POJOKSATU.id, MISTERI kabar menghilangnya Pak Tarno, komedian dan pesulap yang belakangan jarang muncul di televisi mulai terkuak.
Banyak kabar beredar soal menghilangnya Pak Tarno mencuat seriring dugaan dijemput paksa oleh istri mudanya, Dewi, dan orang-orang terdekatnya.
Ini berkaitan dengan viralnya foto dan video Pak Tarno sedang menggunakan kursi roda dan berjualan mainan anak-anak di pinggir jalan.
Adalah Selamet, sopir sekaligus manajer Pak Tarno yang selama ini juga dituding membawa dan mengeksploitasi pesulap itu, akhirnya angkat bicara.
Ia menceritakan bagaimana sebenarnya Pak Tarno yang menelepon dirinya di pagi hari, meminta untuk dijemput dan dibawa pergi untuk berjualan.
“Saya ditelepon Pak Tarno di pagi hari, minta dijemput untuk jualan,” ujar Selamet dengan tegas.
Ia menambahkan bahwa rumor yang menyebutkan Pak Tarno dibawa kabur oleh seseorang tidaklah benar. "Pak Tarno sendiri yang memutuskan untuk pergi, bukan karena dipaksa," timpalnya.
Hanya saja, pengakuan berbeda diungkapkan anak-anak dan keluarga Pak Tarno yang khawatir dengan kondisi sang ayah yang jualan dengan kursi roda.
Mereka menuding Dewi dan Selamet terlibat dalam eksploitasi terhadap Pak Tarno, yang kini dalam kondisi sakit.
Baca Juga: Jimin BTS Menangkan Kategori 'Best K-Pop', Ini Daftar Pemenang MTV EMA 2024
Mereka mengimbau agar tidak ada eksploitasi terhadap Pak Tarno, apalagi mengingat kondisinya yang semakin menurun.
Keluarga Pak Tarno bahkan tak menutup kemungkinan untuk membawa masalah ini ke ranah hukum, mengingat kekhawatiran mereka yang semakin mendalam.
Di sisi lain, Ibu Lisa, istri kedua Pak Tarno, juga mengungkapkan kekesalannya terhadap Dewi yang menurutnya baru belakangan ini merawat Pak Tarno, sementara dirinya telah merawat Pak Tarno selama lebih dari dua tahun.
“Dewi hanya beberapa bulan terakhir yang mengurus Pak Tarno. Saya yang merawatnya sejak 2022, dan saya yang setia mendampingi selama ini,” ujar Lisa dengan penuh emosi.
Lisa menjelaskan bahwa sejak Pak Tarno jatuh sakit, ia yang selalu ada untuk merawatnya. Namun, setelah Pak Tarno berada di tangan Dewi, Lisa merasa sangat sulit untuk bertemu dengan suaminya.
Lisa juga mengungkapkan bahwa Dewi sering kali menghalangi keinginan keluarga untuk merawat Pak Tarno dengan baik.
“Pak Tarno sudah tua dan sakit. Dia butuh perawatan medis yang layak, bukan untuk diajak jualan atau bekerja keras,” tambah Lisa.
Menurutnya, Dewi lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada kesehatan suaminya.
“Saya sebagai istri tidak rela melihat ayah saya diperlakukan seperti ini. Dewi tidak membiarkan saya merawatnya dengan benar,” tegasnya.
Baca Juga: Tol Cipularang Purbaleunyi Arah Jakarta Dibuka Satu Jalur, Ini Kata Kapolda Soal Kecelakaan di KM 92
Sementara itu, Dewi dan Selamet membantah keras tudingan tersebut. Dewi menjelaskan bahwa ia hanya berusaha memenuhi kebutuhan Pak Tarno, yang menurutnya memang ingin terus beraktivitas.
“Pak Tarno ingin berjualan, dan saya tidak bisa melarangnya. Jika saya melarangnya, dia akan pergi sendiri,” jelas Dewi.
Ia juga menunjukkan bukti bahwa uang yang diberikan oleh para donatur untuk Pak Tarno masih utuh dan tidak ada yang disalahgunakan.
“Uang itu aman, disimpan di tiga koper, dan tidak ada yang hilang atau digunakan untuk kepentingan pribadi,” ujar Dewi dengan yakin.
Namun, tudingan soal pengelolaan uang tetap menjadi sorotan. Selamet, yang menjadi salah satu pihak yang dituduh menguasai uang donasi, menanggapi dengan tegas.
“Uang yang diterima Pak Tarno untuk keperluan pengobatan dan biaya hidupnya selama ini tidak pernah disalahgunakan. Semua uang yang ada dipergunakan untuk kepentingan Pak Tarno,” jelas Selamet.
Ia menambahkan bahwa tidak ada yang disembunyikan dari keluarga Pak Tarno mengenai uang tersebut.
"Kami selalu memastikan bahwa uang itu digunakan dengan benar untuk kebutuhan Pak Tarno,” tambahnya.
Fakta lain yang terungkap adalah adanya perbedaan pengelolaan uang yang diterima Pak Tarno selama ini.
Selamet menceritakan bahwa ia pernah melihat Pak Tarno menyimpan uang di dalam tas koper. “Saya melihat Pak Tarno meletakkan uang di dalam koper. Uang itu digunakan untuk keperluan pengobatan dan kebutuhan sehari-hari, tidak ada yang disalahgunakan,” ungkap Selamet.
Bahkan, ia mengungkapkan bahwa uang tersebut digunakan untuk membeli obat dan untuk biaya perawatan lainnya, seperti pijat dan transportasi. ***

