POJOKSATU.ID - Dunia media sosial baru-baru ini dihebohkan oleh kabar rencana penjualan saluran YouTube milik food vlogger ternama, Farida Nurhan.

Kabar ini menjadi viral setelah beredar informasi bahwa Farida mematok harga fantastis sebesar Rp10 miliar untuk aset digitalnya tersebut.

Namun, angka tersebut justru memicu perdebatan sengit di kalangan netizen, terutama setelah muncul laporan bahwa penawaran tertinggi yang masuk hanyalah sebesar Rp300 juta.

Selisih harga yang sangat mencolok ini membuat banyak pihak mempertanyakan nilai sebenarnya dari sebuah kanal YouTube dengan jutaan pengikut di tengah kondisi pasar digital saat ini.

Baca Juga: Heboh Wacana Biaya Parkir Gabung STNK Mulai 2027: Cek Faktanya di Sini!

Kesenjangan harga yang mencapai puluhan kali lipat ini disinyalir bukan tanpa alasan.

Para netizen di platform X menyoroti pernyataan Farida sendiri dalam sebuah konten podcast atau podkes, di mana ia sempat mencurahkan isi hatinya mengenai pengelolaan kanal tersebut.

Dalam curhatannya, ia mengaku bahwa hasil yang didapat dari YouTube sebenarnya tidak seberapa, bahkan nilai pendapatannya berada di bawah biaya operasional yang harus dikeluarkan.

Pengakuan jujur ini justru dianggap menjadi "senjata makan tuan" karena secara tidak langsung menunjukkan bahwa bisnis kanal tersebut sedang mengalami kerugian atau tidak lagi menguntungkan secara finansial bagi pemiliknya.

Baca Juga: Update Kasus Agus Buntung: MA Resmi Perberat Hukuman Jadi 12 Tahun, Tampak Bahagia di Lapas Lombok Barat

Kondisi inilah yang membuat para calon pembeli enggan mengeluarkan dana miliaran rupiah.

Logika bisnis sederhana menyatakan bahwa investor biasanya membeli aset digital berdasarkan potensi keuntungan (cash flow) di masa depan.

Jika pemilik aslinya saja sudah menyatakan bahwa biaya operasional lebih besar daripada pemasukan, maka nilai investasi akun tersebut otomatis merosot tajam.

Sebagian netizen bahkan berpendapat bahwa tawaran sebesar Rp300 juta sebenarnya sudah merupakan angka yang sangat bagus dan realistis mengingat beban operasional yang tinggi.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi para kreator konten bahwa transparansi mengenai kerugian operasional di ruang publik dapat secara drastis menurunkan nilai tawar aset digital mereka.***