POJOKSATU.id, SELEBGRAM Fuji mengalami banyak perubahan sikap dari pertama kali muncul di dunia hiburan. Dari emosi yang meledak hingga bisa mengendalikan amarahnya.

Fuji mengatakan sikapnya berubah karena merasa semakin lama lelah juga mengutamakan ego, sehingga lebih memilih mengalah untuk menyikapi berbagai masalah.

Fuji mengatakan momen ditinggal abang dan kakak iparnya cukup menghancurkan keluarga mereka.

"Dulu komunikasi aku dengan ornag tua kurang baik, karena semua hal terlalu baru. Kita ditinggal dua orang yang disayang, kita enggak prepare, kita masih syok, tiba-tiba semua melihat ke keluarga kita," ujar Fuji dilansir Pojoksatu.id dari YouTube Venna Melinda.
Baca Juga: Tegaskan ke Venna Melinda soal Kebersamaan dengan Verrell Bramasta Bukan Settingan, Fuji : MasyaAllah Anak Tante Sempurna Banget

Ditambah lagi, rebutan Gala dengan pihak Doddy Soedrajat. "Rebutan Gala itu capek full, belum lagi ada permasalahan internal, itu semua hal-hal baru. Papa ingin dimengerti, abang-abang ingin dimengerti, jadi kita ada egoisnya, semuanya punya problem dan sakitnya masing-masing," tuturnya.

Puncaknya, saat Fuji ditipu orang kepercayaannya. Dia menyadari terlalu percaya sama orang terdekat, dan itu merugikannya.

"Waktu aku ditipu manajer aku, selain ditinggal abang aku, itu titik terendah aku. Jatuh benar mental aku di situ. Itu posisinya hubungan aku jadi enggak baik sama pasangan aku saat itu, karena kena dua-duanya, bukan aku aja yang kena penggelapan itu," sebutnya.

Baca Juga: Sebut Gala Bawa Berkah, Fuji Akui Selalu Dapat Rezeki Tiap Kali Bikin Senang sang Keponakan

Kala itu, dia kecewa berat, kerja banyak tapi hasil tidak ada, gegara ditipu manajernya. Dari situ, dia juga melihat ternyata ada teman yang toxic di lingkungan pertemanannya.

"Pertemanan yang juga toxic, di depan gimana, di belakang ngomongin. Bahkan yang suka niat jahat juga ada. Dan itu terjadi satu waktu, bertubi-tubi di minggu ini belum selesai, minggu depannya tambah lagi," kenangnya.

"Itu jujur aku sudah enggak kuat banget, sampai gua sudah enggak mau main sosmed, aku hampir pengen nyerah saat ini, enggak kuat aku. Karena dari sisi internal, eksternal, netizen," sebutnya.

Baca Juga: Menkes Budi Sadikin: Perundungan Peserta PPDS Karna Banyak Senior yang Mengajar, Bukan Dosen

Hingga, dia akhirnya merasa terlambat menemui para ahli untuk mengurusi perkara mental.

"Salahnya aku, aku enggak ketemu orang ahli, psikiater, psikolog lebih cepat. Jadi aku mendam sendiri, pecah sendiri, emosi sendiri, habis itu burn out aja, enggak kuat," ungkapnya.

"Akhirnya, aku ketemu psikolog pskiater, melihat mana yang baik, agak menjauhi yang kurang baik," sambungnya.

Dia juga mendapat saran dari psikolog, bahwa ada beberapa sifatnya yang harus diubah, dan lebih meletakkan ikatan batin dirinya.
Baca Juga: Warnai Hardiknas dengan Pesona Nusantara: 20 Baju Adat Pilihan Siap Tampil Memukau

"Dan, enggak boleh nyiksa diri kayak kerja yang over time, jadi peole pleaser. Karena kalau teman aku bilang apa, aku iya-iya, kadang suka dimanfaatin, itu titik terendah, jatuh mental aku, jadi di sosial media aku haha hihi," ungkapnya.

Fuji menjelaskan beberapa kali harus konsultasi ke ahli. Dan, dia membuang mindset bahwa ke psikiater dan psikolog hanya untuk orang 'gila'.

"Bukan karena kita gila atau penyakit mental, tapi saat kita jatuh, kita cara nyembuhinnya gimana," pungkas Fuji. ***