POJOKSATU.id, KABAR duka datang dari ranah music rock tanah air. Ini setelah mantan basis grup Edane, Iwan Xaverius meninggal dunia, Rabu, 5 Juni 2024.

Meninggalnya Iwan Xaverius diumumkan lewat akun resmi Instagram Edane, @edane_official. "Innalillahi wa innaa ilaihi rojiun," tulis Edane.

Pedangdut senior, Rhoma Irama juga mengabarkan meninggalnya Iwan Xaverius. Dia mengunggah ucapan belasungkawa untuk sang adik ipar.

"Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, adik ipar saya Iwan Xaverius bin Adrian Oscar yang juga merupakan mantan personil @edane_official," ungkapnya.

Dia mendoakan agar sang adik ipar mendapatkan tempat terbaik. "Teriring do’a semoga ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala menerima amal ibadah beliau, dan mengampuni dosa beliau, serta mendapatkan tempat yang terbaik dan mulia disisi ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala. Aamiin Allahumma Aamiin," tulisnya.

Baca Juga: Soal Ulangan Akhir Bahasa Sunda Kelas 2 SD Dilengkapi Jawaban, Bisa Lebih Siap Saat Ujian, Sok Sing Janten Juara!

"Allahummaghfirlahuu, warhamhuu, wa’afiihi, wa’fuanhuu," pungkasnya.

Kiprah Bersama Edane

Dilansir dari Wikipedia, Edane merupakan grup musik hard rock dari Jakarta yang sejak berdiri 1991 bernama E & E.

Pada tanggal 10 Mei 1992 nama E & E secara resmi diganti menjadi EdanE lewat rilisan album perdana the beast. Atau ketika berakhirnya proyek duo Eet Sjahranie dan Ekki Soekarno.

Keduanya pernah sama-sama terlibat dalam proyek kolaborasi Kharisma Indonesia yang digagas oleh Ekki Soekarno tahun 1988. Namun proyek duo Eet dan Ekki yang diambil dari inisial nama masing-masing (E & E) ini tidak berlanjut.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Merapat ke Demokrat, Herzaky Mahendra Sebut Fokus ke Cawagub Jabar dari Internal

Kemudian, proyek E & E ini terus berlanjut dengan menggandeng Ecky Lamoh yang juga memiliki inisial 'E' dan sama-sama pernah terlibat dalam proyek kolaborasi Kharisma Indonesia.

Sehingga Eet tetap menggunakan nama E & E yang sempat diusung bersama Ekki Pada tahun 1992 E & E bertransformasi menjadi format band bernama Edane.

Edane memulai dengan tambahan anggota Fajar Satritama (Cynomadeus) dan Iwan Xaverius (Jet Liar). Hampir tiga dekade perjalanan musiknya, pergantian anggota band dalam tubuh Edane kerap terjadi, terutama pada lini vocal.

Mereka merilis debutnya bertajuk The Beast tanggal 10 Mei 1992 melalui label AIRO Records.

Menyusul sukses debut sebelumnya, Edane dengan vokalis Heri Batara (juga dikenal dengan formasi II) meluncurkan Jabrik tahun 1994 melalui label Aquarius Musikindo. Album kedua ini juga berkolaborasi dengan musisi-musisi lain terutama dalam hal penulisan lirik seperti Sawung Jabo, Tagor S, JP Patton dan Tontowy.

Baca Juga: Teka Teki Kasus Vina dan Eki, Ini Kata Ketua IWO Cirebon

Dua tahun berselang, Edane rilis album ketiganya bertajuk Borneo tahun 1996. Kemudian, merilis album keempat berupa album kompilasi yang bertajuk 9299 tahun 1999.

Edane formasi II yang cukup lama bertahan hingga tahun 2002 ini pun berakhir dengan pengunduran diri Heri Batara yang memilih untuk berkontribusi dibelakang layar, sehingga posisinya digantikan oleh Trison Manurung (Roxx) sebagai vokalis melalui proses audisi.

Kemudian Edane dengan vokalis Trison (juga dikenal dengan formasi III) meluncurkan album kelima yang bertajuk 170 Volts rilis tahun 2002 melalui label Sony Music Indonesia.

Di tengah perjalanannya, Edane formasi III ini masih mencari vokalis cadangan atau musisi sesi dengan menggelar audisi untuk membawakan tembang-tembang lawas Edane dari album sebelumnya.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Temui Elit Demokrat di Bandung, Bahas Pilgub Jabar 2024?

Trison mundur dari Edane pertengahan tahun 2003 dan kembali dengan band lamanya Roxx. Kemudian lini vokal berlanjut ke Robbie Matulandi (Razzle).

Proses gabungnya Robbie selepas mundurnya Trison diawali saat pertemuannya dengan pihak label Sony Music Indonesia yang menaungi Edane, kemudian berlanjut hingga menggelar pertunjukan langsung (show) dengan membawakan tembang-tembang Edane dari album The Beast hingga 170 Volts.

Formasi Edane bersama vokalis Robbie (juga dikenal dengan formasi IV) lalu menggarap tembang daur ulang God Bless bertajuk "Bla–Bla–Bla".

Kemudian Edane didapuk membuat tema lagu (soundtrack) untuk film Spider-Man 2 yang akan diedarkan di kawasan Asia oleh Sony Music Indonesia, sehingga lahir singel bertajuk "Cry Out".

Album keenam Edane bertajuk Time To Rock rilis tanggal 20 Juni 2005 melalui label Sony BMG Indonesia sebagai kelanjutan dari penggarapan sebelumnya, yakni tema lagu untuk film Spider-Man 2 dan "Cry Out" menjadi salah satu lagu dalam album ini.

Baca Juga: Ini Pesan Ketum Tim Gina Ade Swara Jelang Pilkada Karawang 2024

Tak lama setelah rilis album Time To Rock, akhirnya Edane formasi IV ini pun juga tidak bertahan lama dengan mundurnya Robbie bersamaan dengan Iwan yang gabung dengan Edane sejak awal Edane digagas, menyisakan Eet dan Fajar.

Hingga akhirnya Edane vakum dan hilang dari peredaran memasuki era konsolidasi, walaupun terdapat beberapa aktifitas 'off-air' melakukan seleksi dan audisi tidak resmi untuk lini vokal dan bas.

Di sini juga Iwan Xaverius yang aktif pada 1992 hingga 2005.

Edane bangkit kembali menggebrak belantika musik tanah air dipenghujung tahun 2010 dengan merilis album ketujuhnya bertajuk Edan melalui Log Zhelebour dengan benderanya Logiss Records.

Baca Juga: Mantan Istri Laporkan Tiko Aryawardhana ke Polisi, Berikut Kronologi Kasus Dugaan Penggelapan Suami Bunga Citra Lestari Itu

Album yang rilis tanggal 4 Desember 2010 ini berisi sembilan komposisi lagu baru, satu lagu intro ditambah dua lagu dengan format 'minus-one'.

Pada 2021, bassis Daeng Oktav cuti dari Edane dan beralih ke Hendra Zamzami yang sebelumnya menjadi gitaris tandem Eet Sjahranie yang menjadi personil saat ini. ***