POJOKSATU.id, ISI gugatan cerai Ria Ricis yang tersebar luas juga dibarengi jawaban Teuku Ryan atas berbagai hal yang disebut istrinya saat itu sebagai pemicu perceraian.
Diantaranya, Teuku Ryan menjelaskan dirinya yang disebut Ria Ricis sebagai pria yang tidak tegas sebagai kepala keluarga.
Menurut Teuku Ryan sulit baginya menjadi imam yang tegas kalau Ria Ricis sangat dominan di rumah tangga mereka.
"Penggugat (Ricis) meminta ketegasan tergugat untuk menjadi suami dan pemimpin rumah tangga, tetapi di satu sisi tergugat nyatanya adalah istri yang keras kepala dan dominan dalam mengambil keputusan dalam segala hal," demikian yang tertulis dari jawaban Ryan dari gugatan Ricis yang beredar luas.
Dia menjelaskan dia berusaha terus menerus menasehati tergugat, misalnya soal kredit rumah, dan segala macam kebutuhan lainnya. Namun, tidak dihiraukan.
"Jadi sekali lagi tergugat meminta penggugat tidak manipulasi atas satu kondisi, seolah meminta tergugat sebagai suami dan pemimpin rumah tangga tetapi di satu sisi tidak mau diatur dan hanya merasa benar dirinya sendiri," ungkapnya.
Juga soal komunikasi mereka yang tak lancar setelah dirinya hengkang dari rumah, Ryan menjelaskan nomornya diblokir.
"Tergugat tidak bisa menghubungi langsung penggugat karena nomor telepon tergugat diblokir dengan alasan tidak jelas. Penggugat terlalu keras hati, suami sendiri yang ingin menghubungi harus melalui asisten atau manajer," jelasnya.
Dia membantah soal dirinya yang tidak bisa dijadikan teman bercerita istrinya.
"Tidak benar adanya, tergugat berusaha realistis dalam kehidupan dengan penggugat. Tergugat sangat welcome untuk bercerita dan berbincang apapun, seperti mengajak makan daging kesukaan penggugat, nonton di kamar berdua bahkan di bioskop," jawabnya.
Dia mengatakan seharusnya Ricis mengerti situasi dan kondisi tergugat.
"Jadi tidak selalu mengatakan tidak ada komunikasi yang baik tetapi sikap saling menghargai antara penggugat dan tergugat juga harus di ke depankan penggugat," bebernya.
Salah satunya yaitu harus menghargai suami yang bekerja dan berpikir bagaimana mencari peluang dan pekerjaan ke depan serta membayar tagihan-tagihan rutin bersama selama ini.
Pun, soal insiden minuman yang diprotes ibu Ryan yang jadi pemicu keretakan rumah tangga mereka, disebutnya tak harus dibesar-besarkan.
"Rasanya bukan hal yang perlu dibesarkan, ibu tergugat hanya menanyakan dan menyarankan bukan berarti tidak boleh, lalu penggugat sakit hati dan menceraikan tergugat," tukasnya.
"Inilah awal yang menyebabkan penggugat tidak suka terhadap ibu tergugat sampai ekarang, padahal sebelum menikah penggugat dan ibu tergugat sangat rukun dan akrab," sambungnya.
Terkait uang transferan Ricis senilai Rp500 juta yang disebut seketika mengubah sikapnya dari acuh ke perhatian, dibantahnya.
Menurutnya uang itu adalah hasil kerja kerasnya. "Tergugat tidak menafikan uang transferan tersebut benar adanya, tetapi itu adalah hasil kerja keras tergugat selama ini," bebernya.
"Yang mana tergugat membantu usaha Kak Shindy dan memang sudah ada hitungan dan hasil yang harus dibagi kepada tergugat sewajarnya. Jadi tidak bisa penggugat mengklaim hal tersebut," lanjutnya.
Dan terkait nafkah batin, Ryan mengatakan bukan karena dirinya punya masalah kesehatan. Melainkan saat istrinya hamil, dia khawatir kalau berhubungan badan akan mengganggu janin.
"Pernyataan ini mengada-ada (ada masalah Kesehatan), tergugat tidak pernah ada masalah disfungsi seksual dan tidak ada diagnose yang menyatakan tergugat lemah syahwat, apalagi kelainan seksual," tegasnya.
"Faktanya penggugat dan tergugat telah dikaruniai anak yang sehat," tambahnya.
Pun tentang hinaan fisik, dibantahnya. Menurutnya, dia hanya menyemangati Ricis agar banyak makan dan tubuhnya lebih berisi.
"Apakah ada yang salah dari perkataan tergugat tersebut, tujuannya baik, agar penggugat bisa makan banyak. Supaya terlihat gemuk dan berisi itupun dikatakan dengan baik tidak menghina," jelas Teuku Ryan. ***

