POJOKSATU.id - Upaya Sarwendah Tan untuk meredam polemik melalui video permintaan maaf justru memunculkan kontroversi baru.

Setelah sebelumnya menjadi perbincangan karena dinilai tidak menyinggung atau meminta maaf kepada Ruben Onsu dalam video tersebut, kini mantan personel Cherrybelle itu diterpa isu dugaan penggunaan buzzer untuk membangun opini positif di media sosial.

Polemik bermula ketika sebuah unggahan yang berisi dugaan rate card buzzer beredar luas di media sosial X dan Instagram.

Baca Juga: Kemendagri Buka Peluang Relaksasi Aturan Belanja Pegawai, Daerah Didorong Tetap Pertahankan PPPK Paruh Waktu

Dalam dokumen yang viral tersebut, tercantum keterangan “Like + Komen Positif” dengan nominal bayaran Rp350 untuk setiap komentar yang berhasil diposting.

Tak hanya nominal honor yang menjadi perhatian, contoh narasi komentar yang diduga disiapkan juga ikut tersebar.

Beberapa di antaranya berisi kalimat bernada dukungan seperti, “Semoga jadi pembelajaran yang baik ke depannya. Tetap semangat ya,” hingga “Mengakui kesalahan dan meminta maaf itu tidak mudah. Salut atas keberaniannya.”

Baca Juga: Pelemahan IHSG dan Ambruknya Nilai Tukar Rupiah Disebabkan Persepsi Negatif Ekonomi Kita

Bocoran tersebut langsung memancing reaksi beragam dari warganet.

Banyak pengguna media sosial yang mempertanyakan kebenaran informasi tersebut, sementara sebagian lainnya justru menyoroti nominal bayaran yang dianggap sangat kecil.

Sejumlah komentar bernada sindiran pun bermunculan.

Ada yang membandingkan nominal tersebut dengan kabar mengenai pendapatan Sarwendah yang disebut-sebut mencapai ratusan juta rupiah dalam waktu singkat dari aktivitas siaran langsung dan bisnis digitalnya.

Baca Juga: Trump Klaim Iran Punya 22 Persen Rudal, Ini Penyebab Mereka Belum Sepakat Berdamai

Tidak sedikit pula yang mempertanyakan alasan di balik dugaan penggunaan buzzer tersebut.

Menurut mereka, jika benar terjadi, langkah itu justru dapat memperburuk persepsi publik terhadap permintaan maaf yang sebelumnya telah disampaikan.

Sebagian pengguna media sosial juga mengaku menemukan perubahan suasana kolom komentar dalam unggahan terkait.

Mereka menilai komentar-komentar bernada kritis yang sempat mendominasi perlahan menghilang dan digantikan oleh pesan-pesan dukungan yang jumlahnya meningkat cukup signifikan.

Baca Juga: Warga Gelar Kajian APBDes, Pemdes Japura Kidul Tak Hadir dan Dinilai Menghindari Klarifikasi

Fenomena tersebut kemudian memunculkan spekulasi bahwa ada upaya sistematis untuk membentuk opini publik agar lebih bersimpati kepada Sarwendah.

Namun hingga saat ini, seluruh tudingan tersebut masih sebatas dugaan yang beredar di ruang digital.

Belum ada bukti resmi yang dapat memastikan keterlibatan Sarwendah dalam aktivitas tersebut.

Pihak yang mengunggah bocoran rate card juga belum membeberkan sumber maupun verifikasi dokumen yang beredar luas itu.

Baca Juga: Jakarta Fair Kemayoran 2026 Resmi Dibuka 11 Juni, Cek Harga Tiket, Cara Beli Online, dan Jam Operasionalnya

Sementara itu, Sarwendah sendiri belum memberikan klarifikasi atau tanggapan resmi terkait tudingan penggunaan buzzer tersebut.

Akibatnya, perdebatan di media sosial terus berkembang dengan berbagai asumsi dan interpretasi dari publik.

Kasus ini kembali memperlihatkan bagaimana isu yang berkembang di media sosial dapat berubah menjadi perdebatan besar dalam waktu singkat.

Di era digital, persepsi publik tidak hanya dibentuk oleh pernyataan resmi, tetapi juga oleh dinamika percakapan yang berkembang di berbagai platform.***