POJOKSATU.id - Film Pelangi di Mars menjadi salah satu karya yang mencoba memperluas cakrawala perfilman Indonesia.
Disutradarai oleh Upie Guava, film ini memadukan drama keluarga, petualangan, dan sentuhan fiksi ilmiah yang masih jarang dieksplorasi secara serius di industri film nasional.
Pelangi di Mars dijadwalkan tayang di bioskop mulai 18 Maret 2026, bertepatan dengan musim libur Lebaran.
Baca Juga: Iran Mulai Keluarkan Rudal Andalan Sejjil ke Israel, Begini Penampakan Kerusakan Tel Aviv
Momentum ini terasa tepat karena film tersebut dirancang sebagai tontonan keluarga yang dapat dinikmati berbagai generasi, terutama anak-anak yang sedang membangun imajinasi tentang masa depan.
Latar Cerita dan Ide Besar Film
Cerita film ini berpusat pada perjalanan seorang anak bersama robot dalam usaha pulang dari planet Mars.
Premis sederhana ini berkembang menjadi petualangan yang penuh tantangan sekaligus sarat pesan tentang keberanian bermimpi.
Film fiksi ilmiah Indonesia mulai mencoba menghadirkan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memicu imajinasi dan mimpi anak-anak.
Semangat itulah yang menjadi salah satu latar belakang hadirnya Pelangi di Mars.
Upie Guava mengaku proyek ini lahir dari kegelisahannya melihat minimnya literasi sains dan fiksi ilmiah yang dapat memicu rasa ingin tahu generasi muda di Indonesia.
“Literasi sci-fi di sebuah negara itu juga benchmark sejauh mana negara itu berpikir tentang ke depannya,” ujarnya dalam sesi wawancara.
Menurutnya, selama ini genre sci-fi banyak didominasi oleh negara seperti Amerika Serikat.
Namun belakangan beberapa negara Asia juga mulai menunjukkan perkembangan signifikan.
“Selama ini sci-fi itu didominasi oleh Amerika. Belakangan kita lihat China, Korea Selatan,” katanya.
Keputusan membuat film fiksi ilmiah bahkan menjadi idealisme pribadi baginya sejak lama. Ia mengaku sempat menolak sejumlah tawaran proyek film lain karena ingin debut film panjangnya hadir melalui genre tersebut.
Alur Cerita: Petualangan dan Harapan
Narasi film bergerak melalui perjalanan tokoh utama yang harus menghadapi berbagai situasi berbahaya di planet Mars sebelum akhirnya menemukan jalan pulang.
Di sepanjang perjalanan, karakter anak tersebut ditemani robot bernama Yoman yang menjadi partner sekaligus penjaga.
Hubungan antara manusia dan mesin ini menjadi salah satu dinamika menarik dalam cerita.
Film ini tidak hanya memanfaatkan elemen petualangan luar angkasa sebagai spektakel visual, tetapi juga menekankan perkembangan emosional karakter yang belajar tentang keberanian, kepercayaan diri, dan arti mimpi.
Para Pemain dan Karakter
Film ini menghadirkan sejumlah aktor dan aktris yang memberi warna berbeda pada cerita.
Aktor Rio Dewanto memerankan karakter Banyu, sosok yang digambarkan sebagai figur dewasa yang rasional namun memiliki sisi emosional kuat terhadap keluarga dan masa depan anak-anak.
Baca Juga: Dana Transfer Dipotong, Pemda Mulai “Irit”: Sewa Mobil Pejabat hingga Perjalanan Dinas Dipangkas
Aktris Lutesha tampil sebagai Pratiwi, ibu dari tokoh utama Pelangi. Karakter ini membawa dimensi kehangatan keluarga yang menjadi fondasi emosional cerita.
Sementara itu Kristo Immanuel memerankan Yoman, robot yang menemani perjalanan petualangan di Mars.
Karakter ini memberikan nuansa ringan sekaligus menjadi elemen penting dalam dinamika cerita.
Aktris muda Livy Renata juga muncul sebagai Mirna, teknisi muda dalam tim eksplorasi yang penuh rasa ingin tahu.
Selain itu, Gilang Dirga turut terlibat sebagai pengisi suara karakter Petya.
Baca Juga: Viral Petugas TolJemput Bola ke Mobil yang Menumpuk, Cara Unik Ini Bikin Netizen Salut
Ia mengatakan film ini membawa pesan yang lebih luas daripada sekadar kisah robot atau astronot.
“Cerita film ini bukan hanya soal robot atau astronot. Ini adalah mimpi,” ujarnya.
Ia berharap film tersebut dapat memberikan pengaruh positif bagi anak-anak agar berani memiliki cita-cita besar.
“Mudah-mudahan film ini bisa memberi pengaruh positif bagi anak-anak sehingga mereka tidak takut untuk punya mimpi,” kata Gilang.
Pendekatan Visual dan Sinematik
Secara visual, Pelangi di Mars menghadirkan pendekatan sinematik yang cukup ambisius untuk ukuran film Indonesia.
Baca Juga: VIRAL Pemotor Nyelonong Saat Lampu Merah di Blok M, Langsung Dihantam Mobil yang Sudah Lampu Hijau
Lanskap Mars ditampilkan melalui komposisi frame luas yang memperlihatkan ruang kosong planet merah sekaligus mempertegas rasa petualangan yang sunyi namun menegangkan.
Penggunaan efek visual dan desain produksi berusaha menciptakan atmosfer futuristik yang tetap terasa dekat dengan penonton.
Dalam beberapa adegan eksplorasi, kamera bergerak mengikuti karakter secara dinamis sehingga penonton seperti diajak ikut menjelajah permukaan planet tersebut.
Di sinilah kekuatan film ini terasa: ia tidak hanya memamerkan teknologi atau efek visual, tetapi juga menjaga ritme emosi agar tetap terhubung dengan perjalanan karakter.
Baca Juga: Masjid Agung Riadhusshalihin Barabai, Ikon Wisata Religi Bersejarah di Hulu Sungai Tengah
Film tentang Imajinasi dan Masa Depan
Lebih dari sekadar tontonan petualangan luar angkasa, Pelangi di Mars mencoba menanamkan gagasan sederhana namun kuat: mimpi anak-anak adalah fondasi masa depan sebuah bangsa.
Upie Guava bahkan menegaskan bahwa inspirasi terbesar film ini berasal dari keyakinannya bahwa generasi muda perlu ruang untuk membayangkan masa depan yang lebih luas.
“Saya percaya bangsa yang besar itu adalah bangsa yang terbentuk dari mimpinya anak-anak,” katanya.
Baca Juga: Masjid Jami Syekh Abdul Hamid Abulung, Jejak Sejarah Islam yang Terawat di Martapura Barat
Jika sinema adalah jendela untuk melihat kemungkinan dunia yang belum ada, maka Pelangi di Mars mencoba membuka jendela itu bagi penonton Indonesia.
Siapkah ikut dalam perjalanan menuju planet merah dan menemukan mimpi yang mungkin selama ini hanya berani dibayangkan? ***


