunya sebelum semuanya benar-benar terlambat.
Film ini diproduksi oleh Rapi Films bersama Screenplay Films, dengan sentuhan cerita yang ingin mengajak penonton merenung tentang arti kehadiran orang-orang terdekat.
Bukan sekadar kehilangan secara fisik, tapi juga kehilangan yang terjadi perlahan saat seseorang mulai menghilang dari ingatan kita.
Baca Juga: Dirjen Kemenkeu Beberkan Alasan Anggaran MBG Mendompleng di Pos Pendidikan APBN 2026
Sejumlah aktor dan aktris ternama turut memperkuat cerita ini, seperti Yasmin Napper, Sofia Shireen, Jordan Omar, Lulu Tobing, hingga Ibnu Jamil.
Di balik layar, film ini disutradarai oleh Kuntz Agus dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio.
Dengan pendekatan cerita yang emosional dan dekat dengan realita, film ini bukan hanya untuk ditonton, tapi juga dirasakan.
Penonton diajak menyelami rasa kehilangan dari sudut pandang yang berbeda.
Baca Juga: Sinopsis Film Dilan ITB 1997: Cinta, Idealismenya Mahasiswa, dan Bayang-Bayang Politik Orde Baru
Kadang yang paling menyakitkan bukan saat seseorang pergi, tapi ketika mereka masih ada namun perlahan tak lagi mengenali kita.
Di situlah kita belajar, bahwa kehadiran hari ini adalah hal yang paling berharga sebelum semuanya berubah.***


