POJOKSATU.id — Musik tidak pernah berdiri semata sebagai hiburan. Lebih dari itu, musik kerap menjadi potret sebuah zaman.

Di setiap periode, selalu muncul lagu-lagu yang bukan hanya digemari banyak orang, tetapi juga melekat kuat sebagai simbol generasi.

Melalui lirik dan nadanya, lagu-lagu tersebut merekam kegelisahan, harapan, semangat, hingga perubahan cara pandang anak muda pada masanya.

Baca Juga: 821 Guru PNS dan PPPK Berebut 69 Kursi Kepala Sekolah di Riau, Peluang Disebut Setara, Ini Penjelasannya

Seiring bergeraknya waktu dan berkembangnya kondisi sosial, budaya, serta teknologi, musik menjelma menjadi medium paling jujur dalam menyuarakan isi hati sebuah generasi.

Tak sedikit lagu yang mampu melampaui zamannya, terus didengarkan lintas usia, dan dikenang sebagai penanda era tertentu.

Dari masa ke masa, sejumlah lagu kerap dianggap merepresentasikan suara generasi yang hidup di dalamnya.

Baca Juga: Pria Depok Ditemukan Tak Bernyawa di Kamar Hotel 604 di Cirebon

Pada dekade 1960–1970-an, Bob Dylan hadir melalui lagu Blowin’ in the Wind sebagai representasi generasi yang lantang menyuarakan perlawanan terhadap perang dan ketidakadilan.

Lagu ini erat kaitannya dengan menguatnya gerakan perdamaian dan perjuangan kebebasan sipil di berbagai belahan dunia.

Memasuki era 1980-an, Michael Jackson menjelma sebagai ikon pop global lewat lagu Thriller.

Baca Juga: Gaji PPPK Paruh Waktu 2026 Resmi Diatur Ulang, Ini Skema Pembayaran Terbarunya

Masa ini ditandai oleh ledakan budaya pop, kejayaan televisi musik seperti MTV, serta industri hiburan yang semakin menonjolkan kekuatan visual dan pertunjukan megah.

Pada tahun 1990-an, Nirvana melalui Smells Like Teen Spirit tampil sebagai suara Generasi X.

Lagu ini merefleksikan sikap anti-kemapanan, kegelisahan anak muda, serta kritik terhadap nilai-nilai arus utama yang dianggap mengekang.

Baca Juga: Rata-rata Nilai SNBP Undip 2026, Prediksi Lengkap Tiap Jurusan

Sementara itu, generasi milenial awal 2000-an banyak menemukan cerminan dirinya dalam lagu In the End milik Linkin Park.

Liriknya menggambarkan tekanan hidup, konflik batin, dan pencarian jati diri yang dekat dengan pengalaman remaja hingga dewasa muda pada periode tersebut.

Memasuki dekade 2010-an, Adele lewat Someone Like You menjadi simbol generasi yang semakin terbuka mengekspresikan perasaan.

Baca Juga: OPD Sudah Ajukan Nama PPPK Paruh Waktu, Penempatan di Tiap RW Dijadwalkan Awal Februari

Lagu ini merepresentasikan kejujuran emosi, patah hati, dan kerentanan yang tak lagi ditutupi.

Adapun di era Generasi Z, Billie Eilish melalui Bad Guy mencerminkan karakter generasi yang berani tampil berbeda.

Lagu ini menggambarkan sikap menolak standar lama, sekaligus kedekatan generasi muda dengan isu kesehatan mental dan pencarian identitas diri.

Baca Juga: Pemerintah Minta Maaf Soal Banjir, Istana Akui Bukan Sekadar Hujan tapi Salah Dalam Mengatur Tata Ruang

Fenomena lagu sebagai simbol generasi juga terjadi di Indonesia.

Iwan Fals, lewat lagu Bongkar, dikenal sebagai representasi kritik sosial yang melintasi zaman dan tetap relevan hingga kini.

Awal 2000-an diwarnai oleh kehadiran Sheila On 7 dengan lagu Dan, yang merepresentasikan cinta sederhana, romantisme masa muda, serta kehangatan persahabatan yang membekas di ingatan banyak orang.

Baca Juga: Satu Dokumen Ini Jadi Penyebab Gaji PPPK Paruh Waktu Surabaya Belum Cair hingga Akhir Januari

Sementara itu, generasi yang lebih modern banyak merasa dekat dengan karya Tulus, khususnya melalui lagu Monokrom.

Lagu ini menggambarkan refleksi diri, kedewasaan emosional, serta makna hubungan antarmanusia dalam kehidupan yang semakin kompleks.

Lagu-lagu yang kemudian menjadi simbol generasi umumnya lahir dari konteks sosial yang kuat.

Baca Juga: Rata-rata Nilai SNBP Untidar 2026, Ini Prediksi Tiap Jurusan yang Perlu Kamu Tahu

Musik tidak hanya didengarkan, tetapi juga dirasakan dan dijadikan identitas bersama.

Dari semangat perlawanan, ungkapan cinta, hingga proses pencarian jati diri, musik terus hadir sebagai saksi perjalanan setiap generasi.***