POJOKSATU.ID, Sosok guru cantik kelahiran Kendari yang menginspirasi banyak guru-guru di Indonesia, Fahmi Rahmasari yang berujuang mengajar dipelosok-pelosok desa yang ada di Sulawesi Selatan.
Fahmi adalah seorang guru honorer SMA Negeri 19 Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sebelumnya, Fahmi merupakan alumni Universitas Negeri Makassar (UNM) pada tahun 2016 dan selesai pada tahun 2021.
Baca Juga: Wali Kota Makassar Dukung Azizah Wakili Makassar pada Liga Talent Indonesia di Jakarta
Gadis kelahiran 1 April 1999 ini, menceritakan kisahya dalam proses mengajar di Kabupaten Luwu. Berawal dari menemani neneknya, Fahmi ditawari untuk mengajar disalah satu sekolah di Makassar.
Saat dihubungi Pojoksatu.id, Senin (27/11/2023). Fahmi mengatakan, setelah menyelesaikan studinya, ia langsung ditawari. Awalnya merasa berat menerima tawaran itu.
"Awalnya berat untuk menerima tawaran, tapi setelah mencoba ada rasa bahagia tersendiri ketika bisa berbagi dengan anak-anak yang ada disini, saya tidak bisa membagikan uang, tapi saya harap bisa memberikan semangat untuk bisa meraih impian,” ucapnya.
Saya juga melihat sosok ibu saya yang tidak pernah lelah berusaha membantu anak-anak yang putus sekolah disini, bagaimana caranya agar mereka bisa melanjutkan pendidikan,” tambahnya.
Menurutnya, Gadis asal Kendari ini, menjadi guru di SMA Negeri 19 Kabupaten Luwu tantangan paling berat adalah akses jalan.
Baca Juga: Grand Final Duta Wisata, Vicky Shu Bakal Hibur Masyarakat Kendari
Kata dia, perjalanan ke tempat sekolah itu sekitar 4-5 Km untuk bisa sampai dari rumah ke sekolah meski menggunakan sepeda motor, namun akses jalan cukup sulit dilalui kendaraan.
Jika menggunakan ojek memakan biaya Rp200 ribu, mobil yang lewat juga hanya mobil tertentu yang bisa, belum lagi ketika musim penghujan. Ditambah, sarana dan prasarana serta media dan bahan ajar juga menjadi penghalang para guru-guru disana.
Bahkan, kata Fahmi, pengalaman saat itu, adalah kegiatan-kegiatan sekolah yang membutuhkan jaringan bahkan listrik sempat hilang.
Baca Juga: Kota Kendari Jadi Tuan Rumah Pemilihan Duta Wisata se-Indonesia
"Kami harus naik gunung untuk mencari jaringan. Pernah saat kegiatan olimpiade sains, kami harus mengangkat komputer ke rumah warga untuk mengikuti kegiatan, karena di tersebut yang ada jaringan dan juga menggunakan listrik tenaga air,” keluhnya.
Selain disibukkan dengan aktivitas mengajar, Fahmi bersama guru-guru lainnya juga rutin melakukan pembimbingan mengaji bagi siswa-siswi yang sama sekali tidak bisa mengaji.
“Kami bekerja sukarela, digaji berdasarkan jam mengajar, tanpa tunjangan yang harusnya diperoleh oleh para pendidik di daerah-daerah 3T seperti kami,” tutupnya.


