POJOKSATU.id — Nama Ibnu Sutowo kembali ramai diperbincangkan setelah Dian Sastrowardoyo diumumkan terlibat sebagai salah satu pemeran dalam film Laut Bercerita yang dijadwalkan rilis pada 2026.
Film adaptasi novel karya Leila Chudori tersebut mengulas kisah para mahasiswa yang menjadi korban penghilangan paksa pada masa Orde Baru.
Dampaknya, berbagai figur yang terkait dengan periode tersebut kembali menjadi sorotan publik.
Baca Juga: Update Terbaru Korban Bencana Banjir dan Longsor Hari ke-8, Kota Sibolga 47 Orang Tapteng 86 Jiwa
Salah satu yang ikut terseret perhatian adalah Ibnu Sutowo, kakek dari suami Dian Sastro, Maulana Indraguna Sutowo.
Keterkaitannya dengan dinamika politik dan kekuasaan Orde Baru membuat namanya kembali diangkat ke permukaan dan menjadi bahan perbincangan.
Letnan Jenderal TNI (Purn.) dr. H. Ibnu Sutowo dikenal sebagai sosok penting sekaligus penuh kontroversi yang memimpin Pertamina sebagai Direktur Utama sejak 1968 hingga 1976.
Baca Juga: Sekitar 410 Ribu KPM di Bogor Cair Bansos Desember 2025, BLT Kesra, BPNT PKH
Pada masa kepemimpinannya, ia menjalankan dua peran sekaligus, tetap aktif di dunia militer sembari mengelola perusahaan minyak negara.
Kombinasi tanggung jawab tersebut kemudian melahirkan sejumlah persoalan internal di Pertamina.
Ketika pertama kali diangkat menjadi Dirut, pria kelahiran 1914 ini mencatatkan lonjakan karier yang sangat cepat.
Prestasinya dan kedekatannya dengan Presiden Soeharto membuatnya dipercaya memimpin perusahaan minyak nasional yang sedang berkembang.
Baca Juga: Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang Melibatkan 9 Mobil, Satu Orang Meninggal Dunia
Di bawah komandonya, Pertamina sempat tumbuh pesat, bertransformasi dari perusahaan kecil yang belum dikenal menjadi pemain besar di industri minyak dunia.
Namun kejayaan Pertamina di era kepemimpinannya tidak berlangsung mulus.
Dugaan praktik korupsi mulai mencuat, mendorong Presiden Soeharto membentuk empat komisi khusus untuk mengusut persoalan tersebut.
Baca Juga: Pendaftaran Bansos Dibuka Hingga 10 Desember 2025, Desil 5–7 Kini Bisa Daftar Ulang
Alih-alih memperkuat ekonomi negara, berbagai proyek ambisius justru membawa Pertamina ke jurang utang yang mencapai USD10,5 miliar.
Salah satu kasus terbesar adalah proyek sewa beli tanker samudera yang membebani keuangan perusahaan hingga tak mampu memenuhi kewajiban pembayaran.
Situasi itu semakin genting karena cadangan devisa Indonesia saat itu hanya sekitar USD400 juta.
Kondisi ekonomi negara yang terancam akhirnya membuat Presiden Soeharto mengambil langkah tegas.
Pada 5 Maret 1976, Ibnu Sutowo resmi diberhentikan dari jabatannya sebagai Direktur Utama Pertamina.
Pemerintah bahkan harus menjual sebagian aset Pertamina untuk menyelamatkan keuangan negara.
Peristiwa ini kemudian menempatkan Ibnu Sutowo sebagai salah satu tokoh paling kontroversial dalam sejarah industri minyak Indonesia.***


