POJOKSATU.id, ARTIS dan istri musisi Bebi Romeo meluapkan rasa kecewanya terhadap orang-orang di Indonesia yang masih menutup mata dan tidak peduli dengan genosida di Gaza, Palestina.

Padahal, menurut Meisya Siregar banyak bukti bahwa genosida di Gaza benar terjadi. Bahkan, mahasiswa di luar negeri mampu demo berjilid-jilid untuk menyuarakan genjatan senjata.

"Enggak habis pikir sama orang yang menutup mata atas apa yang terjadi di Raf** G4*a. Sampe saat ini di saat negara barat dari mulai mahasiswa sampe rakyatnya berani bertindak jauh dari kita untuk tegas melawan geno**da. Minder, jujur!," tulis Meisya Siregar dikutip Pojoksatu.id dari Instagram-nya, Minggu, 12 Mei 2024.

Baca Juga: Kesal Selalu Diharapkan Balikan dengan Aliando, Prilly Latuconsina Ingatkan Netizen : Bisa Stop Enggak Sih?

Dia membandingkan dengan reaksi netizen Indonesia yang masih saja mempeributkan para pendukung Palestina.

"Di sini, masih aja baca komen dengan pake narasi : ngapain sibuk ikut-ikutan bersuara buat negara orang yang jauh. Yang dekat-dekat saja dulu pikirin," tukasnya.

"Atau 'buat apa effort boikot, enggak ngaruh. Loe juga masih pke HP and IG dll'. Gagal paham, senjata bikinan sapa? Ngerti senjata makan tuan dong?," sebutnya.

Bahkan, ada yang berkomentar 'pikirin dong SDM kita yang kehilangan pekerjaan! Lagian brand A kan ngasih donasi ber M M ke ????!".

Baca Juga: Pesan Tengku Dewi untuk Andrew Andika : Misalkan Kita Enggak Bareng Lagi, Kamu Tetap Jadi Papa yang Baik Saja

Atau ada yang memili tidak mau melihat berita Palestina, hanya karena tidak sanggup melihat para korban yang dibunuh Israel.

"Apapun sikap yang kita ambil untuk ????. Semua akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah," pungkasnya.

Sementara itu, dilansir dari Al Jazeera, tentara Israel terus memperluas serangan di Palestina sampai ke Rafah.

Militer Israel telah memerintahkan penduduk di lebih banyak wilayah di Rafah timur dan tengah untuk mengungsi ketika mereka memperluas serangannya di sudut paling selatan Jalur Gaza, yang sekali lagi menyebabkan puluhan ribu warga Palestina mengungsi.

Diperkirakan 150.000 warga Palestina, banyak yang terpaksa mengungsi beberapa kali, kini telah meninggalkan Rafah.

Baca Juga: Minta Maaf Telah Menyinggung Fans China, aespa Resmi Tunda Konser '7 Juli' di Jepang

Dilaporkan dari Deir el-Balah di Gaza tengah, Tareq Abu Azzoum dari Al Jazeera mengatakan pihak berwenang Israel menjatuhkan selebaran dan menelepon untuk meminta lebih banyak perintah evakuasi.

Sebelumnya pada hari Sabtu, perintah evakuasi dikeluarkan untuk Shaboura dan sekitar Rumah Sakit Khusus Kuwait.

Abu Azzoum, menambahkan bahwa “orang-orang diminta untuk melarikan diri karena daerah ini di masa depan akan menjadi zona operasi militer bagi tentara Israel. Situasinya benar-benar mengerikan”.

Saheb al-Hams, seorang direktur rumah sakit di Rafah, membenarkan bahwa perintah evakuasi yang diperluas mencakup Rumah Sakit Kuwait di kota Rafah di mana banyak sekali pasien dan orang yang terluka dirawat.

Baca Juga: Putuskan Pisah, Tengku Dewi Putri Ungkap Usir Andrew Andika usai Tunjukkan Bukti Valid Perselingkuhan sang Suami

“Tidak ada tempat lain yang dapat dituju oleh pasien dan orang yang terluka selain rumah sakit ini,” kata al-Hams.

Sebelumnya pada hari Sabtu, tentara Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “sekitar 300.000 warga Gaza” telah pindah dari bagian timur Rafah ke al-Mawasi sejak perintah tersebut dikeluarkan pada hari Senin.

Israel mengklaim al-Mawasi, di pantai barat Gaza, adalah “zona kemanusiaan yang aman”. Namun kelompok-kelompok kemanusiaan dan pengungsi Palestina mengatakan puluhan ribu orang berdesakan di wilayah tersebut, dan menghadapi kekurangan makanan dan air yang parah, serta pemboman berkala.

“Mereka memberi tahu kami bahwa kawasan ini tidak terancam dan aman. Tapi ternyata daerah ini berbahaya,” kata Ahmad Abu Nahil, seorang warga Gaza yang mengungsi, kepada Al Jazeera ketika keluarganya meninggalkan Rafah.

Baca Juga: FAKTA TAK TERBANTAHKAN Kecelakaan Bus SMK Lingga Kencana Depok di Subang, Ada yang Ubah Lokasi Tujuan Perpisahan

Georgios Petropoulos, seorang pejabat di Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di Rafah, mengatakan kepada kantor berita The Associated Press bahwa pekerja kemanusiaan tidak memiliki persediaan untuk membantu mereka menetap di lokasi baru dan menampung puluhan ribu orang baru dari Rafah.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan pada hari Sabtu bahwa setidaknya 34.971 orang telah tewas dan 78.641 orang terluka dalam serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober. Revisi jumlah korban tewas di Israel akibat serangan Hamas pada 7 Oktober mencapai 1.139 orang dan puluhan orang masih ditawan. ***