POJOKSATU.id - Industri film Indonesia kembali mencuri perhatian dunia melalui karya terbaru berjudul “Para Perasuk” (judul internasional: Levitating). 

Film ini disutradarai oleh Wregas Bhanuteja, yang juga menulis skenario bersama Defi Mahendra dan Alicia Angelina.

Film ini mengangkat kisah Bayu, seorang pemuda berusia 20 tahun yang memiliki ambisi unik, yakni menjadi seorang “perasuk” dalam tradisi pesta kerasukan di desanya. 

Baca Juga: Pengunduh Video Terbaik di YouTube 2026: Ulasan dan Perbandingan Lengkap

Di tengah budaya yang sarat nilai spiritual, Bayu berusaha menemukan jati diri sekaligus pengakuan dalam komunitasnya.

Dibintangi oleh sejumlah aktor ternama seperti Angga Yunanda, Maudy Ayunda, Anggun, Bryan Domani, hingga Chicco Kurniawan, film ini menjadi salah satu proyek kolaborasi internasional yang melibatkan Indonesia, Singapura, Prancis, dan Taiwan. 

Kehadiran Anggun juga menjadi sorotan tersendiri karena ini merupakan debutnya di film layar lebar.

Baca Juga: Tragedi PRT Lompat dari Lantai 4 di Benhil, UU PRT 2026 Disorot, Ini Aturan Jam Kerja hingga Upah

Secara produksi, “Para Perasuk” digarap oleh Rekata Studio dengan dukungan berbagai mitra internasional. 

Proses syuting berlangsung selama 24 hari dan rampung pada Oktober 2024, kemudian dilanjutkan dengan tahap pascaproduksi sepanjang 2025 yang mencakup penataan suara, musik, warna, hingga efek visual.

Menariknya, proyek ini sebelumnya telah mencuri perhatian di ajang Asian Project Market dalam Festival Film Internasional Busan dan berhasil meraih penghargaan CJ ENM. 

Baca Juga: Resep Sambal Tempe Bejek Pedas Gurih, Lauk Sederhana yang Bikin Nambah Nasi

Tak hanya itu, film ini juga mendapatkan dukungan pascaproduksi dari Purin Pictures, Thailand.

Puncaknya, “Para Perasuk” dijadwalkan melakukan pemutaran perdana dunia pada 24 Januari 2026 di Festival Film Sundance 2026, dalam kompetisi World Cinema Dramatic Competition. 

Ajang ini menjadi salah satu festival film paling prestisius di dunia, sehingga keikutsertaan film ini menjadi pencapaian besar bagi perfilman Indonesia.

Baca Juga: Tarif Transjakarta Mau Naik Setelah 21 Tahun, Layak atau Bikin Tekor?

Kehadiran film ini di panggung internasional diharapkan mampu memperkuat posisi film Indonesia sebagai karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat makna budaya dan eksplorasi identitas.

Lebih dari sekadar cerita, “Para Perasuk” menjadi refleksi tentang pencarian jati diri manusia di tengah tradisi dan keyakinan.

Film ini sekaligus bukti bahwa karya anak bangsa mampu menembus batas global dengan cerita yang otentik dan menyentuh. ***